Sunday, December 5, 2010

PERBAIKILAH HATIMU SEBELUM YANG LAIN…

Sah dan tidaknya amalan dhohir seorang hamba, adalah ditentukan dengan benar atau tidaknya apa yang tersembunyi di dalam hati orang tersebut.
Allah ta’ala berfirman :
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.”(At Taubah :109)
Syaikh As Sa’diy rahimahullahu menjelaskan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat tersebut, “Maksud dari membangun bangunan (amal ibadah) atas dasar taqwa adalah ‘atas dasar niat yang sholeh dan keikhlasan kepada Allah’. (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, halaman 352)
Dan beliau rahimahullah juga mengatakan : “Sesungguhnya iman (yang ada di dalam hati) merupakan syarat sah dan diterimannya amal sholeh. Dan tidaklah sebuah amal dikatakan sebagai amal yang sholeh melainkan didasari dengan iman.” (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, halaman 449)
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman” (Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 229)
Kemudian beliau melanjutkan: “Adapun pondasi tersebut mencakup dua perkara : Pertama adalah pengenalan yang baik seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seluruh perintah-Nya, nama dan kepada sifat-sifat-Nya yang mulia, dan yang kedua adalah ketundukan yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”( Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 229-230)
Oleh karena itu hendaklah seorang muslim perhatian terhadap apa yang ada di dalam hatinya, berusaha memperbaiki keimanannya dan apa yang diyakini oleh hatinya dan berusaha meninggalkan berbagai bentuk keraguan yang dapat mengurangi dan membatalkan keimannya.
Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullahu berkata, “Ulama-ulama terdahulu biasa saling mengirim nasehat satu dengan yang lainnya, ‘Barang siapa yang memperbaiki apa yang tersembunyi dalam hatinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang nampak dari dirinya, dan barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan para manusia’” (kami mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Maktabah Darul Minhaj halaman 31)
Tidaklah Allah melihat kedudukan seorang hamba, melainkan apa yang tertanam dalam hati dan buah yang muncul dari hati tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ. وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ
“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada bentuk jasad dan wajah-wajah kalian, akan tetapi Dia akan melihat pada hati kalian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dada beliau” (Hadits riwayat Muslim, no. 6542 dalam Bab Tahrimu Dzulmi Al Muslilmi wa Khudzlihi wa Ihtiqorihi wa Dammihi wa ‘Irdhihi wa Maalihi)
***

No comments:

Post a Comment