Saturday, October 2, 2010

Masjid Agung Sunda Kelapa

Bagi Anda yang tinggal atau bekerja di seputaran Menteng, tentu tak asing lagi dengan nama Masjid Agung Sunda Kelapa. Masjid yang terletak di jalan bernama sama di Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat ini sudah berdiri kokoh selama 38 tahun. Sebagian besar warga ibukota kerap berkunjung ke sana karena masjid itu terbilang unik sekaligus mengesankan.

Dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas pada tahun 1960-an, desain interior dan eksterior masjid ini dipenuhi simbol-simbol fleksibel. Tidak kaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid. Abbas adalah arsitek lulusan Insitut Teknologi Bandung [ITB], yang mematahkan arsitektur masjid di tanah air pada umumnya. Karyanya juga dapat Anda rasakan pada Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung.

Tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Agung Sunda Kelapa tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu.

Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya.

Abbas, tak sendirian. Ia didukung para jenderal di Menteng yang menyumbangkan dana awal pembangunannya. Para jenderal merasa harus meluruskan kekeliruan sejarah atas G30S/PKI, dengan membangun sebuah masjid yang nyaman untuk pelaksanaan ibadah. Karena pembangunan tak kunjung selesai, Pemda DKI Jakarta semasa Ali Sadikin [alm], merasa harus turun tangan Pemda merampungkan pembangunannya sampai berdiri kokoh pada tahun 1970.

Menempati area 9.920 m², Masjid Agung Sunda Kelapa mampu menampung 4.424 jamaah. Ini ditunjang dengan Ruang Ibadah Utama Masjid Sunda Kelapa, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta.

Staf operasional Masjid Agung Sunda Kelapa, Rudi, bertutur, “Dengan ruangan kantor lima lantai, Masjid Agung Sunda Kelapa siap melayani umat seminggu penuh pukul 08.00-20.00 WIB. Terdapat BMT yang melaksanakanaktivitas ekonomi dan layanan kesehatan cuma-cuma bagi fakir-miskin yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika.”

Untuk keyamanan ibadah, lanjutnya, dilengkapi dengan penitipan sepatu yang siap digukanakan untuk 300 pasang, keran wudhu berjumlah 72, kakus duduk sebanyak 30, AC, dan kipas angin.
Selain itu disediakan pula layar lebar CCTV bagi yang tidak bisa melihat khatib Jum’at secara langsung, dengan sound system yang terbilang modern. Tempat parkirnya mampu menampung 500 mobil dan atau 600 motor.

Bagian lain Masjid Sunda Kelapa disediakan untuk resepsi pernikahan. Acara akad nikah biasanya di Ruang Ibadah Utama dan jamuan makan di Aula Sakinah dengan pasilitas lengkap untuk 700 orang. Sementara untuk acara rapat, tersedia ruangan yang bisa menampung 60 orang. Dan untuk acara seminar, tersedia ruangan yang bisa menampung 150 orang.

Tampaknya, pengelola Masjid Sunda Kelapa harus menunjang pelayanan umat dengan pengembangan spiritual. DR. Suwendi, bagian Keagamaan Masjid Agung Sunda Kelapa menegaskan, “Khatib Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa minimal setingkat magister. Dan materi yang disampaikannya dibagikan secara cuma-cuma sebanyak 1.500 eksemplar pada minggu depannya dalam bentuk Bulletin Masjid Agung Sunda Kelapa.”

“Masjid Agung Sunda Kelapa berusaha mengambil potret pengelolaan masjid semasa rasul. Berfungsi secara sosial dan spiritual bagi umat di sekitarnya,” akunya lagi.

Untuk mematangkan dimensi spiritual, pengelola Masjid Agung Sunda Kelapa menawarkan aneka program. Anda dapat memilih mana yang paling memung-kinkan untuk diikuti. Setiap hari terdapat pengajian dengan materi-materi pokok ke-Islam-an.

Bagi yang biasa melaksanakan puasa Senin-Kamis, Masjid Agung Sunda Kelapa menyediakan buka puasa cuma-cuma yang disusul dengan pelaksanaan penga-jian. Yang paling spektakuler adalah program ‘Itikaf. Program ini, berbentuk aktivitas berdiam diri di masjid dalam waktu yang telah ditentukan. Pada 27 Ramadhan lalu, pesertanya mencapai 4.000 orang. Semua ruangan dijejali ja-maah yang duduk khusus melantunkan dzikir dan do’a.

Selepas shalat Jum’at, rasa lapar-dahaga Anda dapat dipuaskan dengan ragam jajanan yang ada di sekeliling masjid. Menu yang ditawarkan adalah makanan khas tanah air. Jangan berharap menemukan makanan siap saji layaknya di mal.

Makanan yang paling sering dipesan adalah tongseng. Daging kambing dimasak dengan tambahan kol, bawang putih, cabe, merica, dan tomat. Cara masaknya sangat menggoda lidah. Baunya terhirup sedap karena direbus dengan ketel di atas perapian arang batok kelapa, yang dikipas anyaman bambu.

Anda akan cukup puas dengan merogoh kocek Rp. 10.000 untuk semangkok tongseng dan sepiring nasi. Untuk mengusir rasa dahaga sehabis makan tongseng, pilihan pertama adalah minuman es kelapa seharga Rp. 5.000,- atau teh botol seharga Rp. 2.500,-.

Biasanya, orang berkerumun memesan tongseng ditemani asap dari perapian. Sementara yang lainnya berjejer memenuhi deret kursi sambil menyantap tongseng ditemani es kelapa atau teh botol. Tongseng ternyata tak hanya ramai dikunjungi pembeli pada hariJum’at. Penjual tongseng biasanya pulang lebih awal di antara penjual makanan lainnya.

Bagi jamaah yang ingin cepat pulang, tapi perut harus tetap terisi, bisa memesan Selendang Mayang dengan harga Rp. 2.000,-. Makanan khas Betawi ini, terbuat dari tepung beras. Baunya harum dan berwarna hijau muda, karena racikannya bercampur daun suji. Dihidangkan dengan santan kelapa, gula, dan sedikit es batu.

Bagi yang merasa dahaga tapi dompetnya sedang tipis, tak perlu berkecil hati. Sambil tersenyum ramah, Sales Promotion Girl produsen minuman akan menawarkan minuman dingin secara cuma-cuma. Mereka kerap berjejer di bibir pintu gerbang, selepas shalat Jum’at.

Jika Anda tengah berada di bilangan Menteng, jangan ragu untuk shalat Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa. Di sana, Anda akan shalat Jum’at dengan nyaman sekaligus dimanjakan beragam jajanan yang murah dan memuaskan.

( sumber diambil dari Alif Magazine )


Visi dan Misi
Meningkatkan faham, pengertian dan penerapan ajaran-ajaran Islam, diantaranya dengan jalan penanaman jiwa tauhid dan mempergiat serta mengintensifkan pendidikan/pengajaran agama Islam termasuk tabligh-tabligh, dakwah-dakwah dan kegiatan lainnya. (AD/ART MASK, Pasal 2 - Maksud dan Tujuan)





Susunan Pengurus MASK 2005 - 2010 
Dewan Kehormatan 
1. Walikotamadya Jakarta Pusat
2. H. Try Sutrisno
3. DR. Ing. H. Fauzi Bowo
4. H. Wiyogo Atmodharminto
5. H. Husein Soeropranoto
6. H. Soedjana Saleh
Dewan Pakar
1. Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, MA
2. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
3. DR. H.M. Masyhoeri M. Naim, MA
4. DR. KH. Zakky Mubarak, MA
5. Drs. KH. Saifuddin Amsir
6. Drs. KH. A. Nur Alam Bakhtir
Pengurus

Ketua Umum
H. Sjaiful Hamid
Wakil Ketua
H. Erwal Gewang
Sekretaris Umum
Dr. Ir. H. Irwan Adi Ekaputra, MM
Wakil Sekretaris
H. Zamriful
Bendahara Umum
Hj. Nurul 'Aini S. Gatam
Wakil Bendahara
Drs. H. Fathurin Zen, SH, M.Si

Struktur Organisasi Pelaksana 
1. Kordinator Pelaksana
H. Asril Zainuddin
2. Kepala Bidang Pendukung Operasi
Adhi Laksono
3. Kepala Bidang Keagamaan
Dr. H. Suwendi MAg
         Bagian Dakwah dan Kajian Islam
H. Suwendi, M.Ag
         Bagian Ibadah Mahdoh
H.M. Amir Jufri, S.Ag
         Bagian Majlis Taklim
Hj. Euis K. Syarbanu
         Bagian KBIH
Drs. H. Fathurin Zen, SH, M.Si
         Bagian Zakat Infaq Shadaqah
Hanifa Busra
4. Kepala Bidang Sosial
-
         Bagian Pembinaan Institusi
-
         Bagian Pembinaan Individu
Hanifa Busra
         Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA)
Eko Yuniarto
5. Kepala Bidang Usaha
Ir. H. Fahmi Askar
         Bagian Jasa Property
Ir. H. Fahmi Askar
         Bagian Perdagangan/Koperasi
Rudin Kurniadi
         Bagian Sekolah & Pend. ISlam
Drs. H. M. Kamil M.Si
         Bagian Jasa Pelatihan
Drs. Sutrisno, MM
http://masjidagungsundakelapa.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=48&Itemid=60


H Zamriful: 'Kuncinya Menjaga Kepercayaan Jamaah'




Sulit rasanya mencari waktu sepi di Masjid Sunda Kelapa (MASK) yang terletak di kawasan elit Jalan Taman Sunda Kelapa No 16 Menteng Jakarta Pusat, terutama selama bulan suci Ramadhan. Sejak shubuh, dluha, dzuhur, ashar bahkan hingga shalat tarawih, antrian panjang mobil terlihat di masjid ini. Bahkan untuk shalat tarawih, tak sedikit jamaah yang harus memarkir kendaraannya puluhan meter dari masjid, karena sulitnya mencari tempat parkir di sekitar masjid.


Semarak amaliyah Ramadhan sudah dimulai sejak shubuh. Beranjak siang, ada ceramah dzuhur yang diadakan selama setengah jam sejak pukul 12.00-12.30, dan tadarus Alquran setengah jam pukul 15.30-16.00. Pengajian tematik -- fikih, hadis, tasauf, sejarah Islam, tafsir -- dan pengajian umum dilangsungkan setelahnya, yaitu 16.00-18.00. Setelah buka bersama, diselenggarakan shalat tarawih.
Antara waktu dluha dengan dzuhur, tak sedikit karyawan, sopir taksi maupun masyarakat umum yang sengaja i'tikaf sambil tadarus Alquran. Jumlah jamaah di setiap kegiatan bukan puluhan, tapi ratusan. Jamaah shalat tarawih, misalnya, tak pernah kurang dari angka 500 orang. Mereka datang dari segala penjuru Jakarta, bahkan dari pinggiran Jakarta, seperti Bogor dan Pamulang. Mengapa jamaah begitu antusias?


''Kita senantiasa memberikan kepercayaan kepada jamaah bahwa apa yang mereka berikan kepada masjid, kita kembalikan lagi kepada jamaah. Sikap ini yang ditularkan Ketua Umum MASK H Sjaiful Hamid kepada seluruh pengurus dan petugas,'' tegas H Zamriful yang dipercaya sebagai Koordinator Pelaksana MASK kepada Republika, Senin (10/10), di Masjid Sunda Kelapa. Berikut ini petikan wawancara lengkap dengan pensiunan karyawan Pertamina tersebut:


Apa saja kiat agar kegiatan mesjid tetap hidup dan semarak?

Pertama, bagaimana memberikan kepercayaan kepada jamaah bahwa apa yang mereka berikan kepada masjid kita kembalikan lagi kepada jamaah. Misalnya, kita mengadakan kajian, maka uang yang dipungut dari kotak infak kita kembalikan lagi kepada mereka dalam bentuk buku yang berisi ceramah tersebut. kedua, kita menghadirkan penceramah-penceramah yang kapabel. Nah, jamaah merasakan dari apa yang dia berikan kita kembalikan lagi kepada mereka. Jadi, masjid dalam hal ini tidak mencari untung.



Pengurus betul-betul menjadi pelayan jamaah, ya?

Betul. Dari segi pelayanan misalnya, jamaah selalu kita berikan buku-buku hasil ceramah dari mubaligh-mubaligh minggu lalu. Jadi, kita nggak mengambil pungutan lagi. Semua berasal dari infak yang mereka berikan melalui kotak amal dan ada juga dari sedekah yang mereka sampaikan.



Penyusunan program Ramadhan di Masjid Sunda Kelapa sendiri bagaimana?

Untuk kegiatan Ramadhan, setahun sebelumnya sudah kita susun agenda acaranya, mubalighnya sudah kita hubungi kalau dia setuju tinggal kita berikan jadwalnya kepada mereka. Selama ini alhamdulillahjadwal mereka tepat waktu. Kita betul-betul memberikan jadwal kepada mereka jauh hari sebelumnya. Kita berikan kepercayaan kepada mereka dan mereka pun merasa yakin kepada pengurus masjid bahwa dia tidak akan kecewa dengan Sunda Kelapa.



Seperti pengajian Dzuhur atau Ashar, bagaimana menarik begitu banyak jamaah untuk hadir?

Ya. Karena kita pilih penceramahnya berkualitas. Dengan kualitas penceramah, otomatis ini yang menarik para jamaah untuk datang di setiap kajian kita. Promosi kita melalu spanduk-spanduk dan brosur yang ditempelkan di masjid.



Masjid Sunda Kelapa memiliki jamaah inti?

Jamaah tetap kita ada sekitar 3.500, tapi masih akan terus bertambah. Kebetulan belum lama ini memberikan angket kepada jamaah untuk diisi dan masih terus berdatangan yang mengisi angket.



Materi apa yang paling diminati oleh jamaah? 

Yang paling digemari yaitu materi tafsir, 
asmaul husna, dan sejarah nabi yang disampaikan Prof DR Quraish Shihab dan Abdul Qodir.



Audiensnya dari mana saja?

Kebanyakan dari luar kawasan Menteng. Kalau untuk warga Menteng paling-paling antara 10 sampai 15 persen. Selebihnya ada yang dari Bandung, Sukabumi, dan daerah lain, terutama untuk yang kajian Ahad. Kalau Ramadhan, jamaah ada yang datang dari Depok, Bekasi, Bintaro, Pondok Labu, dan wilayah lainnya di sekitar Jakarta.



Apa kendala dengan membludaknya jamaah?

Kendala kami hanya pada lahan parkir. Tapi, kami sudah melakukan kerjasama dengan Walikota Jakarta Pusat untuk urusan parkir di luar di sekeliling masjid itu diatur pihak mereka dan juga kita mendapatkan pengamanan. Selain itu dari segi keamanan. Misalnya, beberapa hari yang lalu ada barang-barang jamaah yang hilang. Tapi, kita melakukan kerjasama dengan pihak kepolisian yang berjaga setiap ada pengajian. Jadi, komunikasi dengan aparat keamanan kita jalin. Dari pihak masjid setiap malam ada dua orang yang piket menjaga keamanan. Untuk shalat tarawih ada dua orang yang bertugas mengawasi.



Ada standar khusus dalam menentukan penceramah?

Itulah poin bagi Sunda Kelapa. Kita mencari penceramah yang berkualitas sehingga dengan kualitas yang baik. Dengan begitu, jamaahnya pun mendengar dan menyimak dengan baik. Kualitas penceramah mendongkrak jumlah jamaah sehingga infak yang kita terima makin banyak hasilnya. Di samping pelayanan kita, setelah acara selesai para petugas langsung membersihkan tempat acara.



Berapa jumlah karyawannya untuk mengurus kegiatan masjid ini?

Untuk petugas kebersihan saja sekitar 25 orang jadi mereka bergiliran. Khusus bulan Ramadhan, mereka menginap di masjid. Mereka kita atur ke dalam dua shift.



Bagaimana dengan distribusi zakat, infak, dan sedekah?

Untuk zakat sampai hari ini sudah kita terima lebih dari Rp 500 juta, terutama dari zakat mal. Selain mengurus kegiatan pengajian yang diadakan setiap hari, Masjid Sunda Kelapa juga punya anak asuh sebanyak 200 orang dengan mentor atau guru pembimbing sebanyak 25 orang. Kegiatan mereka setiap hari selama Ramadhan dari tanggal 1 sampai 30 Ramadhan dari pagi hingga pukul 14.00 WIB. Mentor itu kita berikan khusus uang kesejahteraan selain mendapatkan makanan untuk berbuka puasa setiap hari.



Tampaknya hampir seluruh kegiatan di Masjid Sunda Kelapa ini selalu dipadati jamaah. Apa kunci suksesnya?

Seperti yang saya katakan dimuka bahwa orang tertarik dengan pelayanannya, kenyamanan, kebersihan. Sajadahnya semua adalah sumbangan dari jamaah. Sound system baru kita beli delapan bulan yang lalu sekitar Rp 60 jutaan. Itu semua dari jamaah. Di sini ada Diska atau Pendidikan Sunda Kelapa, semacam anak taman kanak-kanak dan baru kemarin saya tutup karena menjelang Ramadhan. Masjid ini juga diminta oleh para jamaah untuk menyediakan mobil jenazah.



Bagimana pengaturan petugasnya?

Kita punya tiga orang imam tetap terbaik dengan status karyawan. Mereka mendapatkan gaji di samping itu mendapat tunjangan sekolah bagi anak-anak mereka. Muadzin juga mereka secara bergiliran. Mereka ada tempat tinggal khusus, tempat tidur dan kamar mandi khusus. Imam shalat tarawih mereka juga, tapi kami berikan tips khusus. Kemarin kita adakan kursus ibu-ibu dan bapak-bapak, kita pilih yang terbaik dan yang mau untuk siang dan malam stand by di sini.



www.republika.co.id

No comments:

Post a Comment

Post a Comment