Monday, May 12, 2014

The Power Of Dzikir

Ali berkata: Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dirasakan tangannya. Maka Fathimah mendatangi Nabi ingin meminta pembantu dari beliau, tapi ia tidak bertemu dangan beliau. Dia bertemu dengan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Saat Nabi tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata: 

"Tetaplah di tempatmu". 
Lalu beliau duduk di tengah kami, hingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. 

Beliau berkata: "Ketahuilah, aku akan ajarkan kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku, Jika kalian hendak tidur maka bertakbirlah 34x, berrtasbihlah 33x dan bertahmidlah 33x, maka Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu". HR. Bukhari

Wahai saudariku,inilah solusi nabawi saat Fatimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan, karena dzikir yang dilafazkan dengan lisan dan diresapi di dalam qolbu serta diamalkan dengan anggota badan akan memberikan kekuatan ke dalam jiwa & raga kita saat kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah kita, kita akan lebih bersemangat dan bertenaga serta mengerjakan seluruh tugas kita dengan penuh keikhlasan_ingatlah seberat-berat sebuah pekerjaan jika kita lakukan dengan ikhlas maka akan terasa ringat & nikmat.

Hadits inipun memberikan pelajaran kepada kita bahwa amalan akhirat jauh lebih berharga dibanding amalan dunia.

Referensi:
Hasyiah assindi ala shahih bukhari
Fathul bari
Syarah shahih bukhari libni batthal, dll

http://salamdakwah.com/baca-artikel/the-power-of-dzikir.html

Al Furqon Berarti Pembeda

Petunjuk Firman

Bahwa Allah dengan petunjukNya yang tersurat dalam surah al Furqon ayat 1, yaitu :

“Maha Berkat Allah yang telah menurunkan al Furqon atas hambaNya (Muhammad) agar supaya menjadi ancaman bagi ummat seluruh alam”.-

Ayat tersebut sangat tegas dan lugas serta jelas dalam keterkaitannya masalah manusia dan kemanusiaan perihal perjalanan hidupnya, mengingat Allah telah menetapkan tentang keberadaan manusia bahwa mereka itu terdiri “manusia Kafir dan manusia Mukmin” dalam al Quran surah at Taghobun ayat 2. Dan peringatan tersebut wajib menjadi “dasar pemahaman bagi Mukmin” yang dengan itu sudah pasti terjadi “sifat dan sikap bertentangan atau antagonisme” dalam segala pola kehidupannya, baik secara istilah dan ataupun secara pembuktian sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Isro ayat 45 dan ayat 46.

Analisa Dalil

Bahwa sebenarnya penting sebagai pengajaran untuk ditelaah secara seksama, tentang pola dan arah dari dua golongan manusia, yaitu :

A. Golongan Kafir adalah mereka yang menjadi dasar pandangan hidupnya adalah hawa nafsu yang menjadi budak syaithon, sehingga mereka hanya menggunakan “ro’yun bathil” yang berpola dasar kepada “Hukum Sebab Akibat” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 23 dan ayat 24. Dengan yang tersebut maka :

a. Sikap kerinduan mereka hanya dikendalikan oleh al fikr yaitu fikiran, al wijdan yaitu perasaan, dan al irodah yaitu kemauan, sehingga akan memunculkan suatu kepercayaan yang hanya sebatas rekayasa hasil budi daya manusia yang disebut AGAMA (bahasa Jawa kawi yang berarti A adalah tidak dan GAMA adalah kocar-kacir maka menjadi tidak kocar-kacir) dan tidak ada hubungan dengan masalah Akherat kecuali hanya sebatas duga-duga sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Nuh ayat 21 sampai dengan ayat 24.

b. Pandangan hidupnya berkisar masalah kehidupan duniawiyah semata, sehingga kalaupun berfikir masalah keummatan juga pasti dikendalikan oleh hawa nafsunya dan pasti akan mengalami Dehumanisasi, dengan sebuah sistem dari hasil budidaya manusia yang telah muncul pada 400 tahun SM, yang menjadi pedoman hidup bagi bangsa-bangsa Barat dan dikenal dengan istilah Politea atau Politik, didalam al Quran Allah perkenalkan dengan sebutan “Jibti wa Thoghut” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nisa ayat 51 sampai dengan ayat 54; Inilah karya Plato yang oleh Dunia Barat dianggap sebagai bimbingan hidup. Dan penyerangan terhadap Plato dianggap sama dengan serangan terhadap basis kultur dan falsafah Barat.

B. Golongan Mukmin adalah orang-orang yang mendapatkan “Hidayah Iman” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Yunus ayat 100 dan hatinya sepenuhnya menerima “Nur Islam” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 22. Dengan itu maka senantiasa menyatakan “sami’na wa atho’na” terhadap segala seruan untuk mentho’ati Allah dan RasulNya sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nur ayat 51. Suatu kesadaran yang mutlaq tentang keberadaan ad Din kepunyaan dan dikirim Allah Yang Maha Mengatur sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Ali Imron ayat 19 dan ayat 85; Dengan yang tersebut maka :

a. Tuntutan yang paling utama dalam penerimaan ad Din adalah memelihara kebersihan ad Din itu sendiri, manakala telah berada dalam pelukan hambaNya, kemudian dalam seluruh aktifitas hidupnya wajib menjadikan ad Din sebagai pedoman dan pandangan utamanya, sehingga tidak melumuri ad Din dengan segala kotoran yang berasal dari rekayasa hasil budidaya manusia itu sendiri sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 3.

b. Dengan keberadaan perintah untuk menggelar Syari’at Dinullah bagi membangun ummat dalam segala jurusannya “dengan atas dasar risalah Allah”, semenjak zaman perutusan Nus as sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah asy Syuro ayat 13 dan ayat 14, maka sistem yang digunakan wajib berdasarkan hasil petunjuk dari Allah sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Furqon ayat 52 dan bukan berasal dari rekayasa hasil budidaya manusia. Maka inilah yang disebut “Sistem Siyasah”, yang tidak akan pernah sama dengan Sistem made in Plato sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Isro ayat 45 dan ayat 46 dan al Hadits shohih riwayat Thobrani dari jalan Ibnu Abbas dan al Hadits shohih riwayat al Hakim dari jalan Kholid bin ‘Urfathoh.

Dengan analisa sebagaimana tersebut maka wajarlah kalau lafadz pada akhir ayat di atas Allah menutup dengan lafadz nadzi-ron yaitu sebuah peringatan yang menentukan dalam pembangunan ummat sedunia, agar hambaNya yang beriman tidak terjadi tergelincir dalam Sistem yang menyalahi Sunatullah.

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/tafseer/504-al-furqon-berarti-pembeda.html

Hati-hati dengan Assallamu’allaikum


Sebaiknya Jangan Menyingkat Assallamu’allaikum

Menjawab salam sesama muslim dalam adab islam hukumnya adalah wajib, selain itu karena penduduk indonesia yang mayoritas adalah negara islam maka sering dijumpai berbagai pernyataan baik secara langsung ataupun melalui media elektronik, entah apa maksudnya semakin lama salam yang original dari agama islam sering dirubah-rubah, padahal sendiri artinya sendiri juga sudah sangat baik, sebentar lagi kita akan bahas mengapa Anda tidak boleh sembarangan menyingkat salam.

sekali lagi, “ASSALAMU’ALAIKUM” JANGAN DISINGKAT LAGI!!

INILAH ARTINYA KALAU DISINGKAT

  1. As = orang bodoh ; keledai
  2. Ass = pantat
  3. Askum = celakalah kamu
  4. Assamu = racun
  5. Samlekum = matilah kamu
  6. Salom/syalom= dari bhs Ibrani untuk sesama kristen dan ada 263 kata di dalam kitab perjanjian lama dan perjanjian baru.
  7. Mikum = dari bahasa Ibrani Mari Bercinta.

Yuk kita lihat isi surat Nabi Sulaiman dalam Al-Quran :

“Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahirohmaanir rohiim ‘ala ta’lu ‘alayya wa’tunil muslimina tho’inalloha robbal ‘aalamiin.”

Salam pendek, sedang dan panjang telah dicontohkan oleh Nabi dan tidak merubah makna aslinya :
  1. Salam pendek : “Assalamualaikum”. dengan 10 kebaikan.
  2. Salam sedang : “Assalamualaikum warohmatulloh”. dengan 20 kebaikan.
  3. Salam panjang : “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”. dengan kebaikan sempurna
http://www.cintasedekahnusantara.com/salam/

Dosa-Dosa Yahudi di Sepanjang Sejarah

Khutbah Pertama:

اَلحَمْدُ لِلَّهِ مُعِزِّ مَنْ أَطَاعَهُ مُذِلِّ مَنْ عَصَاهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .

Ibadallah,
Sesungguhnya bagi siapa saja yang membaca sejarah dengan seksama, maka ia akan melihat tingkah polah umat-umat terdahulu, dan akan mendapati suatu kelompok yang paling jelek akhlaknya dan buruk muamalahnya, mereka itu adalah orang-orang Yahudi, sebuah kaum yang mendapat murka dan laknat dari Allah Ta’ala. Orang-orang Yahudi adalah pendusta, sombong, fasik, kufur dan ilhad. Suatu komunitas yang terkenal dengan hati yang keras, hasad, dan penghianat. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah: 13)

Dan firman-Nya,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al-Baqarah: 74)

Ibdallah,
Di antara wujud kerasnya hati orang-orang Yahudi adalah mereka membunuh sebagian nabi-nabi Allah yang datang dan membawa hidayah, perbaikan, dan kebahagiaan. Dan inilah karakter mereka di setiap masa, membunuh orang-orang yang mengadakan perbaikan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ
“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Maidah: 70)

Firman-Nya yang lain,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup”. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 155)

Dan firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.” (QS. Ali Imran: 21)

Inilah watak keras orang-orang Yahudi yang Allah sifatkan di dalam Alquran, watak ini terus melekat kepada mereka hingga saat ini.

Ibdallah,
Bersamaan dengan itu, mereka juga memiliki sifat makar dan tipu daya. Umat Islam terdahulu telah merasakan penderitaan akibat tipu daya yang dibuat oleh orang-orang Yahudi dan demikian seterusnya, mereka akan senantiasa melakukan tipu daya terhadap umat Islam.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

Ibadallah,
Sejak dahulu, orang-orang Yahudi terbiasa melakukan khianat dan menyelisih perjanjian yang mereka lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (QS. Al-Anfal: 55-56)

Sepanjang sejarah kehidupan mereka, orang-orang Yahudi senantiasa membuat kerusakan di dalam masyarakat dengan kemunkaran-kemunkaran yang mereka lakukan. Mereka memiliki rumah-rumah tempat berzina lalu menyebarkannya ke seluruh dunia, mereka juga melakukan pemerasan terhadap harta-harta orang lain, dan melakukan konspirasi untuk menguatkan kedudukan kaum mereka.
Ibdallah,

Sesungguhnya permusuhan Yahudi terhadap umat Islam sudah berlangsung lama, sejak Islam itu muncul atau bahkan semenjak mereka mengetahui bahwa akan diutus nabi dari kalangan Arab bukan dari bangsa mereka. Mereka memusuhi Islam, karena Islam mengungkap kedok mereka, mencela perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Alquran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55)

Ibadallah,
Kita tidak heran kalau permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Islam sangat keras, karena Islam datang untuk menghilangkan dan melenyapkan kedustaan mereka, mengingkari kerusakan dan kebatilan mereka. Islam menyeru kepada iman, tauhid, dan ikhlas, sedangkan Yahudi menyeru kepada kekufuran, kedustaan, dan permusuhan. Islam menyeru kepada cita-cita dan norma-norma yang tinggi, rahmat, dan ihsan, adapun Yahudi menyeru kepada kerasnya hati, pelanggaran hukum, dan kebencian. Islam menyeru kepada kehidupan, memiliki rasa malu, kesopanan, dan menjaga kesucian diri, sedangkan Yahudi menyeru kepada perbuatan yang rendah, kerusakan, dan makar. Islam mengharamkan menghilangkan nyawa manusia kecuali dengan hak dan melarang zina, sedangkan Yahudi mudah menumpahkan darah manusia selain mereka, mencuri harta orang lain, dan merusak kehormatan orang lain.

Ibadallah,
Bersamaan dengan perangai-perangai rusak yang mereka miliki, yang mengherankan, mereka malah merasa sebagai anak-anak Allah dan kesayangan-Nya. Mereka meyakini ruh-ruh orang-orang Yahudi lebih istimewa dibanding ruh-ruh manusia selain Yahudi karena mereka meyakini bahwa mereka adalah bagian dari Allah. Menurut Yahudi, seandainya Allah tidak menciptakan mereka, maka hilanglah keberkahan di bumi, hujan tidak akan diturunkan dari langit, dan tidak akan didapati kebaikan sedikit pun. Selain itu, mereka juga yakin orang-orang selain mereka sederajat dengan keledai hanya saja Allah ciptakan dalam wujud manusia untuk menjadi hambanya (kacung) orang-orang Yahudi.

Lihatlah tingkah polah orang-orang yang merugi ini.

Ibadallah,
Wajib kita ketahui bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Palestina bukan hanya sekedar perselisihan antara Yahudi dan orang-orang Palestina saja, akan tetapi hal itu urusan setiap muslim. Palestina adalah negeri para nabi, di sana juga terdapat tiga masjid yang mulia, tanah Palestina juga tempat perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kiblat pertama.
Ibadallah,

Kita perlu mengoreksi diri dan menyadari bahwa kekuasaan Yahudi di tanah Palestina adalah akibat dari dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan, termasuk juga banyaknya umat Islam yang berpaling dari agamanya sendiri, padahal Islam adalah sebab mencapai kemuliaan dan kemenangan di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh karena itu, hendaknya kita segera kembali kepada Allah Jalla wa ‘Ala, memperbaiki keimanan dan hubungan kita kepada Ar-Rahman, menaati perintah-Nya, dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Inilah modal agar kita memperoleh kemuliaan, kekokohan, dan pertolongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرآنِ الكَرِيْمِ ، وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ ، أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ، ثُمَّ اِعْلَمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – أَنَّ المُؤْمِنَ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ وَفِي جَمِيْعِ شُؤُوْنِهِ – فِي شِدَّتِهِ وَرَخَائِهِ ، وَفِي سَرَّائِهِ وَضَرَّائِهِ –
Ibadallah,
Orang-orang yang beriman itu tidak takut kecuali hanya kepada Allah, tidak ada tempat berharap bagi mereka, kecuali hanyalah Allah, Rabbnya dan pelindungnya. Oleh karena itu, kita hadapkan wajah-wajah kita kepada Allah, mengadu kepada-Nya atas apa yang menimpa kita, maka berdoalah wahai hamba-hamba Allah dengan penuh penghayatan.

Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu. Wahai Dzat Yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan, membuka kebuntuan orang-orang yang menyeru, menghilangkan duka orang-orang yang merendah dan berharap kepada-Mu. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah menguasai saudara-saudara kami umat Islam di Palestina, membunuhi mereka, merampok rumah-rumah mereka dan menghancurkan kehormatan mereka, dan perbuatan fasad.

Berapa banyak rumah-rumah dihancurkan, betapa banyak kehormatan terinjak-injak, tak terkira wanita-wanita menjadi janda, tak terperi darah bercucuran, tak terhitung anak-anak menjadi yatim.
Orang-orang Yahudi kian sombong dan terus menambah kejahatan dan permusuhan mereka. Ya Allah, Engkaulah penolong mereka, Engkaulah pintu pengharapan bagi orang-orang yang meminta kepada-Mu. Wahai Dzat yang menggoncangkan singgasananya orang-orang zalim, menghancurkan kekuasaan orang-orang yang sombong, menghentikan tipu daya orang-orang mujrim. Ya Allah hancurkanlah orang-orang Yahudi yang mengobarkan permusuhan ini. Hancurkanlah mereka ya Allah, hancurkanlah mereka ya Allah. Hancurkanlah mereka ya Allah, sesungguhnya mereka tidaklah melemahkan-Mu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ صَحَابَةِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ .

Diterjemahkan dari khotbah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad

http://alhikmah.ac.id/2014/dosa-dosa-yahudi-di-sepanjang-sejarah/

16 Alasan Mengapa Kita Mesti Berdakwah

Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba’du:

Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan kepadanya hidayah! Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam? Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! Alangkah beruntungnya ia…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[1].”

An Nawawi rahimahullah berkata: “ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.”
Saudaraku muslim…

Berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla termasuk keta’atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:

{يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)} [المدثر: 1، 2]
Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut),  bangunlah, lalu berilah peringatan![2].”

Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!

Allah Azza wa Jalla telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata: “Berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya.”

Saudaraku muslim…

Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiahkan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seoorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, di antaranya:

Pertama: mengikuti para nabi dan mencontoh mereka

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]
Artinya: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik[3].”

Al Farra berkata: “Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat”.

Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahala

karena Allah Azza wa Jalla memuji para pendakwah:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]
Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[4].”

Asy Syaukani berkata: “Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding  amalannya”.

Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sedikit

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[5].”

Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jalla ia akan masuk ke dalamnya.

Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran: bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah 

Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik[6].”

Al Baghawi berkata: “Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat”.

Kelima: Harapan shalihnya keturunan

Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu ‘ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا } [النساء: 9]
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar[7].”

dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agam Allah.

Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa  seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun[8].”

Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran[9].”

Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu[10].”

Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri’atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.

Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan didapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi

Syaikh Abdurrahman As Sa’dy rahimahullah berkata: “Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul”.

Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan

karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta’ala dan sabda rasul-Nya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan[11].”

Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin”.

Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ
Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan[12].”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…”, dan salah satu diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”

Ketiga belas: Kecintaan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya

Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta’ala:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]
Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[13]. “

Beliau berkata: “Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini aadalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah”.

Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada

dan juga menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, yaitu doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau,
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَبَلَّغَهَا
Artinya: “Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan[14].”
Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.

Kelima belas: Doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau

termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:

رحم الله امرأ سمع منى حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره
Artinya: “Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain[15].”

Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya etringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia dating ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel. Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dam masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenganan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak paa hari kiamat, jika seluruh kealuarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?

Keenam belas: berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah

Allah Ta’ala berfirman,

{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [البقرة: 3]
Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka[16].”

Al Hasan berkata: “Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu”.
Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.
*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim,

Penerjemah: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Artikel www.muslim.or.id


[1]Hadits riwayat Muslim
[2] QS. Al Mudatstsir:1-2
[3] QS. Yusuf:108
[4] QS. Fushshilat:33
[5] Hadits riwayat Muslim
[6] QS. Al Ankabut:69
[7] QS. An Nisa-’:9
[8] Hadits riwayat Muslim
[9] QS. Al Ashr:1-3
[10] QS. Muhammad:10
[11] Hadits riwayat Tirmidzi
[12] Hadits riwayat Ath Thabarani
[13] QS. Fushshilat:33
[14] Hadits riwayat Ibnu Majah
[15] Hadits riwayat Ahmad
[16] QS. Al Baqarah:3

Wednesday, April 23, 2014

Qutaibah bin Muslim, Sang Penakluk Daratan Cina


  Saat ini, jumlah umat Islam di Cina menembus lebih dari 22 juta jiwa. Meski dikekang oleh pemerintah komunis Cina, ternyata pertumbuhan umat Islam tetap menunjukkan pergerakan progresif di negeri Mao Zedong ini. Namun tahukah Anda, siapa yang membawa ajaran Islam ke wilayah ini? Berikut ini kisahnya.

Pembawa ajaran Islam di negeri Cina  adalah Qutaibah bin Muslim bin Amr bin Husein bin al-Amir, Abu al-Hafsh al-Bahili, seorang panglima besar yang terkenal dalam sejarah Islam. Ia adalah seorang panglima perang yang berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Uni Soviet (sekarang Rusia) hingga sampai di daerah Cina. Banyak penduduk dari negeri-negeri yang ia taklukkan berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah ini, mereka merasakan keindahan dan cahaya Islam yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Qutaibah wafat karena terbunuh pada tahun 96 H, di umur 48 tahun.

Masa Kecil Qutaibah

Ayahnya adalah Muslim bin Amr sahabat dari Mush’ab bin Zubair gubernur Irak dari pihak Abdullah bin Zubair, ayahnya terbunuh bersama dengan Mush’ab pada peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, tahun 72 H / 692 M. Qutaibah dilahirkan di Irak pada tahun 49 H / 669 M.

Di masa kecilnya, ia mulai mempelajari ilmu fikih dan Alquran, kemudian ia juga belajar menunggang kuda dan strategi perang. Ia tumbuh bersama kuda, pedang, dan panah, ia sangat mencintai teknik-teknik menunggang kuda. Pada masa pertumbuhannya, wilayah-wilayah Irak tengah digoncang oleh pemberontakan-pemberontakan. Oleh karena itu, amir-amir di wilayah tersebut sibuk mempersiapkan jihad dan mengajak masyarakat untuk menyiapkan tenaga mereka membantu pemerintah demi tetap kokohnya Islam dan tersebarnya dakwah. Saat itulah Qutaibah muda bergabung dalam jihad di usianya yang sangat belia.

Keberanian dan keterampilan Qutaibah memang memukau banyak orang, hal itu membuatnya dilirik oleh panglima besar, Muhallab bin Abi Shafrah. Muhallab pun menyampaikan kabar tentang Qutaibah ini kepada Hajjaj bin Yusuf. Setelah itu, Qutaibah makin dikenal di kalangan kerajaan, khalifah Abdul Malik bin Marwan menunjuknya menjadi Amir di Kota Ray dan Khurasan.

Kaum muslimin mulai beranjak menaklukkan wilayah Timur, sebuah daerah yang dihuni oleh dua ras besar; orang-orang Sasaniah atau Persia dan orang-orang Turki. Dua kelompok besar ini hanya dipisahkan oleh sungai-sungai saja. Penaklukkan Persia sudah disempurnakan pada masa pemerintahan al-khulafa ar-rasyidun, adapun orang-orang Turki memiliki wilayah yang lebih luas, tersebar, dan jumlah yang lebih banyak, seperti: orang-orang Turki di wilayah Gaza, al-Qarakhta, Qawqaziyun, Bulgaria, dan Mongol.

Menaklukkan Cina

Qutaibah mulai memimpin pasukan perang pada tahun 86 H / 705 M, saat itu Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi mengangkatnya menjadi amir Khurasan atas titah khalifah.

Perjalanan menaklukkan Cina adalah perjalanan yang fenomenal dan membutuhkan waktu yang panjang dan startegi yang matang. Sebelum tiba di negeri tirai bambu ini, Qutaibah bin Muslim menaklukkan daerah-daerah strategis yang membuka jalannya untuk menuju daratan Cina. Jika diurutkan maka strategi Qutaibah dapat diklasifikasi menjadi empat tahap.

Peta Cina dan wilayah sekitarnya
Peta Cina dan wilayah sekitarnya

Tahap pertama, ia beserta pasukannya menuju daerah Thakharistan pada tahun 86 H. Saat ini, wilayah Thakharistan adalah bagian dari wilayah Afganistan dan Pakistan.

Tahap kedua, antara tahun 87-90 H, ia menguasai wilayah Bukhara dan daerah-daerah sekitarnya di wilayah Uzbekistan. Daerah ini merupakan daerah yang sangat strategis untuk memantapkan dan melindungi daerah-daerah taklukkan lainnya dari serangan musuh.

Tahap ketiga, tahapan ini berlangsung antara tahun 91-93 H. Pada masa ini, Qutaibah mengokohkan kedudukan umat Islam di wilayah Sungai Jihun dengan sibuk berdakwah dan mengajarkan Islam di wilayah tersebut. Selain itu, pada masa ini juga umat Islam berhasil menguasai Sijistan, Khawarizm, dan Samarkand di jantung Asia.

Tahapan keempat, tahap keempat ini adalah tahapan akhir dari perjalanan Qutaibah menuju Cina, berlangsung antara tahun 94-96 H. Pasukan Islam dibawah kepemimpinan Qutaibah berhasil mengusai daerah Sungai Seihan dan kota-kota di sekitarnya. Setelah itu Qutaibah memasuki wilayah Cina tepatnya di Kota Kashgar. Orang-orang Kashgar yang sebelumnya memeluk agama Zoroaster dan Budha, akhirnya berbondong-bondong masuk ke dalam Islam tanpa paksaan sedikit pun.
Ini adalah penaklukkan terjauh yang dilakukan pasukan Islam sepanjang sejarah. Tidak ada pimpinan umat Islam yang melakukan penaklukkan lebih jauh dari apa yang dilakukan Qutaibah bin Muslim.

Wafatnya Qutaibah

Setelah tiga belas tahun bertualang ke penjuru negeri, akhirnya tibalah akhir hayat Qutaibah bin Muslim. Qutaibah wafat dalam sebuah perselisihan antara umat Islam pada tahun 96 H. Ia terbunuh di tangan Waki’ bin Hasan at-Tamimi di wilayah Ferghana (sebuah daerah di Asia Tengah yang berada di wilayah Uzbekistan, Kirgistan, dan Tajikistan sekarang). Semoga Allah merahmati Qutaibah bin Muslim.

Pelajaran

Ada sebuah pelajaran menarik dari kisah penaklukkan yang dilakukan Qutaibah bin Muslim. Di tengah buruknya nama Bani Umayyah di kalangan sebagian umat Islam lantaran sistem monarki yang mereka terapkan, hadir sosok yang gemilang di antara ratusan nama lainnya dari orang-orang Bani Umayyah yakni Qutaibah bin Muslim.

Ada kelompok-kelompok tertentu yang menisbatkan diri mereka kepada Islam menuliskan buruknya sejarah perjalanan Bani Umayyah. Seolah-olah perjalanan kerajaan ini adalah masa kegelapan yang dialami umat Islam. Beredar dan maraknya tulisan-tulisan tersebut akhirnya membentuk opini dan image bahwa Daulah ini sangat jauh sekali dari ajaran Islam.

Masjid Id Kah, Kashgar, Xinjiang. Masjid ini adalah salah satu masjid terbesar di Cina dengan daya tampung 20.000 jamaah.
Masjid Id Kah, Kashgar, Xinjiang. Masjid ini adalah salah satu masjid terbesar di Cina dengan daya tampung 20.000 jamaah.

Orang-orang yang membenci syariat Islam menjadikan catatan senjarah yang penuh manipulasi ini sebagai senjata mereka untuk mengatakan, “Bagaimana mungkin syariat Islam bisa diterapkan di era modern ini, sementara di era yang dekat dengan masa khulafaur rasyidin saja syariat ini tidak bisa ditegakkan?!” Inilah yang mereka inginkan dari pengkaburan sejarah Bani Umayyah. Dan ironisnya, isu picis ini diambil oleh kelompok-kelompok Islam yang sangat vokal menyerukan berdirinya kekhilafahan Islam.

Penaklukkan yang dilakukan Qutaibah menggambarkan betapa besarnya jasa Bani Umayyah. Mereka menaklukkan wilayah Bukhara sehingga lahirlah seorang laki-laki dari kalangan masyarakat Bukhara sekaliber Imam Bukhari. Ditaklukkannya kota-kota di sekitar Sungai Jihun termasuk Naisabur, dari sini lahirlah laki-laki cemerlang bernama Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi atau kita kenal dengan Imam Muslim, penulis Shahih Muslim, dll. Belum lagi penaklukkan Andalusia yang melahirkan ulama-ulama dan ilmuan-ilmuan Islam.

Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang jangan sampai membuat kita tidak bersikap adil dan melupakan lautan kebaikan yang mereka lakukan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Sumber: islamstory.com dll

http://kisahmuslim.com/qutaibah-bin-muslim-sang-penakluk-daratan-cina/

Tuesday, April 22, 2014

Muhasabah Diri



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ,  وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 18-19 )

 Muhasabah Diri Adalah Salah Satu Bentuk Ketaqwaan 

 Ayat di atas menjadi rujukan utama dalam pembahasan muhasabah (intropeksi). Yang menarik dari ayat  tersebut bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa sebanyak dua kali, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kandungan ayat di atas.

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (17/29): “Dikatakan bahwa Taqwa yang pertama, maksudnya adalah taubat dari dosa-dosa yang telah lalu. Adapun Taqwa yang kedua adalah menghindari dari maksiat di masa mendatang.“

Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa, kemudian Allah memerintahkan setiap jiwa dari mereka untuk melihat apa saja bekal yang yang sudah disiapkan untuk menyambut hari esok, inilah makna muhasabah dan intropeksi.

Artinya bahwa salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah adalah selalu bermuhasabah diri terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini.

Persiapan Untuk Hari Esok 

Mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Hari esok ada dua; hari esok yang dekat, dan hari esok yang jauh.
Adapun hari esok yang dekat adalah hari-hari mendatang di dalam kehidupan dunia ini bisa satu hari lagi, satu minggu lagi, satu bulan lagi, satu tahun lagi, sepuluh tahun lagi dan seterusnya. Yang jelas, setiap diri kita harus mempersiapkan diri untuk masa depan.

Ayat ini memerintahkan kita umat Islam untuk selalu mempunyai rencana dan rancangan yang matang dalam setiap aktivitas, tidak asal kerja, tidak asal beramal. Sehingga hasil kegiatan yang terencana dan terprogram dengan rapi akan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat, baik di dunia ini maupun di akherat.

 Adapun hari esok yang jauh maksudnya adalah hari akherat, maka setiap diri kita hendaknya mempersiapkan bekal amal untuk dibawa ke akherat.

Berkata Imam al-Qurtubi : “Hari esok adalah hari kiamat. Orang Arab menyebut sesuatu yang akan datang dengan esok hari.“

            Ayat di atas sesuai dengan hadist Abu Ya’la Syadad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

 الكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّي عَلَي الله
“Orang yang cerdik adalah oraang yang selalu menahan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah“ (HR Tirmidzi, dan beliau berkata: hadist ini Hasan Shahih)

 Macam-Macam Muhasabah Diri  

Muhasabah diri bisa dibagi menjadi beberapa macam:

Pertama: Muhasabah Sebelum Beramal.

            Sebelum beramal hendaknya kita bermuhasabah, apakah amal yang akan kita kerjakan sudah benar-benar diniatkan karena Allah semata, atau ada niat lain?  seandainya sudah ikhlas, maka apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

            Berkata Imam Hasan al-Bashri :
رَحِمَ الله عَبْداً وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ، فّإِنْ كَانَ لِلهِ مَضَى، وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ.
            “Mudah-mudahan Allah selalu memberikan rahmat kepada seorang hamba yang selalu merenungi sebelum melakukan aktifitas, jika diniatkan karena Allah, maka ia lakukan aktivitas tersebut, tetapi jika bukan karena Allah, dia urungkan aktivitas tersebut. “

Kedua: Muhasabah Pada Saat Beramal.

          Ketika sedang beramal, hendaknya  kita terus berusaha agar amal kita tetap berada pada jalur yang telah digariskan Allah, jangan sampai lengah dan keluar dari jalur, maka kita akan celaka.
  
          Jika kita sedang sholat umpamanya, hendaknya tetap berusaha agar sholat kita tetap khusu’ dan diniatkan hanya karena Allah hingga akhir sholat. Jangan sampai di tengah-tengah sholat muncul hal-hal yang mengganggu kekhusu’an dan keikhlasan kita. 

 Ketiga: Muhasabah Setelah Beramal

          Setelah melakukan suatu amal, hendaknya seseorang melakukan muhasabah kembali, apakah amalnya sudah bermanfaat bagi orang lain atau belum, jika sudah bermanfaat, sejauh mana manfaat tersebut, sedikit atau banyak, jika masih sedikit hendaknya ditingkatkan kembali.    

          Melihat amal perbuatan yang dikerjakannya belum sempurna, maka hendaknya disempurnakan kembali di masa mendatang. Amal perbuatannya yang belum ikhlas, hendaknya diusahakan untuk benar-benar ikhlas karena Allah di masa-masa mendatang, dan seterusnya.  

            Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوَزِّنُوا، فَإِنّ أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الحِسَابِ غَداً أَنْ تُحَاسَبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْم، وتُزَيِّنُوا للْعَرْضِ الأكْبِر، يَوْمَئِذ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة
           
“ Bermuhasabalah atas diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab pada hari kiamat, dan timbanglah amal kalian di dunia ini sebelum nanti ditimbang pada hari kiamat. Sesungguhnya kalian akan merasa ringan dengan bermuhasabah pada hari ini untuk menghadapi hisab kelak. Dan berhiaslah kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi hari pameran agung. Pada hari itu perbuatan kalian akan ditampilkan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun. “  

            Berkata Imam Hasan al-Bashri :
إنّ العَبْدَ لَا يَزَالُ بِخَيْرٍ مَا كَانَ لَهَ وَاعِظُ مِنْ نَفْسِهِ، وِكِانَتْ المُحَاسِبِةُ هِمَّتَهُ.
            “Sesungguhnya seorang hamba akan selalu dalam keadaan baik selama dia mempunyai penasehat dari dirinya sendiri, dan selalu bermuhasabah diri.“
            Berkata Maimun Mahran:
لَا يَكُوْنُ العَبْدُ تَقِياً حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدّ مُحاسَبة مِنَ الشَّرِيْكِ لشريكه
            “ Seseorang tidak akan mendapatkan predikat ketaqwaan sampai dia melakukan muhasabah kepada dirinya lebih ketat dibanding seorang teman yang bermuhasabh terhadap temannya . “

            Diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Wahab, telah tertulis di dalam Hikmah Keluarga Nabi Daud  ‘alaihi as-salam bahwa :

” Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya menjadi 4 bagian ; waktu untuk bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, waktu untuk intropeksi terhadap diri sendiri, waktu untuk bergaul dengan teman-temannya yang bisa memberitahu kekurangannya, dan waktu untuk bertafakkur tentang dirinya dan kenikmatan yang didapatkan. Sesungguhnya waktu-waktu tersebut bisa membantu untuk memperbaiki hati. “ 

Orang Fasik Adalah Orang Yang Lupa Kepada Allah. 

Allah berfirman : 
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr : 18-19 )

 Salah satu bentuk muhasabah dan intropeksi diri adalah tidak lupa kepada Allah, sebaliknya dia selalu berdizikir dan mengingat Allah, serta mempersiapkan diri dan mencari bekal untuk hari dimana dia akan bertemu dengan Allah.

Maka Allah melarang kita untuk menyerupai orang –orang yang melupakan Allah, karena lupa kepada Allah akan menyebabkan seseorang melupakan dirinya sendiri. Bagaimana hal itu terjadi ?
Kalau seseorang lupa bahwa Allah adalah Rabb dan Penciptanya, maka dia akan lupa terhadap dirinya, lupa terhadap asal-usulnya yang dulu tidak ada, kemudian menjadi ada. Dulu, dia hanya berupa air mani yang hina, kemudian Allah menjadikannya menjadi orang yang dewasa dan kuat, yang kemudian akan kembali lemah dan akhirnya akan mati dan kembali lagi kepada Allah.

Maka kalau seseorang lupa kepada Allah, dia akan lupa kepada hal-hal tersebut, selanjutnya dia akan berbuat semena-mena dan semau-maunya di muka bumi ini, tanpa ada aturan yang mengikatnya, orang-orang seperti ini akan menjadi orang  yang merugi di dunia, karena akan dijauhi masyarakat, akan dikucilkan bahkan akan ditahan karena daya rusaknya yang begitu hebat di masyarakat.

Maka Allah selalu mengingatkan manusia akan asal usulnya dan mengingat juga bahwa dia akan kembali kepada asalnya dan pemiliknya yaitu Allah. Lihat umpamanya di dalam Qs al-Mukminun, Qs. al-Haj, Qs. ar-Rum, Qs. al Insan, Qs. as-Sajdah dan banyak lagi ayat-ayat yang serupa. 

Ibnu Katsir di dalam “ Tafsir al-Qur’an al-Adhim ‘ (  4/432 ) berkata :

“ Maksudnya janganlah kalian melupakan untuk mengingat Allah, maka Allah akan membuat kalian lupa beramal sholeh yang akan membawa manfaat bagi kalian di akherat. Sesungguhnya ganjaran itu sesuai dengan amal perbuatan. “

Berkata Syekh Abdurrahman as-Sa’di di dalam :

بل أنساهم الله مصالح أنفسهم، وأغفلهم عن منافعها وفوائدها، فصار أمرهم فرطا، فرجعوا بخسارة الدارين، وغبنوا غبنا، لا يمكنهم تداركه،
“ Bahkan Allah menjadikan mereka lupa terhadap maslahat mereka sendiri, Allah memalingkan mereka sehingga lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka sendiri, sehingga urusan mereka menjadi kacau, dan akhirnya mereka rugi dunia dan akherat, kerugian yang tidak mungkin bisa diganti lagi. “

Kesibukan mengumpulkan harta dan memikirkan masa depan anak-anak mereka membuat mereka lupa kepada Allah sehingga mereka menjadi orang yang merugi.  Ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ .
            “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Qs. al-Munafiqun : 9). Wallahu A’lam

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA
http://www.ahmadzain.com/read/tsaqafah/451/muhasabah-diri/