Friday, May 27, 2011

Ukhuwah Imaniyyah Muhajirin dan Anshor

Secara umum, Islam menyatakan seluruh kaum muslimin adalah  bersaudara sebagaimana disebutkan dalam. ftrman Allah surat al Hujurat/49 ayat 10, yang artinya: Sesungguhnya orang- orang mu'min adalah bersaudara. Konsekwensi dari persaudaraan itu, maka islam mewajibkan kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam al-haq. Namun yang menjadi fokus pembicaraan kita kali ini bukan persaudaraan yang bersifat umum ini, tetapi persaudaraan yang bersifat khusus antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang dideklarasikan Rasulullah saw memiliki konsekwensi lebih khusus bila dibandingkan dengan persaudaraan yang bersifat umum. Sebagaimana diketahui, saat kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah tidak membawa seluruh harta. Sebagian besar harta mereka ditinggal di Makkah, padahal mereka akan menetap di Madinah. Ini jelas menjadi problem bagi mereka di tempat yang baru. Terlebih lagi, kondisi Madinah yang subur sangat berbeda dengan kondisi Makkah yang gersang.

Keahlian mereka berdagang di Makkah berbeda dengan mayoritas penduduk Madinah yang bertani. Tak pelak, perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik menyangkut ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan juga kesehatan.Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara itu, pada saat yang sama mencari penghidupan, padahal kaum Muhajirin tidak memiliki modal.

Demikian problem yang dihadapi kaum Muhajirin di daerah baru.

Melihat kondisi kaum Muhajirin, dengan landasan kekuatan persaudaraan, maka kaum Anshar tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Kaum Anshar dengan pengorbanannya secara total dan sepenuhhatimembantu mengentaskan kesusahan yang dihadapi kaum muhajirin. Pengorbanan kaum Anshar yang mengagumkan ini diabadikan di dalam Al-Qur'an, surat al-Hasyr/ 59 ayat 9, yang artinya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa-vang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin);danmereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). 
 
Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat 9 surat al-Hasyr. Abu Hurairah ra menceritakan: Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan ke para istri beliau .Para istri Rasulullah saw menjawab: "Kami tidak memiliki apapun kecuali air". Rasulullah saw bersabda:"Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?" Salah seorang kaum Anshar berseru: "Saya," lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: "Muliakanlah tamu Rasulullah!" istrinya menjawab: "Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak". Orang Anshar itu berkata: "Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!" Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah saw, Beliau bersabda: "Malam ini Allah tertawa atau ta'ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Ta'alaa menurunkan ayat Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung .Qs. Al-Hasyr/59 ayat 9. (HR Imam Bukhari). 
 
Bagaimanapun pengorbanan dan keikhlasan kaum Anshar mambantu saudaranya, namun permasalahan kaum Muhajirin ini tetap harus mendapatkan penyelesaian, agar mereka tidak merasa sebagai benalu bagi kaum Anshar. Disinilah tampak nyata pandangan Rasulullah saw yang cerdas dan bijaksana. Beliau kemudian mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Peristiwa ini, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat terjadi pada tahun pertama hijriyah: Tempat deklarasi persudaraan ini - sebagian ulama mengatakan- di rumah Anas bin Malik,' dan sebagian yang lain mengatakan di masjid.Rasulullahr mempersaudarakan mereka dua dua, satu dari Anshar dan satu dari Muhajirin. Ibnu Sa'ad dengan sanad dari syaikhnya, al-Waqidi menyebutkan, ketika Rasulullah saw tiba di Madinah,beliau mempersaudarakan antara sebagian kaum Muhajirin dengan sebagian lainnya, dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.Rasulullah saw mempersaudarakan mereka dalam al-haq, agar saling menolong, saling mewarisi setelah (saudaranya) wafat. Saat deklarasi itu, jumlah mereka 90 orang, terdiri dari 45 kaum Anshar dan 45 kaum Muhajirin. Ada juga yang mengatakan 100, masing-masing 50 orang. Imam Bukhari meriwayatkan dari lbnu 'Abbas, ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah, kaum Muhajirin bisa mewarisi kaum Anshar karena persaudaraan yang telah dilakukan oleh Rasulullah r,sedangkan dzawil-arham (kerabat yang bukan ahli waris) tidak. 
 
Di antara contoh praktis buah dari persaudaraan yang dilakukan Rasulullah saw yaitu kisah 'Abdurrahman bin `Auf ra dengan Sa'ad bin Rabi' ra . Sa'ad ra berkata kepada `Abdurrahman: "Aku adalah kaum Anshar yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Pilihlah di antara istriku yang kau inginkan, (dan) aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa `iddahnya, engkau bisa menikahinya".Mendengar pernyataan saudaranya itu, 'Abdurrahman ra menjawab: "Aku tidak membutuhkan hal itu. Adakah pasar (di sekitar sini) tempat berjual-beli?" Lalu Sa'ad ra menunjukkan pasar Qainuqa'. Mulai saat itu, 'Abdurrahman sering pergi ke pasar untuk berniaga, sampai akhirnya ia berkecukupan dan tidak memerlukan lagi bantuan dari saudaranya.
 
4 Persaudaraan yang dijalin oleh Rasulullah saw terus berlanjut. Ketika kaum Muhajirin sudah merasa biasa, tidak asing lagi, dan sudah mengetahui cara mencari nafkah,maka Allah Ta'alaa menggugurkan syariat waris mewarisi dengan sebab tali persaudaraan seperti ini, namun tetap melanggengkan persaudaraan kaum mukminin. Allah Ta'alaa berfirman, yang artinya: Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. (Qs. al-Anfal/8 ayat 75).

Dan firman-Nya, yang artinya: Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). (Qs. al-Ahzab/33 :6). Peristiwa penghapusan saling mewarisi ini terjadi pada saat perang Badr. Ada juga riwayat yang menjelaskan terjadi pada saat perang Uhud.

        Ibnu Abbas ra menyebutkan, yang digugurkan adalah saling mewarisi, sedangkan tolong-menolong dan saling menasehati tetap disyariatkan. Dan dua orang yang telah dipersaudarakan bisa mewasiatkan sebagian harta warisannya untuk saudaranya. Inilah pendapat Imam Nawawi. Di antara bukti yang menunjukkan persaudaraan ini terus berlanjut namun tidak saling mewarisi. yaitu Rasulullah saw mempersaudarakan antara Salman dengan Abu Darda' . Padahal Salmân  masuk Islam pada masa antara perang Uhud dan perang Khandaq. Rasulullah saw juga mempersaudarakan antara Muawiyah bin Abi Sufyan dengan at-Hattat at-Tamimi    . Juga antara Jalar bin Abi Thalib  dengan Mu'adz bin Jabal. Semua peristiwa ini terjadi setelah perang Uhud, setelah syari'at waris-mewarisi dihapus antara dua orang yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw ini menunjukkan persaudaraan itu masih disyariatkan namun tidak saling  mewarisi.

Pelajaran dan Hikmah

Sikap Abdurrahman bin 'Auf ra terhadap tawaran saudaranya, yaitu Sa'ad bin Rabi' , merupakan iffah
atau menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta. Tampak kesiapan mental kaum Muhajirin untuk melakukan pekerjaan yang sanggup mereka lakukan.

Wallahu ‘Alam
Ahmad Zaki

Thursday, May 26, 2011

Mereka adalah orang yang sia-sia amalnya ..........

Mukadimah

                Beramal adalah perintah agama, yaitu amal yang baik-baik. Amal itulah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan yang membedakan kedudukannya di akhirat kelak. Lalu, semua  manusia akan ditagih tanggung jawabnya masing-masing sesuai amal mereka di dunia.

                Allah Ta’ala berfirman tentang kewajiban beramal:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Ber-amalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah (9): 105)

Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang beramal shalih:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا
 Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) .  (QS. Thaha (20): 74)

Allah Ta’ala berfirman tentang tanggung jawab perbuatan manusia:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al Muddatsir (74): 38)
                
 Allah Ta’ala berfirman tentang baik dan buruk amal manusia akan diperlihatkan balasannya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ   وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  
                Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.  dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah (99): 7-8)

                Demikianlah, keadaan manusia di akhirat kelak tergantung amalnya di dunia.


Beramal tetapi Sia-Sia

                Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa manusia yang melaksanakan amal shalih, akan mendapatkan balasan kebaikan untuknya, walau kebaikan itu sebesar dzarrah. Namun, Allah Ta’ala juga menyebutkan adanya manusia yang bangkrut dan sia-sia amalnya, lenyap tak memiliki manfaat bagi pelakunya, karena kesalahan mereka sendiri. Siapakah mereka?

  1. Orang Kafir
Banyak ayat yang menyebutkan kesia-siaan amal mereka. Walaupun manusia memandangnya sebagai amal shalih, tetapi amal tersebut tidak ada manfaatnya bagi mereka karena kekafiran mereka kepada Allah dan RasulNya, dan syariatNya pula.

Di sini, kami akan sebutkan beberapa ayat saja:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi (18): 103-105)

Yaitu mereka telah mengingkari Al Quran dan tanda-tanda kebesaranNya, mengingkari hari akhir dan hisab. Mereka menyangka itu adalah perbuatan baik, padahal itu adalah kekufuran yang membuat terhapusnya amal-amal mereka.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ditanya oleh anaknya sendiri, siapakah yang dimaksud ayat  (Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"):
أهم الحَرُورية؟ قال: لا هم اليهود والنصارى
Apakah mereka golongan Haruriyah (khawarij)? Beliau menjawab: “Bukan, mereka adalah Yahudi dan Nasrani.” (Riwayat Bukhari No. 4728)

Dalam ayat lain:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqan (25): 23)

Dalam ayat lain:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An Nuur (24): 39)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

فهو للكفار الدعاة إلى كفرهم، الذين يحسبون أنهم على شيء من الأعمال والاعتقادات، وليسوا في نفس الأمر على شيء، فمثلهم في ذلك كالسراب الذي يرى في القيعان من الأرض عن  بعد كأنه بحر طام

Ini adalah bagin orang kafir yang menyeru kepada kekafiran mereka, yaitu orang-orang yang menyangka bahwa mereka beruntung dengan amal dan keyakinan mereka, padahal urusan mereka itu bukanlah apa-apa, perumpamaan mereka itu seperti fatamorgana yang dilihat di tanah datar dari kejauhan seolah seperti lautan  yang amat luas. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/70)

Para ulama telah membuat klasifikasi (ashnaaf) kaum kafirin sebagai berikut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kisani Rahimahullah:
صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى  
Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).

Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.

Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.

Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. (Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Al Mughni, 8/263)

  1. Orang Musyrik
Amal shalih orang musyrik juga akan sia-sia karena kesyirikan yang dia lakukan. Hal ini diterangkan beberapa ayat, kami sebutkan satu saja:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am (6): 88)

Imam Abul Farj bin Al Jauzi Rahimahullah menjelaskan:
أي : لبطل وزال عملهم ، لأنه لا يقبل عمل مشرك
Yaitu benar-benar sia-sia dan lenyap amal mereka, karena Dia tidak menerima perbuatan orang musyrik. (Zaadul Masir, 3/271. Mawqi’ At Tafasir)

 Syaikh As Sa’di Rahimahullah menjelaskan:
{ لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } فإن الشرك محبط للعمل، موجب للخلود في النار
(niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan) karena syirik menghapuskan amal, dan membuat kekekalan di neraka. (Taysir Al Karim Ar Rahman, Hal. 263. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah)

Musyrik di sini adalah orang yang telah melakukan kesyirikan yang besar (syirk akbar) yang membuat pelakunya menjadi murtad dari Islam. Kelompok inilah yang membuat semua amalnya sia-sia.  Ada pun kesyirikan kecil (syirk ashghar) yang tidak membuat pelakunya menjadi murtad, dan dia melakukan karena kebodohan, maka amal yang ditolak hanyalah amal syiriknya itu saja, tidak melenyapkan semua amalnya yang lain. Sebab orang ini masih muslim, belum keluar dari Islam.

  1. Orang Yang Murtad dari Islam
Orang yang murtad dari Islam, baik dia sengaja memproklamirkan kemurtadannya, atau dia melakukan perbuatan yang membuatnya murtad, walau dia tidak mengakui dilisannya, maka semua amal shalihnya menjadi sia-sia. Hal ini langsung Allah Ta’ala firmankan dalam Al Quran dalam beberapa ayat, di antaranya:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Wednesday, May 25, 2011

Al-Wafa (Memenuhi Janji)

1. Dalil-dalil tentang tepat janji

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [٢:٤٠]

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. Al-Baqarah: 40)


Israil adalah sebutan bagi nabi Ya’qub. Bani Israil adalah turunan nabi Ya’qub; sekarang terkenal dengan bangsa Yahudi.  Janji Bani Israil kepada Tuhan ialah: bahwa mereka akan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta beriman kepada rasul-rasul-Nya di antaranya nabi Muhammad SAW sebagaimana yang tersebut di dalam Taurat.

۞ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ [٢:١٧٧]

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 177)

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ [٥:١]

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.(QS. Al-Maidah: 1)

Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا [١٧:٣٤]

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa’: 34)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ [٦١:٢]
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ [٦١:٣]

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. AS-Shaf: 2-3)

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانِ مُنَافِقاً خَالِصاً، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni dan barangsiapa terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya; jika diberi kepercayaan ia berkhianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia jahat.” (Muttafaq Alaihi).

إِذَا حَدَثَ كَذِبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Muttafaq Alaihi). Ditambahkan dalam riwayat Muslim, “Kendatipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku sebagai orang Muslim.”

Jabir RA bercerita,

قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم:  لَوْ قَدْ جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا فَلَمْ يَجِئْ مَالُ الْبَحْرَيْنِ حَتَّى قُبِضَ النبيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم، فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ أَمَرَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ فَنَادَى:  مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم عُدَّةٌ أوْ دَيْنٌ فَلْيَأْتِنَا. فَأَتَيْتُهُ وُقُلْتُ: إِنَّ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال لي كذا وكذا، فَحَثَى لِي حَثْيَةٌ فَعَدَدْتُهَا فَإِذَا هِيَ خَمْسُمِائَةٍ فقال: خُذْ مِثْلَيْهَا

“Nabi berkata kepadaku, ‘Kalau harta Bahrain datang aku akan memberimu segini, segini, dan segini.” Ternyata harta Bahrain tidak pernah datang hingga beliau meninggal. Lalu ketika harta Bahrain itu datang Abu Bakar menyuruh orang untuk memanggil, ‘Barangsiapa yang mempunyai piutang kepada Rasulullah hendaknya datang kepada kami niscaya aku akan membayarnya. Aku berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah berkata kepadaku begini dan begitu. Kemudian ia mengambil satu genggam untukku dan aku menghitungnya. Ternyata ia berjumlah lima ratus. Abu Bakar berkata lagi, “Ambillah dua gini lagi.” (Muttafaq Alaihi).


– Bersambung (hdn)

2. Sifat Positif Menepati Janji

Menepati janji merupakan:

a. Kewajiban syar’i, baik terhadap sesama muslim maupun antara muslim dan non-muslim. Contoh perjanjian antara muslim dan non-muslim di masa Rasulullah SAW adalah

1) Piagam Madinah antara umat Islam dan Yahudi
2) Perjanjian Hudhaibiyah

Termasuk di dalam masalah ini adalah menepati waktu perjanjian, sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 4 dan hadits Rasulullah SAW:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوْ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ketahuilah barangsiapa yang menzhalimi orang yang mendapat suaka atau menghinanya atau memberi beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaannya, maka saya adalah penuntutnya di hari kiamat” (HR Abu Dawud)

b. Akhlak yang utama (فضائل الأخلاق)
c. Ciri tingginya peradaban (روائع الظواهر الحضارية)
d. Sifat-sifat Mu’min dan Ulul-albab (صفات المؤمن وأولى الألباب)
e. Merupakan jenis kebajikan (البر)
f. Merupakan akhlak imaniyah (الأخلاق الإيمانية)
g. Akhlak para Nabi dan Rasul (أخلاق الأنبياء والمرسلين). Contohnya pada kisah Nabi Ismail:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا [١٩:٥٤]


Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi. (QS. Maryam: 54)

Sifat menepati janji ini menurun ke Bangsa Arab.
h. Seruan agama yang Robbani (دعوة دين الربانى)

3. Janji-janji yang sering dibuat oleh seseorang

a. Janji kepada keluarga, (anak dan  istri)
b. Janji kepada bawahan atau orang yang levelnya lebih rendah dari dirinya dalam suatu unit pekerjaan, dsb.
c. Janji kepada teman sejawat/sebaya
d. Janji kepada rekanan bisinis
e. Janji kepada orang-orang tertentu sesuai profesi atau lingkungan masing-masing.

– Bersambung

4. Kisah-kisah Tepat Janji

a. Menepati janji dalam membayar utang

 Rasulullah berkisah: Ada seorang Bani Israil (A) yang meminjam 1000 dinar kepada salah seorang dari Bani Israil (B).

Si B meminta A untuk mendatangkan saksi. Si A berkata: Cukuplah Allah sebagai saksi. Si B meminta ditunjukkan kafil (penjamin). Si A menjawab cukuplah Allah sebagai penjamin.
Si B percaya dan ia berikan 1000 dinar itu, sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama.
Lalu si A pulang ke kampungnya di seberang sana. Ia kumpulkan uang hingga cukup jumlahnya sampai batas waktu pembayarannya.

Ketika jatuh tempo itulah si A mencari kapal penyeberangan untuk membayar utangnya. Tetapi tidak ada kapal penyeberangan hari itu.

Akhirnya si A mengambil sebatang kayu, ia lubangi kayu itu dan ia masukkan 1000 dinar pinjamannya itu disertai pesan kepada saudaranya di seberang. Ia ceburkan kayu itu ke laut, disertai doa:

”Ya Allah Engkau Yang Maha Mengetahui, bahwa saya pernah berutang 1000 dinar kepada seseorang, ketika ia meminta jaminan, saya katakan: “Cukuplah Allah sebagai penjamin” dan ia menerima. Ketika ia meminta saksi, saya katakan: “Cukuplah Allah sebagai saksi” dan ia pun menerima. Dan sekarang saya sudah berusaha mencari penyeberangan untuk membayarkannya, tetapi saya tidak menemukannya, maka sekarang saya titipkan ini kepadamu Ya Allah”.

Setelah itu ia pergi sambil mencari kapal yang bisa menyeberangkannya.
Si B yang dijanjikan dibayar pada hari itupun keluar ke pantai menunggu kapal yang datang, menjemput Si A yang meminjam uang kepadanya.

Kapal tidak ada yang merapat. Akhirnya ia memutuskan pulang.
Ketika hendak pulang itulah ia melihat kayu mengapung. Daripada pulang dengan tangan kosong ia ambil kayu itu, siapa tahu berguna untuk kayu bakar.

Sesampai di rumah kayu itu ia belah untuk dijadikan kayu bakar. Ketika dibelah, ditemukanlah 1000 dinar dan catatan dari si A di seberang.

Si A yang terus berusaha mencari kapal penyeberangan akhirnya menemukannya. Dan berhasil menyeberang ke rumah si B.

Sesampainya di rumah B, si A menyodorkan 1000 dinar, dengan mengatakan: “Demi Allah, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kapal penyeberangan guna membayar utang, dan saya tidak menemukannya kecuali hari ini.

Kata si B. “Tidakkah kamu telah mengirimkannya kepadaku?
Kata A: “ Bukankah telah saya katakan bahwa saya tidak mendapatkan kapal penyeberangan.
Kata si B:”Sesungguhnya Allah telah menyampaikan kepadaku apa yang engkau letakkan di dalam kayu bakar. (Ibn Katsir, 1: 447)

b. Abdullah bin Amir


Abdullah bin Amir berkata, ”Suatu hari ibuku memanggilku sedangkan Rasulullah sedang duduk di rumah kami, maka ibuku berkata, ’Hai, kemari, akan kuberi kamu’ Maka Rasulullah berkata kepada ibuku, ’Apakah engkau mau memberinya?’ Ibuku menjawab, ’Aku mau memberinya kurma’ Berkata Rasulullah, ’Apabila engkau tidak memberinya sesuatu sungguh akan ditulis sebagai kebohongan.” (HR. Baihaqi dalam Syu’banul Iman)

Pelajaran dari kisah ini: Jika kita melakukan itu kepada anak-anak sedangkan yang sebenarnya tidak ingin memberinya, maka berarti
- mengajarkan kebohongan
- mengajarkan untuk tidak menepati janji
- mendorong untuk tidak tsiqah

c. Abdullah bin Abil Hasma


Aku berjual-beli dengan Nabi SAW sebelum bi’tsah, aku menyisakan kembalian pada beliau, lalu aku berjanji akan membawanya di suatu tempat, tapi aku lupa. Aku ingat setelah tiga hari kemudian, lalu aku mendatangi tempat itu dan aku dapati beliau ada di tempat itu. Beliau berkata, ”Sungguh engkau telah menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari menunggumu” (HR. Abu Daud)

d. Jabir bin Abdillah


Jabir bin Abdillah berkata, ”Ketika meninggalnya Rasulullah SAW dan datang kepada Abu Bakar harta benda dari Hadhrami, maka berkata Abu Bakar, ’Siapa yang memiliki piutang kepada Nabi SAW atau pernah dijanjikan sesuatu oleh beliau, datanglah kepada kami’ Maka Jabir berkata, ’Aku pernah dijanjikan Nabi akan diberi ini, ini, ini” sambil membentangkan tangannya tiga kali. Jabi berkata, ’Maka Abu Bakar memberikan 500’. Abu Bakar berkata, ’Ambil lagi yang sebanyak itu!’ (HR. Bukhari-Muslim)

e. Ibnu Juhaifah dan Abu Bakar


Abi Juhaifah pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW akan diberi 13 qulush (unta betina muda) lalu aku mendatanginya, tapi beliau wafat hingga aku tidak diberi apapun. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, beliau berkata, ’Siapa yang memiliki janji dengan Rasulullah Saw, datanglah kepadaku.’ Maka aku berdiri dan memberitahukannya lalu beliau memerintahkan untuk memberi kepada kami.” (HR. Tirmidzi)


5. Kewajiban tepat janji dan ancaman bagi yang tidak menepatinya

a. Tidak menepati janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda: “Ada empat hal jika ada pada seseorang maka jadilah ia munafik tulen, dan jika ada sebagiannya maka ia memiliki ciri-ciri kemunafikan, hingga ia bisa meninggalkannya. 1). Jika dipercaya ia berkhianat, 2). Jika berbicara ia berdusta, 3). Jika berjanji mengingkari, 4). Jika berdebat ia curang.” (Muttafaq alaih)

b. Menjadi musuh Allah di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman ”Ada tiga orang yang menjadi musuhku di hari kiamat:1). Orang yang menjanjikan pemberian lalu mengingkari, 2). Orang yang menjual orang merdeka lalu ia makan hasilnya, 3). Orang yang mempekerjakan seseorang dan telah memenuhi permintaannya lalu tidak dibayarkan upahnya.” (HR. Al Bukhari)

c. Salah satu bentuk kezhaliman. Rasulullah saw bersabda: “Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran utang adalah perbuatan zhalim….” (Muttafaq alaih)

– Selesai
(hdn)

Tuesday, May 24, 2011

Upaya Menyadarkan Manusia Kafir Lebih Sulit dari Membinasakannya

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaithon- syaithon itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena Sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (Qs. Maryam : 83-84)

Seandainya Allah tidak menciptakan syaithon, tentu dengan izinNya manusia tidak akan ada yang kafir kepada Allah. Oleh karena kita selaku umat muslim dilarang bertindak tergesa-gesa atau premature menghadapi berbagai perilaku buruk orang kafir. Bukankah Allah telah menegaskan bahwa Dia telah mengutus syaithon kepada orang-orang kafir, menghasung untuk berbuat maksiat dengan sungguh – sungguh.

Maka dari itu dakwah untuk menyadarkan manusia yang ingkar pada Allah agar mau tunduk dan taat pada tuntunanNya, adalah jauh lebih sulit dilaksanakan dibandingkan tindakan terburu – buru untuk membinasakan mereka.

Syaithon adalah misi penguji bagi manusia berupa kalam syar (Qs.113:2) yang merupakan lawan dari kalam wahyu yang diciptakan Allah. Bisikannya berupa hawa (Qs.45:23) yang ditiupkan secara terus menerus ke nafsu manusia oleh iblis (Qs.4:118), tiada kenal henti sampai datangnya hari kebangkitan (Qs.15:36-39). 

Sedangkan kalam wahyu tempat penerimaannya pada hati manusia (Qs.8:24). Oleh karena itu aktivitas mengajak manusia ke jalan Allah harus terus menerus dilakukan oleh para da’i secara berkesinambungan, terpimpin, dan terprogram yang akan berbuah keberuntungan dunia akhirat (Qs.3:104).

Aisyah ra., pernah diperingatkan Rasulullah SAW akan bahaya syaithon yang bersarang pada setiap nafsu manusia. Akan tetapi hanya para Nabi dan Rasulullah saja selamat dari gangguannya karena syaithon telah dilemahkan Allah terhadap mereka.

Apabila dakwah kepada Allah berhenti maka umat akan sakit dan rusak. Bahkan rasul menyampaikan ancaman bagi umatnya yang meninggalkan tugas dakwah amr bil makruf dan nahyu ‘anil munkar, dari Abi Dzar ra., Rasul bersabda :

“Hendaklah kamu menyeru kepada al makruf (kebaikan yang di kenal dalam Kitabullah) dan mencegah manusia dari kemungkaran, atau (jika tak kamu lakukan) akan dibangkitkan Allah penguasa yang bertindak buruk kepadamu. Apabila hal itu terjadi maka mintalah kepada tokoh – tokoh pilihanmu untuk berdoa (memohon kebaikan pada Allah) sekali – kali tidak akan dikabulkan dan kamu sendiri minta ampun padaNya maka tidak akan pernah diampuni dosamu”  
(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Baihaqi)

Dalam hadits lainnya riwayat bukhari, digambarkan oleh rosul antara kaum yang berpegang teguh dengan hokum Allah dengan orang yang membelakanginya seperti penumpang kapal. Maka orang yang kafir ibarat orang yang melubangi kapal tersebut guna mendapatkan air minum secara mudah. Maka apabila tidak dicegah mereka itu tentu akan tenggelamlah kapal (negeri) dan binasalah semua penumpangnya (penduduk negeri tersebut). Sebaliknya bila dicegah keburukan mereka akan selamatlah semua.

“dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (Qs.8: 25)

Pujian Allah Bagi Dai yang menyeru Ke JalanNya

“Siapakah yang paling baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Qs.41:33).

Allah memberi sebutan Ahsan atau paling baik, bentuk kata superlative (ism tafdil) yang tiada bandingannya bagi seruan mengajak kepada jalan Allah. Namun hanya sedikit manusia yang mau menempuh jalan ini, itupun harus disaring kembali agar memenuhi criteria da’i yang ditetapkan Allah, antara lain :
  1. Ikhlas, yaitu semata – mata mengharap balasan Allah di akhirat, bukan diiringi tujuan duniawiyah seperti pujian, kedudukan, atau harta materi. Dakwah kepada jalan Allah bukanlah ladang bisnis duniawiyah, tapi transaksi hamba dengan sang Pencipta. Karena sebesar apapun bayaran yang diberikan manusia kepada para dai selama nilainya masih bisa dihitung tidak akan pernah menyamai balasan Allah berupa Jannah yang belum pernah terlintas dalam fikiran manusia besar nikmatnya. (Qs.10:72 ; 36:21). Oleh karena itu para dai harus memisahkan antara ajakan kepada hidayah dengan upaya mencari kebutuhan materi duniwiyah yang juga harus diupayakan dengan ilmu dan cara tersendiri.
  2. Strategi, yaitu dengan membangun wadah atau nidhom yang tiap personelnya telah memahami arti al Khair (kemurnian Islam) lalu melaksanakan dakwah (Qs.3:104). Bukankah Allah mencintai orang-orang mukmin yang berperang dijalanNya secara shaffan (tersusun, terpimpin, dan terprogram rapi-  Qs.61:4).
  3. Tolong - menolong dan pendelegasian tugas (Qs.9:71). Rosulullah SAW memiliki strategi dakwah yang berbeda dengan rasul-rasul sebelumnya. Beliau SAW mendidik sahabat dan sahabiyahnya lalu membangkitkan kesadaran mereka untuk melaksanakan beberapa tugas pengembangan dakwah Islam sesuai dengan kemampuan yang diberikan Allah pada mereka. Ada yang menjadi utusan dakwah ke beberapa negeri, adapula menunjang pendanaan dengan infaqnya, sebagai juru tulis dan bahasa atau staff ahli, dan seterusnya. Para mukminat pun terlibat dalam hal dakwah dan jihad dengan menginfaqkan harta dan mendukung suami serta tidak lalai terhadap mendidik generasi.
  4. Tidak tergesa – gesa dan memperhatikan rambu (Qs.49:1&7). Berhasilnya dakwah bukan diukur dengan jumlah pengikut. Akan tetapi sejauh mana para pelaku dakwah mampu menekan nafsu, keinginan / interest pribadi dan fikirannya agar termukjiz (terkendali) oleh Al Quran. Bukan diri dai yang menguasai atau mengendalikan Al Quran sehingga dapat mempolitisir ayat. Orientasi dakwahnya adalah ridho Allah dengan menyadari kerja tersebut adalah perintah Allah serta wajib mengikuti uswah hasanah dari rosulNya.
  5. Berkarakter Mujahid. Jihad maknanya antara kesungguhan dalam mengendalikan nafsu demi mentaati Allah. Adakalanya dakwah dihadang oleh musuh dengan senjata. Maka dalam perang (qital) menghadapi musuh Allah dan rosul yang merupakan bagian jihad harus dilandasi niat menjalankan perintah Allah bukan melampiaskan emosi, kemarahan dan dendam kesumat. (Qs.25:52). Akan tetapi tetap menjaga akhlaq yang agung sehingga terdapat perbedaan karakter dengan orang kafir yang tidak gentle dan gemar bertindak membabi buta. (Qs.41:34)
  6. Bertindak antisipatif bukan reaktif (Qs.29:46). Kata “billatii” yang berbentuk muanats pada ayat ini bermakna pada bukti kerja mukmin, bukan sebatas ucapan semata. Banyak “lahan” dakwah yang masih berupa “hutan lebat” yang memerlukan tangan dingin para penyeru kebenaran. Apabila lahan ini dibiarkan karena  banyak para dai yang merasa nyaman di kota besar dengan kursi empuk dan “amplop” tebal, serta sanjungan, maka jangan marah bila banyak umat Islam yang digarap atau dimurtadkan.
Itulah beberapa kutipan ayat yang kiranya dapat memotivasi kita agar ke depan lebih sungguh – sungguh mengurusi umat ini dan terus memperbaiki diri selaku makhluq yang akrab dengan kesalahan dan kealpaan. Wallahu’alam. (at)

Monday, May 23, 2011

Quran3D – Software Cantik Nan Apik Penampil al-Qur’an

Satu lagi software yang memanjakan kita dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wata’aala. Sembari kita bekerja dan kadang jenuh di hadapan komputer atau laptop kita, mendingan kita berwudhu dulu (ini dianjurkan) trus buka aplikasi yang satu ini, maka kita serasa membaca al-Quran di atas meja kecil.
Memang benar, dari namanya, tampilan aplikasi ini 100 % 3D (tiga dimensi) alias benar-benar mendekati wujud aslinya.
Kelebihan perangkat lunak ini antara lain:
  1. Portabel, jadi tidak perlu diinstal, cukup diekstrak ke dalam komputer Anda, maka langsung bisa dijalankan.
  2. Tampilan yang menawan, yang menyajikan tampilan high quality, serta sejuk di mata.
  3. Ada tombol penunjuk berdasar ayat, surat dan juz.
Kekurangan:
  1. Sebanding dengan tampilannya, aplikasi ini membutuhkan space (ruang) yang lumayan besar yaitu 40-an MB.
  2. Tidak mendukung Bookmark, yaitu apabila kita ingin membaca surat al-Baqarah, terus berhenti di salah satu ayat, maka apabila kita tutup, trus selanjutnya kita buka lagi, maka yang muncul adalah tampilan awal lagi.
  3. Kadang-kadang tidak kompatibel di komputer-komputer lama, pentium 3 ke bawah.
Screenshot:
Close
Tampilan Quran3D dari Atas
Close
Terdapat Tombol Penunjuk Surat
Close
Efek FlipBook-nya Terasa Sekali
Close
Tombol Penunjuk Juz
Berikut ini manual fitur-fitur yang ada berdasarkan tombol di atas
  1. Next dan Previous Page
  2. Tombol arah kanan kiri atas dan bawah
  3. Zoom in dan Zoom out
  4. Tombol untuk memutar sudut pandang sehingga memudahkan kita untuk membacanya.
  5. Tombol Move (memindahkan) untuk memindahkan windows (jendela) program ini.
  6. Tombol untuk memperbesar atau memperkecil ukuran windows.
  7. Tombol Navigasi penunjuk Surat.
  8. Tombol Navigasi penunjuk Juz
  9. Slider untuk memilih halaman
  10. Tombol untuk membuat program ini berada di atas dari program-program yang lain posisiwindows-nya.
Link Download:

Download di sini.

http://muslim.or.id/kolom-ti/quran3d-%E2%80%93-software-cantik-nan-apik-penampil-al-qur%E2%80%99an.html