Sunday, December 12, 2010

Draft AD/ART

 

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

MASJID AL FURQON


MUQADDIMAH
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta’ala dan sholawat serta salam tercurah kepada Nabi Besar Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Sesungguhnya  Allah  subhanahu wa ta'ala telah  mewahyukan  Islam sebagai  agama yang haq, sempurna dan diridloi-Nya serta merupakan rahmat  bagi  seluruh alam. Dan Dia  telah  menciptakan  manusia dalam  bentuk yang sebaik-baiknya untuk menjadi  khalifah-Nya  di bumi, agar memakmurkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Kehidupan  yang sesuai dengan  fithrah manusia  adalah  kehidupan yang cenderung kepada kebenaran yang akan  mengantarkan  manusia pada kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Yang akan mampu menghadirkan karya-karya  kemanusiaan berupa amal  shalih  dalam rangka  mengabdi  kepada Allah  dan  mengharap   keridlaan-Nya semata.                                                                                                              

Untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dengan  memperhatikan kebahagiaan hidup  di dunia dalam tatanan  masyarakat  adil  dan makmur yang diridlai Allah dan dengan keyakinan bahwa tujuan  itu hanya  dapat  dicapai  dengan pertolongan, taufiq  dan hidayah-Nya,  kemudian diikuti dengan usaha-usaha yang terencana, teratur, terus menerus dan penuh kebijaksanaan, maka dengan nama Allah,  kami  umat Islam yang terhimpun dalam Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid menguraikan Anggaran  Dasar  dan Anggaran Rumah Tangga sebagai berikut:

BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal  1.
Nama
Organisasi  ini  bernama  Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon.

Pasal  2.
Waktu
Organisasi  ini  dibentuk dan sahkan pada tangal 23 Mei 2010 dengan masa kerja untuk mengemban amanah selama 3 tahun

Pasal  3.
Tempat Kedudukan
Organisasi  ini berkedudukan di Masjid  Masjid Al Furqon yang beralamat di Perumahan Tridaya Indah 2 kelurahan Sumber Jaya, Tambun Selatan – Bekasi, Jawa Barat.


BAB II
AQIDAH, TUJUAN DAN USAHA

Pasal  4.
Asas
Organisasi ini berasas Islam yang berpedoman kepada Alquran dan As Sunnah.

Pasal  5.
Tujuan
Terbinanya umat Islam yang beriman, berilmu dan beramal  shalih   dalam  rangka  mengabdi  kepada  Allah   untuk mencapai keridhlaan-Nya.

Pasal  6.
Usaha
a.    Melakukan  'amar ma'ruf nahi munkar  untuk  mengajak  manusia ke jalan yang benar.
b.    Melakukan aktifitas yang bernafaskan Islam di bidang da'wah, sosial, ekonomi dan pendidikan.
c.    Memaksimalkan sumber daya manusia dalam rangka mengemban amanah umat untuk menjadikan masjid sebagai tempat beribadah yang nyaman.



BAB III
VISI DAN MISI

Pasal  7.
Visi
Menjadikan Masjid sebagai tempat peribadatan yang nyaman.

Pasal  8.
Misi
a.    Menjadikan Masjid sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah semata dan sebagai pusat kebudayaan Islam.
b.    Mengisi abad kebangkitan Islam dengan aktivitas yang islami.
c.    Membina pengurus dan jamaah menjadi pribadi muslim yang bertaqwa.
d.    Menuju masyarakat islami yang sejahtera dan diridlai Allah subhanahu wa ta’ala.


BAB IV
PERANAN, FUNGSI DAN TUGAS

Pasal  9.
Peranan
Organisasi   ini   berperan   sebagai   sumber   insani  pembangunan umat Islam.

Pasal  10.
Fungsi
Organisasi  ini berfungsi sebagai alat untuk memakmurkan dan mensejahterakan  Masjid.

Pasal  11.
Tugas
a.    Organisasi ini bertugas untuk menegakkan syi'ar Islam.
b.    Mengajak jamaah untuk selalu giat melakukan shalat berjamaah.


BAB V
KEPENGURUSAN, SYARAT – SYARAT PENGURUS, STRUKTUR ORGANISASI DAN PERBENDAHARAAN

Pasal 12.
Keanggotaan
a. Anggota Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon adalah jamaah muslim perumahan Tridaya Indah 2 yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi pengurus yang terdiri atas :
  1. Ketua.
  2. Sekretaris.
  3. Bendahara.
  4. Seksi Bidang, terdiri atas :
               4.1. Bidang Ubudiyah.
               4.2. Bidang Kajian & Dakwah.
               4.3. Bidang Pembangunan.
               4.4. Bidang Pemeliharaan Sarana & Prasarana.
               4.5. Bidang Pelayanan Sosial & Humas.
               4.6. Bidang Pendidikan & Pengembangan.
               4.7. Bidang Remaja & Olah Raga.
               4.8. Bidang Kegiatan Muslimah.
               4.9. Bidang Penanganan Jenazah.
b. Setiap   anggota  Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon memiliki hak dan kewajiban yang sama, namun  berbeda dalam hal fungsinya.

Pasal 13
Syarat – Syarat Pengurus

Adapun persyaratan pengurus adalah :
a.    Adalah jamaah aktif masjid Al Furqon.
b.    Penghuni tetap perumahan Tridaya Indah 2.
c.    Memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dibidangnga.
d.    Amanah, jujur dan bisa dipercaya.
e.    Dapat bertugas selama masa 3 tahun.

Pasal 14.
Struktur Organisasi
a.    Kekuasaan tertinggi dipegang oleh Musyawarah Anggota Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon.
b.    Kepemimpinan adalah amanah yang diemban oleh Pengurus dan harus dipertanggungjawabkan   kepada anggota dalam Musyawarah Anggota.
c.    Pengurus  dilantik dan disahkan oleh Dewan Penasehat.

Pasal 15.
Perbendaharaan
Kekayaan  Pengurus Dewan Kemakmurdan Masjid Al Furqon diperoleh dari Infaq dan   sumbangan  dari jamaah yang  halal   dan   tidak mengikat.

BAB V
DEWAN PENASEHAT
Dewan Penasehat adalah suatu dewan yang bertugas untuk memantau kegiatan harian pengurus agar dapat berjalan sesuai dengan koridor dan tujuan organisasi.

Adapun fungsi dan tugas Dewan Penasehat adalah :
a.    Mengesahkan AD/ART.
b.    Melantik pengurus harian DKM Masjid
c.    Memantau kegiatan harian pengurus DKM.
d.    Mengevaluasi kegiatan pengurus harian
e.    Menegur pengurus harian bila kegiatan yang dijalankan tidak sesuai dengan program kerja yang dicanangkan.
f.     Bersama-sama pengurus melakukan perubahan dan pengesahan AD/ART bila dipandang perlu untuk diadakan perubahan.
g.    Bersama-sama dengan musyawarah untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah umat.
h.    Memberikan ide dan saran dalam rangka mengembangkan dan memakmurkan masjid.

BAB VI
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN

Pasal 16.
Perubahan Anggaran Dasar
Perubahan  dan  penjelasan  Anggaran  Dasar  organisasi hanya dapat dilakukan oleh Musyawarah Anggota.
Pasal 17.
Pembubaran
Pembubaran   dan pergantian kepengurusan dilakukan  oleh Musyawarah Anggota atau Ta'mir jamaah Masjid Al Furqon.

 BAB VI
ATURAN TAMBAHAN DAN PENGESAHAN

Pasal 18.
Aturan Tambahan
Hal-hal  yang belum diatur dalam Anggaran Dasar  Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon dimuat  dalam  peraturan  atau ketentuan  tersendiri  yang tidak  bertentangan  dengan Anggaran Dasar
Pasal 19.
Pengesahan
Anggaran  Dasar ini disahkan dalam  Musyawarah  Anggota Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Al Furqon dengan Dewan Penasehat pada tanggal ...................................di    Masjid Al Furqon, Perumahan Tridaya Indah 2 Kelurahan Sumber Jaya, Tambun Selatan – Bekasi.
                                                                                                            Ditetapkan di   :________________
                                                                                                            Pada Tanggal : ________________
Pengurus,                                                                                            Dewan Penasehat,



____________________                                                                    ____________________
Ketua   Harian DKM                                                                            Ketua Dewan Penasehat

Tuesday, December 7, 2010

Keutamaan dan Adab Hari Jumat

 

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya msenyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala.

Keutamaan Hari Jum’at

1. Hari paling utama di dunia

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam dan mewafatkannya.
Hari Nabi Adam ‘alaihis salam dimasukkan ke dalam surga.
Hari Nabi Adam ‘alaihis salam diturunkan dari surga menuju bumi.
Hari akan terjadinya kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

2. Hari bagi kaum muslimin

Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a.

Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad)

4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim)
Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat:

a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at

Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan.

b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)

Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.”

5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)

Adab Hari Jum’at Sesuai Sunnah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan bagi setiap muslim yang ingin menghidupkan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat.

1. Memperbanyak Sholawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

Shalawat yang syar’i yaitu:

اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Allåhumma shålli ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali muhammad,
kamaa shålayta ‘alaa ibråhiim wa ‘alaa ali ibråhiim innaka hamidum majiid,
wa barik ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali muhammad,
kamaa baaråkta ‘alaa ibrohiim innaka hamidum majiid
artinya:

“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang balig berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersiwak

Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya membuat Bab khusus tentang ditekankannya bersiwak pada hari Jum’at yaitu dalam dalam Kitabul Jumu’ati Bab Ath-Thibbi Lil Jumu’ati, no. 880 dan Bab As-Siwaki Yaumul Jumu’ati, no.hadits 887, 888, dan 889).

5. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Abu Huråiråh rådhiyallåhu ‘anhu berkata bahwa, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila hari Jumat, maka para malaikat berdiri di pintu masjid sambil mencatat orang yang datang dahulu, lalu yang dahulu (sesudah itu). Perumpamaan orang-orang yang datang pada waktu yang paling awal adalah seperti orang yang berkurban seekor unta, berkurban sapi, berkurban kambing kibas, berkurban seekor ayam, lalu berkurban sebutir telur. Kemudian apabila imam sudah keluar (dalam satu riwayat: duduk 4/79), para malaikat itu melipat buku-buku catatannya dan mendengarkan zikir (khutbah).” (HR. Bukhari)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

6. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

7. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut Ketika Khatib Berkhotbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

8. Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

9. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya. aamiin.

Wallahu a’lam bish shåwwab
Sumber:

Sunday, December 5, 2010

Sekarang dan Masa Depan

Segala puji bagi Allah, Yang merajai pada hari pembalasan. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman, yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. Amma ba’du.

Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. Sesuatu -yang belum jelas- menjadi tergambar indah dan menyenangkan dengan sekilas pandangan, padahal hanya sekilas saja. Namun, kalau diteliti dan dicermati dampak-dampaknya serta ujung-ujungnya, maka kebalikannya justru yang dijumpai; kesedihan, penyesalan dan penderitaan berkepanjangan. Subhanallah!

Oleh sebab itu, saudaraku… kehidupan dunia dengan seabrek tipuan dan sejuta kepalsuan ini tidak selayaknya melupakan seorang muslim akan hakekat yang sebenarnya dari hidup yang dijalaninya. Kita yakini bersama, hidup kita di alam dunia ini pasti berakhir, tidak kekal selamanya. Setelah itu, kita akan memasuki alam akherat… Ya, alam pembalasan pahala atau penjatuhan hukuman! Maka, kita harus cerdik dan sabar. Cerdik dalam menyikapi segala macam kepalsuan tersebut agar kita tidak tertipu olehnya. Dan sabar dalam menahan godaan yang menggiurkan dari para penebar kebatilan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang palsu.” (QS. al-Hadid: 20).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jumu’ah: 8).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, sementara Allah belum mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan mengetahui siapakah orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 142)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Bagaimana mungkin dianggap berakal, seseorang yang menjual surga demi mendapatkan sesuatu yang mengandung kesenangan hanya sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan; menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendali- dan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya. Adapun Rabb (Allah) ta’ala, apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 34)

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya- tiada bahagia tanpa takwa kepada-Nya. Sementara, takwa itu mencakup tiga tingkatan:
  1. Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan keharaman. Apabila seseorang  melakukan hal ini hatinya akan tetap hidup.
  2. Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat.
  3. Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah- dan segala urusan yang tidak penting. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani ketaatan (lihat al-Fawa’id, hal. 34). Allahul musta’aan.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

PERBAIKILAH HATIMU SEBELUM YANG LAIN…

Sah dan tidaknya amalan dhohir seorang hamba, adalah ditentukan dengan benar atau tidaknya apa yang tersembunyi di dalam hati orang tersebut.
Allah ta’ala berfirman :
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.”(At Taubah :109)
Syaikh As Sa’diy rahimahullahu menjelaskan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat tersebut, “Maksud dari membangun bangunan (amal ibadah) atas dasar taqwa adalah ‘atas dasar niat yang sholeh dan keikhlasan kepada Allah’. (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, halaman 352)
Dan beliau rahimahullah juga mengatakan : “Sesungguhnya iman (yang ada di dalam hati) merupakan syarat sah dan diterimannya amal sholeh. Dan tidaklah sebuah amal dikatakan sebagai amal yang sholeh melainkan didasari dengan iman.” (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, halaman 449)
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman” (Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 229)
Kemudian beliau melanjutkan: “Adapun pondasi tersebut mencakup dua perkara : Pertama adalah pengenalan yang baik seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seluruh perintah-Nya, nama dan kepada sifat-sifat-Nya yang mulia, dan yang kedua adalah ketundukan yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”( Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 229-230)
Oleh karena itu hendaklah seorang muslim perhatian terhadap apa yang ada di dalam hatinya, berusaha memperbaiki keimanannya dan apa yang diyakini oleh hatinya dan berusaha meninggalkan berbagai bentuk keraguan yang dapat mengurangi dan membatalkan keimannya.
Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullahu berkata, “Ulama-ulama terdahulu biasa saling mengirim nasehat satu dengan yang lainnya, ‘Barang siapa yang memperbaiki apa yang tersembunyi dalam hatinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang nampak dari dirinya, dan barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan para manusia’” (kami mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Maktabah Darul Minhaj halaman 31)
Tidaklah Allah melihat kedudukan seorang hamba, melainkan apa yang tertanam dalam hati dan buah yang muncul dari hati tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ. وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ
“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada bentuk jasad dan wajah-wajah kalian, akan tetapi Dia akan melihat pada hati kalian, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dada beliau” (Hadits riwayat Muslim, no. 6542 dalam Bab Tahrimu Dzulmi Al Muslilmi wa Khudzlihi wa Ihtiqorihi wa Dammihi wa ‘Irdhihi wa Maalihi)
***

KHOIRUL HADYI HADYU MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAHI WA SALLAM

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberi taufik kepada kita untuk bisa mengenal sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang telah menjadikan kita sebagai pengikut Rasulullah Al Musthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diantara sunnah dan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbah jumat, ceramah pengajian dan nasehat-nasehat beliau kepada para shahabat adalah senantiasa beliau memulai pembicaraan beliau dengan khutbatul hajjah, sebuah khutbah pembukaan yang mengandung makna yang sangat dalam.
Seandainya kita berbicara dan menggali panjang lebar tentang makna yang terkandung dalam khutbatul hajjah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu pembicaraan kita akan terlalu panjang dan meluas. Oleh karenanya kita hanya memilih potongan kalimat dari khutbatul hajjah, yaitu beliau, “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” (artinya : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
[Ittiba’ secara Total kepada Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ]
Faidah dan makna paling agung yang terkandung dalam kalimat “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah akan semakin mengokohkan pemahaman  yang shohih seorang muslim dalam memahami agama Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Sesungguhnya kitab Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus” (Al Isra : 9)
Hidayah sunnah merupakan bagian hidayah Al Quran. Al Quran dan As Sunnah bagaikan dua sisi uang logam, satu dengan lainnya tidak dapat terpisahkan.pent Al Quran telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Maka seseorang yang memahami makna kalimat khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” tentu akan semakin menambah kecintaan dan penganggungannya kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akan semakin memperlihatkan pengaruh ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam diri seseorang ataupun dalam suatu komunitas masyarakat.
Dari kalimat yang singkat ini pula, seorang muslim akan dapat memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, membebaskan seorang muslim dari taqlid buta terhadap person-person tertentu selain Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami agama Allah subhaanahu wa ta’ala .
Imam Malik rahimahullahu pernah berkata di sisi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ما من أحد إلا يؤخذ من قوله ويرد إلا قول صاحب هذا القبر
Tidaklah ada seorang pun melainkan perkataannya bisa jadi diterima atau ditolak, kecuali perkataan pemilik kuburan ini (yaitu : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam )”
[Pondasi Agama adalah Ikhlas dan Ittiba’]
Perintah ikhlas, Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan agar mereka beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama kepada-Nya dalam jalan yang lurus, dan agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, demikianlah agama yang lurus.” (Al Bayinah : 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya, dan setiap manusia akan dibalas sesuai dengan apa yang niatkan, barangsiapa yang berhijroh ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrohnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijroh kepada dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya adalah kepada apa yang dia inginkan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Umar bin Khattab)
Sedangkan untuk perintah ittiba’, Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Tidak, Demi Tuhanmu, mereka tidak lah beriman sampai mereka menjadikan dirimu hakim (pemutus perkara) dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, dan mereka tidak menemukan sedikitpun rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka berserah diri dengan sebenar-benarnya” ( An Nisaa : 65 )
Ayat-ayat di atas dan ayat semisalnya adalah bukti bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini semakin mewajibkan kita untuk senantiasa taat kepada Rasul, berpegang teguh dengan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Kunci Hidayah]
Allah ta’ala berfirman,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa mentaati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai penjaga bagi mereka” (An Nisaa : 80)
Allah ta’ala berfirman,
وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Jika kalian mentaatinya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka kalian akan mendapatkan petunjuk” (An Nur : 54)
Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kunci dari pintu hidayah Allah ta’ala. Apalah guna kita melirik kepada perkataan si fulan, si ‘alaan, ataupun siapapun di sekitar kita, jika telah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada perkataan manusia yang lebih agung daripada perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Syafi’i rahimahullahu berkata,
وخير الأمور السالفة علي الهدي
و شرّ الأمور المحدثة بدائع
“Sebaik-baik perkara adalah apa yang sudah ada petunjuknya dari para pendahulu
dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan”
Imam Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan,
العلم ما قد كان فيه قال حدثنا
وما سوي ذاك وسواس الشياطين
“Ilmu adalah apa yang di dalamnya di sebutkan ‘hadatsana’
dan yang selain itu adalah was-was dari syaitan”
Tentang kewajiban ittiba’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yag beramal dengan suatu amalan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak” (Muttafaqun’alaihi, dari shahabat ‘Aisyah)
Imam Malik bin Annas rahimahullahu,
السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“As sunnah adalah bagaikan perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka akan selamat, dan barangsiapa yang berpaling darinya maka akan tenggelam”
[Lihatlah Generasi Shahabat… Bagaimana Mereka Mengagungkan Sunnah]
Para shahabat adalah orang terdekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat mengagungkan sunnah dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita melihat bagaimana para shahabat menerima dengan dada yang lapang, terhadap apa yang diperintahkan dan yang dilarang oleh beliau.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shahabat untuk melakukan sebuah perkara mu’amalat jahiliyah, yang sebenarnya mu’amalat tersebut memberikan keuntungan bagi para shahabat. Namun meskipun demikian seorang shahabat Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَوَاعِيَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita dari suatu perkara yang sebenarnya mendatangkan keuntungan bagi diri kita, namun sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah lebih menguntungkan bagi kita.” (Hadits riwayat Muslim dari shahabat Rafi’ bin Khadij)
Demikianlah gambaran bagaimana para shahabat menerima perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu kisah dari sekian banyak kisah shahabat yang menunjukkan bagaiamana pasrahnya mereka terhadap perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.pent Mereka mendahulukan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segala macam kebiasaan, hawa nafsu dan keuntungan duniawi. Demikian pula seharusnya kita…
Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam…
***
Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary -حفظه الله تعالى -
(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)
Alhamdulilah, washolatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa man waalahu….
Apabila kita memaknai kalimat syahadat Asyhadu an Laa ilaha illallahu, dengan makna “Laa ma’buda bi haqin illa allahu” (Tidak ada sesembahan yang berhaq di sembah dengan benar kecuali Allah), maka kita pun juga memaknai kalimat “Asyahadu anna Muhammadan Rasulullah” dengan makna “Laa matbu’a bi haqin illa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tidak ada sesuatu yang berhaq diikuti secara total/mutlaq kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
Tidaklah kita mendahulukan perkataan seseorang di atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,meskipun dia adalah seorang imam, syaikh kibar, wali ataupun julukan-julukan lainnya…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf” (Hadits riwayat Bukhory, dari shahabat Ali bin Abi Tholib)
[Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Adalah Wahyu dari Allah]
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tidaklah dia (Muhammad) mengatakan sesuatu dari hawa nafsunya, melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepada dirinya” (An Najm : 3-4)
Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kebenaran yang muthlak, tidak diragukan lagi. Suatu ketika shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
يا رسول الله أكتب عنك ما سمعت ؟ قال : نعم قلت : في الغضب و الرضى ؟ قال : نعم فإنه لا ينبغي لي أن أقول في ذلك إلا حقا
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah aku harus mencatat apa yang aku dengar dari dirimu? Beliau mengatakan, Iya. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan, Apakah selurunya aku catat baik engkau dalam keadaan marah ataupun ridha? Beliau mengatakan, Iya, karena sesungguhnya tidak layak bagiku untuk mengatakan sesuatu melainkan mengatakan hanya kebenaran” (Lihat shahih Ibnu Khuzaimah, Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan)
[Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Lahir dan Batin]
Ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun perlu dicermati bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas seseorang memajangkan jenggotnya, lalu dia kenakan jubah panjang di atas mata kaki dan memakai tutup kepala. Memang benar bahwa diantara perkara-perkara yang kami sebutkan tadi sebagiannya adalah perkara wajib, namun perlu dipahami bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meliputi aspek lahir dan batin.
Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam perkara aqidah, akhlak, mu’amalaat maupun dalam perkara ibadah. Tidak kita katakan, ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebagian perkara, namun ternyata meninggalkan ittiba’ dalam perkara=perkara yang lainnya. Bahkan mungkin kita meninggalkan perkara yang jauh lebih penting dan lebih utama.
Semisal contoh adalah kewajiban untuk memanjangkan jenggot. Sudah tidak ragu lagi bahwa ini merupakan perkara yang wajib bagi seoarang laki-laki muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot kalian dan pangkaslah kumis-kumis kalian” (Hadits riwayat Bukhori, dari shahabat Abdullah bin Umar)
Bukanlah maksud kami untuk meremehkan dan menganggap kecil kewajiban yang satu ini. Namun yang menjadi masalah adalah jika kita semangat dalam memanjangkan jenggot, akan tetapi bersamaan dengan itu kita melalaikan perkara aqidah. Yakni aqidah tauhid yang karena tujuan tersebut lah Allah ta’alamenciptakan manusia dan jin, dan karena itulah Allah mengutus para Rasul-Nya dan Allah  menurunkan kitab-kitab-Nya.
[Tauhid adalah Perkara Awal]
Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, (untuk menyerukan) sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut” (An Nahl : 36)
Demikianlah para rasul terdahulu, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau diutus oleh Allah ke muka bumi ini dalam rangka menegakkan tauhid, menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan memperingatkan manusia dari kesyirikan.
Allah ta’ala befirman,
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang yang pertama menyerahkan diri” (Al An’aam : 162-163)
Tauhid adalah perkara yang paling penting dan utama dalam agama ini, sedangkan kesyirikan adalah perkara yang paling berbahaya yang mengancam agama ini, baik syirik besar ataupun syikrik kecil. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu sallam berkata kepada para shahabat,
الشِّرْكُ أَخْفَى فِيكُمْ مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، ثُمَّ قَالَ : أَلا أَدُلُّكَ عَلَى مَا يُذْهِبُ عَنْكَ صَغِيرَ ذَلِكَ وَكَبِيرَهُ ؟ قُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لا أَعْلَمُ
“Kesyirikan itu lebih samar daripada jejak semut, kemudian Rasul bersabda, maukah kalian aku kabarkan bagaimana cara membebaskan diri dari syirik besar dan syirik kecil? Katakanlah (berdoa kepada Allah), ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan yang aku ketahui (sadari), dan aku memohon ampun atas kesyirikan-kesyirikan yang aku tidak mengetahuinya” (lihat jami’us shoghir, dishohihkan oleh Syaikh Al Albany, Asy Syamilah)
Lihatlah bagaimana upaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga para shahabat dari bahaya kesyirikan, baik syirik kecik ataupun syirik besar…
[Ittiba’ dalam perkara Akhlak]
Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga mencakup ke dalam perkara akhlak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimana pun engkau berada, ikutilah keburukan (yang telah engkau perbuat) dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus (kejelekan tersebut), dan berakhlaklah engkau kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Mu’adz bin Jabal)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para shahabat,
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, . قَالُوا وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أَمَّهُ فَيَسُبُّ أَمَّهُ
“Sesungguhnya diantara dosa yang paling besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri”, para shahabat lantas bertanya, “Bagaimana kok bisa seseorang mencela orang tuanya sendiri???”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang mencela ayah orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ayahnya, dan seseorang mencela ibu orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ibunya” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)
Ini merupakan salah satu pintu dari syaitan untuk menggelincirkan manusia, yaitu menjadikan celaan kepada orang tua orang lain sebagai wasilah celaan kepada orang tuanya sendiri secara tidak langsung. Lantas bagaimanakah apabila kita secara langsung mencela orang-orang terdekat dengan kita??? Bagaimanakah jika kita langsung mencela tetangga kita dan saudara kita?
[Diantara Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Menghormati Tetangga]
Dalam musnad Imam Ahmad, terdapat kisah tantang seorang  shahabat yang berkata kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, shahabat tersebut mengatakan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَذْكُرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِى جِيرَانَهاَ بِلِسَانِهَا قَالَ « هِىَ فِى النَّارِ »
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ada seoarang wanita yang terkenal dengan banyaknya sholat malam yang dia kerjakan, banyaknya puasa dan banyaknya sedekah yang dia infakkan, akan tetapi dia sering mengganggu tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia di neraka”(Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abu Hurairah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ
“Semoga Allah melaknat orang yang merubah batas-batas tanah (milik tetangganya)” (Hadits riwayat Muslim, dari shahabat Ali bin Abi Thalib)
Orang yang dengan sengaja menggeser batas-batas antara tanah milik tetangga dengan tanahnya adalah orang yang terlaknat oleh Allah ta’ala. Karena ini merupakan sebuah kedzaliman. Jika ini merupakan tindakan dzalim dalam urusan tanah seseorang, lantas bagaimanakah jika kedzaliman tersebut berkaitan dengan perkara kehormatan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أربى الربا استطالة المرء في عرض أخيه المسلم
“Sesungguhnya riba yang paling berat adalah merendahkan kehormatan seseorang muslim” (Hadits riwayat Baihaqi, dari shahabat Abu Hurairah)
Riba merupakan dosa besar, namun dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ada dosa riba yang paling besar, yakni merendahkan kehormatan saudaranya sesama muslim, baik denganghibah ataupun namimahNas’alullaha al ‘afiyah..
(bersambung Insya Allah…)
Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary -حفظه الله تعالى -
(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)
***