Thursday, October 14, 2010

Peran Dan Fungsi Masjid Dalam Islam

peran masjid dalam islam
Kata "masjid" dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali dalam Al-Quranul Karim. Berasal dari akar kata: sajada-yasjudu-sujudan, yang secara etimologis berarti tunduk, patuh dengan mengakui segala kekurangan, kelemahan dihadapan Yang Maha Kuasa dan Sempurna. Rasulullah SAW berkata dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim: “Yang paling dekat keadaan salah seorang diantara kamu dari Tuhannya adalah ketika ia sujud.”

     Jika sujud adalah situasi dan posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya, maka masjid (nama tempat) secara bahasa berarti: tempat atau wahana seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala (taqarrub). Taqarrub adalah merupakan misi/sasaran inti dari ibadah. Maka, masjid secara etimologis adalah tempat untuk mendekatkan diri pada Allah Ta`ala, disamping ia juga adalah sebagai pusat ibadah, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah.
  
Dengan pendekatan kebahasaan tersebut kita dapat merumuskan bahwa masjid secara terminologis adalah: suatu badan (institusi) yang diperuntukkan sebagai pusat ibadah dari orang-orang mukmin, dimana sentral kegiatan mereka berpusat disana, mulai dari kegiatan menghambakan diri kepada Allah Ta`ala sampai kepada perjuangan hidup yang berdimensi dunia semata.

     Dari sinilah dapat kita memahami bahwa sebutan masjid, sesungguhnya orientasi fungsinya harus lebih menonjol ketimbang orientasi fisik bangunannya seperti firman Allah Ta`ala dalam surat Al-Isra' dimana tatkala Allah Ta`alamenerangkan peristiwa Isra' nabi Muhammad SAW disebut dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsa, padahal secara fisik masjid yang disebutkan belum ada seperti yang dapat kita saksikan sekarang.

     Salah satu keistimewaan dari syariat Muhammad SAW dibanding nabi lainnya, adalah "seluruh bumi dapat dijadikan masjid". Berangkat dari pengertian-pengertian tadi, kita dapat memahami betapa sentralnya peran masjid di tengah-tengah umat Islam, dia menjadi pusat aktifitas dan kegiatan mereka, baik dalam bentuk ibadah khusus (ritual) maupun ibadah umum (sosial) dan hal-hal ini telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW sejak di masjid Quba sampai di masjid Nabawi di Madinah. Allah berfirman dalam Al-Quran: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah Ta`ala, maka janganlah kamu menyeru seseorang beserta-Nya.” (Q.S. Al-Jin (72):18)

     Barangkali berangkat dari ayat inilah, maka muncul sebutan Baitullah (rumah Allah) untuk menyebut masjid. Tentu saja dalam arti kiasan (majazi) bukan berarti secara fisik Allah Ta`alabertempat tinggal di masjid, karena Dia tidak terikat ruang dan waktu. Mengingat artinya adalah kiasan, maka pengertiannya bisa banyak: rumah tempat memohon rahmat Allah, rumah tempat memperoleh rahmat Allah Ta`ala, rumah tempat meminta kepada Allah Ta`ala, dan sebagainya sejauh yang dapat dikandung oleh pengertian peran dan fungsi rumah.

     Minimal ada dua konsekuensi logis dari sebutan mesjid sebagai bait Allah Ta`ala:
a. Tidak boleh ada orang, baik individu maupun kelompok yang mengklaim bahwa masjid adalah milik mereka. Karena itu tanah masjid statusnya harus menjadi tanah wakaf, yaitu tanah yang dipindahkan kepemilikannya dari manusia menjadi hak milik Allah Ta`ala.
b. Masjid harus dibangun diatas dasar tauhid dan takwa, sehingga karenanya pantangan utama dan pertama dari peran masjid adalah menjauhkan daripadanya hal-hal yang berbau syirik. Firman Allah dalam Al-Quran: “Sesungguhnya masjid itu dibangun diatas takwa” (Q.S. At-Taubah (9):108).  Dalam hadits kita temukan sabda Rasulullah SAW: “Masjid itu rumah tiap-tiap orang beriman.” Yang dimaksud dengan masjid rumah setiap orang mukmin ialah mereka sebagai pemegang amanat dari pemilik mutlaknya yaitu Allah Ta`ala, sehingga mereka itulah yang harus bertanggung jawab terhadap: pengadaannya,pendiriannya, perawatannya,ta'mirnya, pengembangannya,dan pendayagunaannya.

    Dari dua sumber syar'i (Allah Ta`ala dan Rasulullah SAW) tentang sebutan masjid dengan mempergunakan kata bait yang berarti rumah, maka pilihan tersebut pasti mengandung makna yang sangat dalam, paling tidak yang dapat kita kemukakan sebagai berikut:

a. Rumah adalah untuk tempat tinggal, tentu bukan untuk sementara, karena itu masjid adalah akan menjadi tempat tinggal yang membangunnya di syurga. (Hadits Nabawi)

b. Rumah adalah tempat berlindung dari bahaya yang mungkin akan membinasakan penghuninya, demikian halnya masjid akan dapat menyelamatkan manusia dari bahaya syirik, maksiat, kebodohan, dan kemiskinan. Tentu saja hal ini akan tercapai kalau masjid sudah difungsikan sesuai tuntunan Islam menjawab tuntutan zaman.

c. Rumah adalah tempat berteduh dari berganti-gantinya cuaca alam, maka demikian pula masjid, dia akan menjadi tempat berteduh dari pengaruh-pengaruh yang negatif terhadap kaum muslimin sebagai penghuninya.

d. Rumah adalah tempat terbina dan tumbuh suburnya kasih sayang diantara penghuni rumah itu, demikian pula masjid adalah tempat terbinanya persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah bagi keluarga muslimin penghuninya.

e. Rumah adalah tempat menyusun rencana, tempat start untuk berangkat bekerja dan bertugas dan tempat kembali mengevaluasi hasil yang dicapai, demikian pula masjid, dia harus berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga muslimin, dari sana mereka berangkat berjihad dan berdakwah, dan kesana hasilnya dievaluasi untuk selanjutnya disusun kembali program berikutnya.

f. Rumah adalah tempat leburnya status-status sosial penghuninya  yang diperoleh diluar rumah, demikian halnya masjid menjadi tempat leburnya status-status sosial antara jendral dengan kopral, pejabat dengan rakyat, konglomerat dengan yang melarat, melalui ikatan ukhuwah Islamiyah, disana tidak boleh lagi ada sekat-sekat birokrasi yang lazim menjadi pembeda antara si angkuh dan si rendah hati.

g.Rumah adalah tempat berhimpunnya kepentingan yang kadang-kadang berbenturan antara penghuni yang satu dengan lainnya, tetapi harus tetap rukun dengan pimpinan kepala rumah tangga, demikian halnya masjid tempat berhimpunnya berbagai kepentingan jamaahnya. Namun harus tetap harmonis, penuh toleransi, keterbukaan berkat kebijakan imam sang kepala rumah tangga muslimin disitu. Dari pendekatan sebuatan bait saja, sudah dapat kita bayangkan betapa besar dan strategisnya peran dan fungsi masjid di tengah masyarakat Islam, pendek kata ia menjadi pusat rumah tangga muslimin untuk segala kemaslahatan hidupnya baik dunia maupun akhirat.

Pembinaan masjid meliputi tiga bidang:


a. Idarah, yakni bidang manajemen mulai dari sumber daya manusia sampai kepada perangkat lunak dan keras manajemennya.


b. 'Imarah, yakni bidang pemakmuran masjid berupa kegiatan-kegiatan pelayanan umat atau jamaah, baik yang berkaitan dengan ibadah khusus atau ibadah umum. Dalam Al-Quran Allah Ta`alaberfirman: “Sesungguhnya yang dapat memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah:orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari yang akhir orang-orang yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat dia tidak takut melainkan hanya kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah (9):18). Menurut hemat kita, wallahu a'lam, ayat diatas mengisyaratkan bahwa yang dapat memakmurkan masjid itu hanyalah, orang yang beriman kepada Allah Ta`aladan hari akhir, ini menyangkut aspek aqidah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, menyangkut aspek syariah, sedangkan tidak takut selain kepada Allah Ta`ala, ini adalah aspek akhlak. Dengan demikian, makmur atau tidaknya sebuah masjid, adalah cerminan dari kekuatan aqidah, syariah, dan akhlak jamaah pendukungnya.

     Dari ayat diatas kita dapat memahami bahwa, ta'mir yang berkaitan dengan kegiatan masjid harus bertitik tolak dari aqidah, yaitu tauhid, tidak ada syirik, dan ikhlas semata karena Allah Ta`ala, mewujudkan syariah, baik ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayat, serta selalu menjunjung tinggi  al-akhlakul karimah.

      Perlu kita garisbawahi bahwa firman Allah Ta`aladiatas menggunakan kata "innama" (hanya), yang dalam 'ilmul ma'ani disebut adawat al-hashr (kata untuk menentukan hanya itu saja, diluar itu tidak bisa), ini menunjukkan bahwa tiga pilar diatas menjadi syarat mutlak untuk makmurnya sebuah masjid.

c. Ri'ayah, yaitu yang menyangkut dengan legalitas bangunan, arsitektur, kebersihan, keindahan, dan segala macam yang berkaitan dengan pembangunan dan perawatan.

     Kebanyakan yang terjadi di kalangan umat Islam dewasa ini khususnya di Indonesia, membangun masjid lebih hanya sebatas bidang fisiknya saja, sementara masalah manajemen, pemakmuran, serta perawatan luput dari perhatian kebanyakan orang, sehingga terjadilah kesenjangan amat lebar antara ajaran dan pengamalannya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Drs. Mas`adi Sulthani, MA
Ketua Dewan Da`wah Islamiyyah Indonesia 

Sunday, October 10, 2010

Kesusahan dan Kenikmatan Sebagai Ujian

Sesungguhnya, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Allah Ta'ala menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik amalannya. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya),

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2).

Qatadah -semoga Allah merahmatinya- berkata, "Allah telah mengumumkan kematian kepada manusia, dan Dia menjadikan dunia ini sebagai negeri kehidupan dan kebinasaan, dan Dia menjadikan akhirat negeri pembalasan dan kekekalan". (Tafsir ath-Thabari, juz 12 hal. 164).

Dan ujian Allah kepada manusia berupa perkara yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Qs. al-Anbiya': 35).

Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan", yaitu Kami akan menguji kamu kadang-kadang dengan musibah-musibah dan kadang-kadang dengan kenikmatan-kenikmatan, sehingga Allah akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, "Kami akan menguji kamu dengan kesusahan dan kemakmuran, kesehatan dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan." (Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Anbiya' (21): 35).

Sikap Manusia Terhadap Ujian Allah

Menghadapi ujian dari Allah Ta'ala tersebut, kebanyakan manusia tidak lulus. Hanya sedikit orang-orang yang lulus ujian, sedikit orang-orang yang beriman, sedikit orang-orang yang bersyukur kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yusuf  'alaihis salam,

Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” (Qs. Yusuf: 38).

Juga sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam,

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Qs. Yusuf: 103).

Oleh karena itulah, jumlah yang banyak bukanlah standar kebenaran. Standar kebenaran adalah wahyu yang dibawa oleh Rasulullah dari Allah Ta'ala, yang dipahami oleh para sahabatnya.

Sikap Manusia Menghadapi Ujian Kesusahan

Banyak manusia berputus asa dengan kesusahan yang mereka alami, seolah-olah kesusahan itu tidak akan hilang dari mereka. Allah juga berfirman (yang artinya),

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika dia ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Qs. Fushilat: 49).

Imam Ibnu Katsir berkata, "Manusia itu tidak bosan meminta kebaikan kepada Rabb-nya, yaitu meminta harta, kesehatan badan, dan lainnya. Namun jika keburukan menimpanya, yaitu musibah atau kemiskinan, dia menjadi putus asa lagi putus harapan, yaitu terbetik pada pikirannya, bahwa setelah itu kebaikan tidak akan pernah menghampirinya". (Tafsir Ibnu Katsir, surat Fushilat: 49).

Sikap Manusia Menghadapi Ujian Kesenangan

Namun sebaliknya, jika manusia itu mendapatkan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, maka kebanyakan mereka melupakan kepada Penciptanya. Mereka menganggap bahwa mereka berhak mendapatkan kenikmatan itu, mereka menganggap itu semua karena usahanya dan kepandaiannya. Kemudian kebanyakan mereka berbuat melewati batas!

Dan sesungguhnya kebanggaan dan kesombongan itu tidak menyelamatkan mereka dari siksa Allah sedikitpun. Allah berfirman (yang artinya):

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, Maka, tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.” (Qs. az-Zumar: 49-50).

Allah juga berfirman (yang artinya),

Dan jika Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya' Maka, Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka adzab yang keras.” (Qs. Fushilat: 50).

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, "Yaitu jika manusia mendapatkan kebaikan dan rezeki setelah kesusahan, dia mengatakan, 'Ini untukku, aku berhak mendapatkannya di sisi Rabb-ku.'"

Firman-Nya "dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang", yaitu dia kafir terhadap datangnya hari kiamat. Yaitu karena Allah memberikan kenikmatan, dia menjadi sombong, berbangga, dan kafir.

Firman-Nya "dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya", yaitu jika terjadi hari kiamat, maka Rabb-ku akan berbuat baik kepadaku, sebagaimana di dunia ini telah berbuat baik kepadaku. Dia berangan-angan kosong terhadap Allah 'Azza wa Jalla, padahal dia berbuat buruk dan tidak meyakini (hari Kiamat).

Firman Allah "Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan, dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras", yaitu Allah mengancam dengan hukuman dan siksaan terhadap orang yang perbuatannya dan keyakinannya seperti itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, surat Fushilat, 59).

Siapa yang Lulus Ujian?

Walaupun demikian, namun masih ada orang-orang yang lulus menghadapi ujian tersebut sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, 'Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku', sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Hud: 9-11).

Imam Ibnu Katsir berkata, "Allah Ta'ala memberitakan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada padanya, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah, yaitu hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahwa manusia itu jika ditimpa oleh kesusahan setelah kenikmatan, dia berputus asa dari kebaikan terhadap masa depan, dan dia mengingkari (kebaikan) yang telah lewat, seolah-olah dia tidak pernah melihat kebaikan, dan setelah itu dia tidak berharap kelonggaran. Demikian juga jika manusia itu mengalami kenikmatan setelah kesusahan, "dia akan berkata, 'Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku.'”, yaitu setelah ini, kesusahan dan keburukan tidak akan menimpaku lagi.

Firman-Nya "Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga", yaitu dia bergembira dan bersombong dengan apa yang ada di tangannya, berbangga terhadap orang lain. Firman-Nya, "Kecuali orang-orang yang sabar", yaitu menghadapi kesusahan-kesusahan dan perkara-perkara yang tidak disukai; firman-Nya

"Dan mengerjakan amal-amal shalih", yaitu pada waktu longgar dan sehat; firman-Nya "Mereka itu beroleh ampunan", yaitu dengan sebab kesusahan yang mereka alami; firman-Nya, "Dan pahala yang besar", dengan sebab amalan mereka pada waktu longgar." (Tafsir Ibnu Katsir, surat Hud: 9-11).

Maka, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat, bersabar terhadap musibah, dan beramal shalih pada setiap saat sesuai dengan kemampuan kita. Amin.

Penulis: Ustadz Muslim Al-Atsari Artikel www.PengusahaMuslim.com

Saturday, October 2, 2010

Masjid Agung Sunda Kelapa

Bagi Anda yang tinggal atau bekerja di seputaran Menteng, tentu tak asing lagi dengan nama Masjid Agung Sunda Kelapa. Masjid yang terletak di jalan bernama sama di Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat ini sudah berdiri kokoh selama 38 tahun. Sebagian besar warga ibukota kerap berkunjung ke sana karena masjid itu terbilang unik sekaligus mengesankan.

Dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas pada tahun 1960-an, desain interior dan eksterior masjid ini dipenuhi simbol-simbol fleksibel. Tidak kaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid. Abbas adalah arsitek lulusan Insitut Teknologi Bandung [ITB], yang mematahkan arsitektur masjid di tanah air pada umumnya. Karyanya juga dapat Anda rasakan pada Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung.

Tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Agung Sunda Kelapa tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu.

Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya.

Abbas, tak sendirian. Ia didukung para jenderal di Menteng yang menyumbangkan dana awal pembangunannya. Para jenderal merasa harus meluruskan kekeliruan sejarah atas G30S/PKI, dengan membangun sebuah masjid yang nyaman untuk pelaksanaan ibadah. Karena pembangunan tak kunjung selesai, Pemda DKI Jakarta semasa Ali Sadikin [alm], merasa harus turun tangan Pemda merampungkan pembangunannya sampai berdiri kokoh pada tahun 1970.

Menempati area 9.920 m², Masjid Agung Sunda Kelapa mampu menampung 4.424 jamaah. Ini ditunjang dengan Ruang Ibadah Utama Masjid Sunda Kelapa, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta.

Staf operasional Masjid Agung Sunda Kelapa, Rudi, bertutur, “Dengan ruangan kantor lima lantai, Masjid Agung Sunda Kelapa siap melayani umat seminggu penuh pukul 08.00-20.00 WIB. Terdapat BMT yang melaksanakanaktivitas ekonomi dan layanan kesehatan cuma-cuma bagi fakir-miskin yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika.”

Untuk keyamanan ibadah, lanjutnya, dilengkapi dengan penitipan sepatu yang siap digukanakan untuk 300 pasang, keran wudhu berjumlah 72, kakus duduk sebanyak 30, AC, dan kipas angin.
Selain itu disediakan pula layar lebar CCTV bagi yang tidak bisa melihat khatib Jum’at secara langsung, dengan sound system yang terbilang modern. Tempat parkirnya mampu menampung 500 mobil dan atau 600 motor.

Bagian lain Masjid Sunda Kelapa disediakan untuk resepsi pernikahan. Acara akad nikah biasanya di Ruang Ibadah Utama dan jamuan makan di Aula Sakinah dengan pasilitas lengkap untuk 700 orang. Sementara untuk acara rapat, tersedia ruangan yang bisa menampung 60 orang. Dan untuk acara seminar, tersedia ruangan yang bisa menampung 150 orang.

Tampaknya, pengelola Masjid Sunda Kelapa harus menunjang pelayanan umat dengan pengembangan spiritual. DR. Suwendi, bagian Keagamaan Masjid Agung Sunda Kelapa menegaskan, “Khatib Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa minimal setingkat magister. Dan materi yang disampaikannya dibagikan secara cuma-cuma sebanyak 1.500 eksemplar pada minggu depannya dalam bentuk Bulletin Masjid Agung Sunda Kelapa.”

“Masjid Agung Sunda Kelapa berusaha mengambil potret pengelolaan masjid semasa rasul. Berfungsi secara sosial dan spiritual bagi umat di sekitarnya,” akunya lagi.

Untuk mematangkan dimensi spiritual, pengelola Masjid Agung Sunda Kelapa menawarkan aneka program. Anda dapat memilih mana yang paling memung-kinkan untuk diikuti. Setiap hari terdapat pengajian dengan materi-materi pokok ke-Islam-an.

Bagi yang biasa melaksanakan puasa Senin-Kamis, Masjid Agung Sunda Kelapa menyediakan buka puasa cuma-cuma yang disusul dengan pelaksanaan penga-jian. Yang paling spektakuler adalah program ‘Itikaf. Program ini, berbentuk aktivitas berdiam diri di masjid dalam waktu yang telah ditentukan. Pada 27 Ramadhan lalu, pesertanya mencapai 4.000 orang. Semua ruangan dijejali ja-maah yang duduk khusus melantunkan dzikir dan do’a.

Selepas shalat Jum’at, rasa lapar-dahaga Anda dapat dipuaskan dengan ragam jajanan yang ada di sekeliling masjid. Menu yang ditawarkan adalah makanan khas tanah air. Jangan berharap menemukan makanan siap saji layaknya di mal.

Makanan yang paling sering dipesan adalah tongseng. Daging kambing dimasak dengan tambahan kol, bawang putih, cabe, merica, dan tomat. Cara masaknya sangat menggoda lidah. Baunya terhirup sedap karena direbus dengan ketel di atas perapian arang batok kelapa, yang dikipas anyaman bambu.

Anda akan cukup puas dengan merogoh kocek Rp. 10.000 untuk semangkok tongseng dan sepiring nasi. Untuk mengusir rasa dahaga sehabis makan tongseng, pilihan pertama adalah minuman es kelapa seharga Rp. 5.000,- atau teh botol seharga Rp. 2.500,-.

Biasanya, orang berkerumun memesan tongseng ditemani asap dari perapian. Sementara yang lainnya berjejer memenuhi deret kursi sambil menyantap tongseng ditemani es kelapa atau teh botol. Tongseng ternyata tak hanya ramai dikunjungi pembeli pada hariJum’at. Penjual tongseng biasanya pulang lebih awal di antara penjual makanan lainnya.

Bagi jamaah yang ingin cepat pulang, tapi perut harus tetap terisi, bisa memesan Selendang Mayang dengan harga Rp. 2.000,-. Makanan khas Betawi ini, terbuat dari tepung beras. Baunya harum dan berwarna hijau muda, karena racikannya bercampur daun suji. Dihidangkan dengan santan kelapa, gula, dan sedikit es batu.

Bagi yang merasa dahaga tapi dompetnya sedang tipis, tak perlu berkecil hati. Sambil tersenyum ramah, Sales Promotion Girl produsen minuman akan menawarkan minuman dingin secara cuma-cuma. Mereka kerap berjejer di bibir pintu gerbang, selepas shalat Jum’at.

Jika Anda tengah berada di bilangan Menteng, jangan ragu untuk shalat Jum’at di Masjid Agung Sunda Kelapa. Di sana, Anda akan shalat Jum’at dengan nyaman sekaligus dimanjakan beragam jajanan yang murah dan memuaskan.

( sumber diambil dari Alif Magazine )


Visi dan Misi
Meningkatkan faham, pengertian dan penerapan ajaran-ajaran Islam, diantaranya dengan jalan penanaman jiwa tauhid dan mempergiat serta mengintensifkan pendidikan/pengajaran agama Islam termasuk tabligh-tabligh, dakwah-dakwah dan kegiatan lainnya. (AD/ART MASK, Pasal 2 - Maksud dan Tujuan)





Susunan Pengurus MASK 2005 - 2010 
Dewan Kehormatan 
1. Walikotamadya Jakarta Pusat
2. H. Try Sutrisno
3. DR. Ing. H. Fauzi Bowo
4. H. Wiyogo Atmodharminto
5. H. Husein Soeropranoto
6. H. Soedjana Saleh
Dewan Pakar
1. Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, MA
2. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
3. DR. H.M. Masyhoeri M. Naim, MA
4. DR. KH. Zakky Mubarak, MA
5. Drs. KH. Saifuddin Amsir
6. Drs. KH. A. Nur Alam Bakhtir
Pengurus

Ketua Umum
H. Sjaiful Hamid
Wakil Ketua
H. Erwal Gewang
Sekretaris Umum
Dr. Ir. H. Irwan Adi Ekaputra, MM
Wakil Sekretaris
H. Zamriful
Bendahara Umum
Hj. Nurul 'Aini S. Gatam
Wakil Bendahara
Drs. H. Fathurin Zen, SH, M.Si

Struktur Organisasi Pelaksana 
1. Kordinator Pelaksana
H. Asril Zainuddin
2. Kepala Bidang Pendukung Operasi
Adhi Laksono
3. Kepala Bidang Keagamaan
Dr. H. Suwendi MAg
         Bagian Dakwah dan Kajian Islam
H. Suwendi, M.Ag
         Bagian Ibadah Mahdoh
H.M. Amir Jufri, S.Ag
         Bagian Majlis Taklim
Hj. Euis K. Syarbanu
         Bagian KBIH
Drs. H. Fathurin Zen, SH, M.Si
         Bagian Zakat Infaq Shadaqah
Hanifa Busra
4. Kepala Bidang Sosial
-
         Bagian Pembinaan Institusi
-
         Bagian Pembinaan Individu
Hanifa Busra
         Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA)
Eko Yuniarto
5. Kepala Bidang Usaha
Ir. H. Fahmi Askar
         Bagian Jasa Property
Ir. H. Fahmi Askar
         Bagian Perdagangan/Koperasi
Rudin Kurniadi
         Bagian Sekolah & Pend. ISlam
Drs. H. M. Kamil M.Si
         Bagian Jasa Pelatihan
Drs. Sutrisno, MM
http://masjidagungsundakelapa.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=48&Itemid=60


H Zamriful: 'Kuncinya Menjaga Kepercayaan Jamaah'




Sulit rasanya mencari waktu sepi di Masjid Sunda Kelapa (MASK) yang terletak di kawasan elit Jalan Taman Sunda Kelapa No 16 Menteng Jakarta Pusat, terutama selama bulan suci Ramadhan. Sejak shubuh, dluha, dzuhur, ashar bahkan hingga shalat tarawih, antrian panjang mobil terlihat di masjid ini. Bahkan untuk shalat tarawih, tak sedikit jamaah yang harus memarkir kendaraannya puluhan meter dari masjid, karena sulitnya mencari tempat parkir di sekitar masjid.


Semarak amaliyah Ramadhan sudah dimulai sejak shubuh. Beranjak siang, ada ceramah dzuhur yang diadakan selama setengah jam sejak pukul 12.00-12.30, dan tadarus Alquran setengah jam pukul 15.30-16.00. Pengajian tematik -- fikih, hadis, tasauf, sejarah Islam, tafsir -- dan pengajian umum dilangsungkan setelahnya, yaitu 16.00-18.00. Setelah buka bersama, diselenggarakan shalat tarawih.
Antara waktu dluha dengan dzuhur, tak sedikit karyawan, sopir taksi maupun masyarakat umum yang sengaja i'tikaf sambil tadarus Alquran. Jumlah jamaah di setiap kegiatan bukan puluhan, tapi ratusan. Jamaah shalat tarawih, misalnya, tak pernah kurang dari angka 500 orang. Mereka datang dari segala penjuru Jakarta, bahkan dari pinggiran Jakarta, seperti Bogor dan Pamulang. Mengapa jamaah begitu antusias?


''Kita senantiasa memberikan kepercayaan kepada jamaah bahwa apa yang mereka berikan kepada masjid, kita kembalikan lagi kepada jamaah. Sikap ini yang ditularkan Ketua Umum MASK H Sjaiful Hamid kepada seluruh pengurus dan petugas,'' tegas H Zamriful yang dipercaya sebagai Koordinator Pelaksana MASK kepada Republika, Senin (10/10), di Masjid Sunda Kelapa. Berikut ini petikan wawancara lengkap dengan pensiunan karyawan Pertamina tersebut:


Apa saja kiat agar kegiatan mesjid tetap hidup dan semarak?

Pertama, bagaimana memberikan kepercayaan kepada jamaah bahwa apa yang mereka berikan kepada masjid kita kembalikan lagi kepada jamaah. Misalnya, kita mengadakan kajian, maka uang yang dipungut dari kotak infak kita kembalikan lagi kepada mereka dalam bentuk buku yang berisi ceramah tersebut. kedua, kita menghadirkan penceramah-penceramah yang kapabel. Nah, jamaah merasakan dari apa yang dia berikan kita kembalikan lagi kepada mereka. Jadi, masjid dalam hal ini tidak mencari untung.



Pengurus betul-betul menjadi pelayan jamaah, ya?

Betul. Dari segi pelayanan misalnya, jamaah selalu kita berikan buku-buku hasil ceramah dari mubaligh-mubaligh minggu lalu. Jadi, kita nggak mengambil pungutan lagi. Semua berasal dari infak yang mereka berikan melalui kotak amal dan ada juga dari sedekah yang mereka sampaikan.



Penyusunan program Ramadhan di Masjid Sunda Kelapa sendiri bagaimana?

Untuk kegiatan Ramadhan, setahun sebelumnya sudah kita susun agenda acaranya, mubalighnya sudah kita hubungi kalau dia setuju tinggal kita berikan jadwalnya kepada mereka. Selama ini alhamdulillahjadwal mereka tepat waktu. Kita betul-betul memberikan jadwal kepada mereka jauh hari sebelumnya. Kita berikan kepercayaan kepada mereka dan mereka pun merasa yakin kepada pengurus masjid bahwa dia tidak akan kecewa dengan Sunda Kelapa.



Seperti pengajian Dzuhur atau Ashar, bagaimana menarik begitu banyak jamaah untuk hadir?

Ya. Karena kita pilih penceramahnya berkualitas. Dengan kualitas penceramah, otomatis ini yang menarik para jamaah untuk datang di setiap kajian kita. Promosi kita melalu spanduk-spanduk dan brosur yang ditempelkan di masjid.



Masjid Sunda Kelapa memiliki jamaah inti?

Jamaah tetap kita ada sekitar 3.500, tapi masih akan terus bertambah. Kebetulan belum lama ini memberikan angket kepada jamaah untuk diisi dan masih terus berdatangan yang mengisi angket.



Materi apa yang paling diminati oleh jamaah? 

Yang paling digemari yaitu materi tafsir, 
asmaul husna, dan sejarah nabi yang disampaikan Prof DR Quraish Shihab dan Abdul Qodir.



Audiensnya dari mana saja?

Kebanyakan dari luar kawasan Menteng. Kalau untuk warga Menteng paling-paling antara 10 sampai 15 persen. Selebihnya ada yang dari Bandung, Sukabumi, dan daerah lain, terutama untuk yang kajian Ahad. Kalau Ramadhan, jamaah ada yang datang dari Depok, Bekasi, Bintaro, Pondok Labu, dan wilayah lainnya di sekitar Jakarta.



Apa kendala dengan membludaknya jamaah?

Kendala kami hanya pada lahan parkir. Tapi, kami sudah melakukan kerjasama dengan Walikota Jakarta Pusat untuk urusan parkir di luar di sekeliling masjid itu diatur pihak mereka dan juga kita mendapatkan pengamanan. Selain itu dari segi keamanan. Misalnya, beberapa hari yang lalu ada barang-barang jamaah yang hilang. Tapi, kita melakukan kerjasama dengan pihak kepolisian yang berjaga setiap ada pengajian. Jadi, komunikasi dengan aparat keamanan kita jalin. Dari pihak masjid setiap malam ada dua orang yang piket menjaga keamanan. Untuk shalat tarawih ada dua orang yang bertugas mengawasi.



Ada standar khusus dalam menentukan penceramah?

Itulah poin bagi Sunda Kelapa. Kita mencari penceramah yang berkualitas sehingga dengan kualitas yang baik. Dengan begitu, jamaahnya pun mendengar dan menyimak dengan baik. Kualitas penceramah mendongkrak jumlah jamaah sehingga infak yang kita terima makin banyak hasilnya. Di samping pelayanan kita, setelah acara selesai para petugas langsung membersihkan tempat acara.



Berapa jumlah karyawannya untuk mengurus kegiatan masjid ini?

Untuk petugas kebersihan saja sekitar 25 orang jadi mereka bergiliran. Khusus bulan Ramadhan, mereka menginap di masjid. Mereka kita atur ke dalam dua shift.



Bagaimana dengan distribusi zakat, infak, dan sedekah?

Untuk zakat sampai hari ini sudah kita terima lebih dari Rp 500 juta, terutama dari zakat mal. Selain mengurus kegiatan pengajian yang diadakan setiap hari, Masjid Sunda Kelapa juga punya anak asuh sebanyak 200 orang dengan mentor atau guru pembimbing sebanyak 25 orang. Kegiatan mereka setiap hari selama Ramadhan dari tanggal 1 sampai 30 Ramadhan dari pagi hingga pukul 14.00 WIB. Mentor itu kita berikan khusus uang kesejahteraan selain mendapatkan makanan untuk berbuka puasa setiap hari.



Tampaknya hampir seluruh kegiatan di Masjid Sunda Kelapa ini selalu dipadati jamaah. Apa kunci suksesnya?

Seperti yang saya katakan dimuka bahwa orang tertarik dengan pelayanannya, kenyamanan, kebersihan. Sajadahnya semua adalah sumbangan dari jamaah. Sound system baru kita beli delapan bulan yang lalu sekitar Rp 60 jutaan. Itu semua dari jamaah. Di sini ada Diska atau Pendidikan Sunda Kelapa, semacam anak taman kanak-kanak dan baru kemarin saya tutup karena menjelang Ramadhan. Masjid ini juga diminta oleh para jamaah untuk menyediakan mobil jenazah.



Bagimana pengaturan petugasnya?

Kita punya tiga orang imam tetap terbaik dengan status karyawan. Mereka mendapatkan gaji di samping itu mendapat tunjangan sekolah bagi anak-anak mereka. Muadzin juga mereka secara bergiliran. Mereka ada tempat tinggal khusus, tempat tidur dan kamar mandi khusus. Imam shalat tarawih mereka juga, tapi kami berikan tips khusus. Kemarin kita adakan kursus ibu-ibu dan bapak-bapak, kita pilih yang terbaik dan yang mau untuk siang dan malam stand by di sini.



www.republika.co.id

Masjid Raya Al A’zhom

Kotamadya Tangerang, Banten, ternyata memiliki sebuah masjid besar dan unik yang menjadi kebanggaan warga kota, yang diberi nama Masjid Raya Al A’zhom. Salah satu keunikan Masjid Raya Al A’zhom ini adalah pada bentuk kubahnya, baik tampak luar maupun dalam, serta tidak adanya pilar yang menopang kubah, membuat ruang utama Masjid Raya Al A’zhom menjadi terkesan sangat luas.

Bangunan Masjid Raya Al A’zhom seluas 5.775 m2 ini dibangun di atas tanah seluas 2.225 ha. Ruangan di dalam Masjid Raya Al A’zhom dapat diisi 15.000 jamaah yang ditampung di lantai bawah dan atas, masing-masing dengan luas 4.845 m2 dan 910 m2. Masjid Raya Al A’zhom ini selain dipergunakan sebagai tempat ibadah, juga dipakai untuk berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Masjid Raya Al A'zhom
Masjid Raya Al A’zhom memiliki bentuk kubah yang besar bertumpuk dan berjumlah lima, dengan satu kubah besar berada di tengah-tengah. Terlihat keempat menara bersusun empat yang ramping dan tinggi mengelilingi Masjid Raya Al A’zhom di tiap sudutnya.
Masjid Raya Al A'zhom
Daerah mihrab Masjid Raya Al A’zhom dengan kaligrafi Arab bertuliskan ‘Allah’ dam ‘Muhammad’ dengan detail yang indah yang dilekatkan pada dinding marmar hitam di sebelah kiri dan kanan. Adapula kaligrafi kalimat tauhid yang menempel di dinding ruang imam, serta kaligrafi ayat Qur’an lainnya yang dikerjakan dengan halus dan indah.
Masjid Raya Al A'zhom
Mimbar yang terbuat dari tembaga dan kayu, dengan kubah kecil di atasnya, tampak diletakkan pada posisi yang agak berjauhan dengan mihrab.  Di kebanyakan masjid, mimbar diletakkan di sebelah ruangan yang diperuntukkan untuk imam.
Masjid Raya Al A'zhom
Bayang pilar-pilar Masjid Raya Al A’zhom di atas lantai marmer yang gilap. Komposisi ini dimungkinkan karena tidak adanya pilar besar di tengah ruangan yang lazimnya dipakai sebagai penyangga kubah masjid.
Masjid Raya Al A'zhom
Pada foto di atas dapat dilihat bagian tengah ruangan Masjid Raya Al A’zhom yang sangat luas, tanpa terganggu adanya empat pilar beton penyangga kubah yang biasanya berada di bagian tengah ruangan masjid.
Masjid Raya Al A'zhom
Kaca lukis dengan huruf kaligrafi ‘Allah’ dan motif bunga disamping kiri-kanannya, memberi cahaya tambahan ke dalam ruangan dan memperindah bagian dinding samping Masjid Raya Al A’zhom.
Masjid Raya Al A'zhom
Bagian tengah ruangan Masjid Raya Al A’zhom dipotret dengan memakai lensasuper wide angle, yang memperlihatkan luasnya ruang tanpa adanya pilar penyangga kubah masjid.
Masjid Raya Al A'zhom
Bagian dalam kubah utama Masjid Raya Al A’zhom, dengan garis-garis melingkar dan memusat serta ornamen indah di sekelilingnya. Langit-langit kubah ini sangat tinggi, namun besarnya kubah membuat lensa super wide angle pun tidak mampu menangkap seluruh bagian kubah.
Masjid Raya Al A'zhom
Ornamen konsentris dengan nuansa warna lunak di salah satu bagian dalam kubah Masjid Raya Al A’zhom, serta  tulisan kaligrafi yang sangat detil dan indah di sekelilingnya.
Masjid Raya Al A'zhom
Kubah yang posisinya saling bertumpuk membuat ornamen bagian dalam kubah Masjid Raya Al A’zhom menjadi terlihat rumit dan agak tidak lazim, namun tetap saja indah untuk dinikmati.
Masjid Raya Al A'zhom
Pilar-pilar yang berjajar rapi membentuk komposisi simetris di bagian samping Masjid Raya Al A’zhom tampak indah untuk dipandang mata. Ruang samping masjid seperti ini sering dijadikan tempat untuk beristirahat meluruskan punggung, dan terkadang malah sampai pulas, karena berbaring di dalam masjid biasanya tidak diperbolehkan.
Masjid Raya Al A'zhom
Seorang jamaah tampak tengah tertidur di samping bedug raksasa Masjid Raya Al A’zhom yang kabarnya merupakan bedug masjid yang terbesar di Indonesia. Tulisan kaligrafi indah yang menghiasi batang bedug juga merupakan satu keindahan yang belum pernah saya lihat di masjid-masjid yang lain.
Masjid Raya Al A'zhom
Monumen peresmian Masjid Raya Al A’zhom yang berada di halaman masjid. Pembangunan Masjid Raya Al A’zhom dimulai pada bulan Juli 1997, dan diresmikan penggunaannya pada 23 Aprl 2003, menelan biaya sebesar Rp. 28,3 milyar.
Masjid Raya Al A'zhom
Foto Masjid Raya Al A’zhom diambil dari area parkir di depan Kantor Walikota Tangerang.  Masjid Raya Al A’zhom ini dirancang oleh Ir. Slamet Wirasonjaya, salah seorang Guru Besar Jurusan Arsitektur ITB.

MASJID RAYA AL A’ZHOM

Kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang,
Jalan Satria Sudirman No. 1, Tangerang, Banten.

Friday, October 1, 2010

Pema`zulan Sa`ad Bin Abi Waqqash

Belakangan ini ramai orang membicarakan soal pema'zulan terkait dengan situasi politik di Parlemen akhir-akhir ini. Sebagai bagian dari warga Negara, ada baiknya kita mengetahui pandangan Fikih Islam soal pema'zulan ini.  Pema'zulan diambil dari kata 'Azl yakni pemberhentian. 


Fikih Islam mengenal dua istilah 'Azl; pertama 'azl suami-isteri yang dikenal dengan KB-Islam yaitu mencabut kelamin dari kelamin dan menumpahkan airnya di luar. 'Azl kedua, 'azl kekuasaan yang kita sebut dengan impeachment atau maqlu. 'Azl kedua ini yang ingin kita telaah. 


Dalam sejarah kekhalifahan, ada dua kategori pema'zulan, 


pertama: Pema'zulan permanen (ma'zul mu'abbad) dengan menurunkan kepala negara atau pejabat tinggi negara dari jabatannya,  hak-haknya jadi hilang, rakyat tidak punya kewajiban untuk mentaatinya lagi. Sesuai hadits 'Imran bin Hushein, Laa thaa'ata limakhluwqin Fiy Ma'shiyatillah, tidak ada ketaatan kepada makhluk jika dia sudah melakukan maksiat. (H.R. Muslim 3/479)


Kedua: Pema'zulan sementara alias non-aktif (ma'zul muhaddad/mu'ayyan) yang tidak secara langsung mengeluarkan dirinya dari jabatan Khalifah, namun secara syar'i dia tidak boleh melanjutkan jabatannya hingga kasusnya dinyatakan tuntas oleh mahkamah. Pema'zulan kedua ini yang menimpa Sa'ad bin Abi Waqqash RA.


     Pema'zulan langsung bisa disebabkan; (1) Jika dia murtad, (2) Khalifah gila parah yang tidak bisa disembuhkan, (3) Khalifah di tawan oleh musuh yang kuat, yang  tidak mungkin bisa melepaskan diri dari tawanan tersebut. Bahkan tidak ada harapan untuk bebas. 


     Pema'zulan Berjenjang, manakala; (1) Khalifah melakukan kefasikan secara terang-terangan, (2) Khalifah berubah kelaminnya menjadi perempuan atau waria (operasi kelamin) atau kebanci-bancian (khuntsa; mutakhannisat), (3) Khalifah gila, namun tidak parah, terkadang sembuh terkadang gila (kambuhan), (4). Khalifah tidak dapat menjalankan tugas kekhalifahannya karena suatu sebab, baik cacat anggota tubuh maupun sakit keras yang sulit diharapkan kesembuhannya.(5) Khalifah mendapatkan tekanan dari berbagai pihak yang berakibat ia tidak dapat mengurusi urusan ummat menurut pikirannya sendiri (tidak merdeka) sesuai dengan hukum syara'. Tekanan ini bisa berasal dari para pendamping Khalifah (seperti para pejabat setingkat menteri , kelompok partai maupun tekanan pihak asing.


    Pihak yang berhak untuk mema'zulkan adalah qadhi (hakim) pada Mahkamah Madzalim (Mahkamah Konstitusi), tentunya setelah pengadilan membuktikan penyimpangan-penyimpangan yang bersangkutan. Ahlussunnah wal-Jama'ah berpandangan bahwa hak pema'zulan berada di tangan Mahkamah, bukan di tangan rakyat. Sementara Khawarij dan Syi'ah berkeyakinan, bahwa pema'zulan berada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memilih pemimpin, dan mereka berhak melengserkannya melalui gerakan revolusi atau gerakan perlawanan yang bersifat massal alias kerusuhan.   Nafi' bin 'Azraq  tokoh khawarij adalah pelopor gerakan revolusi. 


Pema’zulan Sa’ad bin Abi Waqqas


       Di era Khalifah Umar (13-23 H), Gubernur Kufah dipercayakan kepada Sa'ad bin Abi Waqqash. Sa'ad adalah 10 Sahabat yang dijamin masuk syurga. Dia orang ke-7 yang masuk Islam dalam usia 19 tahun, dia disebut sebagai Saabi'us-Sab'ah; tujuh yang menggenapkan,. Sa'ad adalah ahadus-sittah min ahli's-syuuraa, team-7 dari formatur pengganti khalifah Umar. Rasulullah SAW pernah memanggilnya di hadapan pertemuan terbuka "anta khaaliy fal-yurini'm-ri'in khaalahu.", Sa'ad engkau adalah pamanku, maka tampakkanlah padaku siapa paman kalian." Kawan-kawanku berpikir 1 pekan untuk masuk Islam, sedang aku hanya berpikir, 3 malam. Sa'ad bin Abi Waqqash termasuk sahabat yang terbilang berani mengambil resiko. Darah pertama yang tertumpah dalam sejarah da'wah dilakukan oleh Sa'ad. Dia memukul 'Abdullah bin Khathal; orang musyrik yang suka menganggu  para Sahabat yang sedang sholat di atas bukit. Sa'ad memukul orang musyrik itu dengan tulang rahang onta dan tewas seketika. Dia pula yang pertama memanah orang musyrik yang menganggu keamanan para sahabat. Sa'ad adalah panglima Nabi SAW yang disegani anak buahnya. Kemahirannya berkuda  dan memanah, sehingga Nabi pernah berdoa untuknya


     Tahun 21 H. Sa'ad terkena fitnah. Rakyat Kufah bersekongkol melaporkan Gubernurnya sendiri atas hasutan Usamah bin Qatadah. Sa'ad dipandang tidak baik dalam memimpin sholat berjama'ah. Khalifah Umar mema'zulkannya. Ammar bin Yasir diangkat menjadi gubernur sementara dengan tugas khusus mengimami sholat, dibantu oleh  Ibnu Mas'ud RA mengurusi Baitul Maal.  Soal pertanahan dipercayakan kepada 'Utsman bin Huneif RA. Satu orang Sa'ad diganti oleh 3 pejabat tinggi negara saat itu. 


Selesai kasusnya Sa'ad diangkat kembali jadi Gubernur Kufah. Setelah itu Kufah dipimpin oleh Gubernur baru Jabir bin Math'am  lalu Mughirah bin Syu'bah, hingga akhirnya Khalifah Umar terbunuh pada tahun 23 H.  Khalifah Utsman naik jadi khalifah, dan mengangkat kembali Sa'ad jadi Gubernur Kufah.  Sesuai usia, Sa'ad pensiun dan diganti oleh Walid bin 'Uqbah.

Faidah dari Hadits


(1) Boleh, mengadukan prilaku pejabat tinggi negara dengan etika politik "budi luhur," dengan asas praduga tak bersalah, seperti laporan rakyat Kufah pada khalifah Umar.


(2) Khalifah boleh mema'zulkan sementara waktu, pejabat yang bermasalah, dan mengangkatnya kembali setelah kasusnya tuntas. Khalifah Umar mengatakan, aku hanya memberhentikan pejabatku yang tidak memenuhi kriteria dan melakukan tindakan pengkhianatan.


(3) Khalifah tidak boleh serta merta menerima laporan pihak lain, sebelum menelusuri fakta yang sesungguhnya (tabayyun) oleh tim khusus yang ditunjuk, saat itu ketua Timnya adalah Muhammad bin Maslamah, asli orang Irak. 


(4) Dalam sejarah kepemimpinan; antara pemimpin dan yang dipimpin tidak selalu seiring-sejalan. Ini sunnatullah, selalu ada variatif (berlainan) bahkan sampai kontradiktif (berbeda).


(5) Tabiat politik dari dulu cenderung abu-abu, karena itu politik disebut dengan siyasah;semacam  ada udang dibalik batu. Pada mulanya Sa'ad tersangkut satu kasus, namun Aba Sa'dah menuduhnya dengan pasal berlapis, terkait dengan pribadi Sa'ad (tidak toleran terhadap prajurit), terkait dengan amanah (tidak sama dalam membagi harta) dan terkait dengan supremasi hukum (tidak adil dalam memutuskan perkara)  


(6) Cross-check (tabayyun); mencocokkan kembali benar-tidaknya berita dengan cara menanyakan langsung kepada orangnya, adalah kemestian dalam adab mengambil keputusan. Sa'ad diminta menghadap dari Irak datang ke ibukota Madinah. 


 (7) Posisi & kedudukan masjid dalam sejarah kekuasaan, memegang peranan penting, sehingga pasal penyimpangan  dalam memimpin sholat berjama'ah bisa mema'zulkan pejabat tinggi. 


(8) Jama'ah masjid punya suara dan hak yang sama dalam menilai  kinerja pemerintahan, bahkan punya suara/hak yang khusus/istimewa, seperti ditunjukan oleh kisah ini.

(9) Imam negara dan Imam Sholat;  tidak boleh dipisahkan. Pejabat negara sejatinya adalah ahli masjid dan punya kepedulian terhadap jama’ah masjid. 

Abu Taw Jieh Rabbanie
http://dewandakwahjakarta.or.id/index.php/buletin/april10/138-buletin-april10.html