Sunday, September 30, 2012
Lima Tingkatan Manusia Dalam Shalat
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa lima tingkatan manusia di dalam shalat:
1. Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor. yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.
3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.
4. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dirasuki oleh urusan shalat dan penyembahan kepada Tuhan di dalamnya.
5. Orang yang melaksanakan shalat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Tuhan. Dia memandang dan memperhatikanNya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepadaNya. Dia melihatNya dan menyaksikanNya secara langsung. Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Tuhannya telah diangkat. Jarak antara shalat semacam ini dengan shalat yang lainnya lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam shalatnya, dia sibuk dengan Tuhannya. Dia merasa tenteram lewat shalat.
Kelompok pertama akan disiksa. Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya. Kelompok ketiga akan dihapus dosanya. Kelompok keempat akan diberi balasan pahala. Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Tuhannya, kerana dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam shalat. Barangsiapa yang tenteram hatinya dengan shalat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Tuhan di akhirat dan akan tenteram pula hatinya di dunia. Barangsiapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah ta’ala ,maka semua orang akan merasa tenteram dengannya. Dan barangsiapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong kerana penyesalan terhadap dunia. (Al-Wabil Ath-Thayyib, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29)
Sumber: Buku “Air Mata Penjara Wanita”, hal.124-126, Penerbit Elba
http://alqiyamah.wordpress.com/2012/09/26/lima-tingkatan-manusia-dalam-shalat/#more-13581
Thursday, September 13, 2012
Cinta Abu Bakar untuk Al-Musthafa
Ketika Rasulullah berada di hadapan,
Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar Shiddiq r.a)
Gua Tsur.
Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda
Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat,
betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di
atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.
“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki
mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah
memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya
ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua.
Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam
kekuasaan maha, Allah”.
Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia
tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia
hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di
sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta
jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama.
Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar
dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung
serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak
panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut,
Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.
Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk
bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan.
Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap
guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia
mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan
jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang
saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu
nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.
Sejeda kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di
pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam
samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya
selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua
pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang
ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah.
Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang
tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam
hatinya “Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.
Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu
Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia
menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia
teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah
seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji
mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung
di wajah Abu bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di
kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku
Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak
akan membiarkan sesiapapun menganggumu”.
Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan
remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua.
Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja,
seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang
terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua
kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu
dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman
Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih itu.
Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan
kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu
pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa
panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam.
Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya
menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar
menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga
dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.
“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.
“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”
“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”
Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”
“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu
Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air
matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.
Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya
mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya.
Betapa indah sebuah ukhuwah.
“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai
putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”.
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih
pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah
pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha
suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera
menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang.
“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti
manusia indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar
kemudian.
Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar
yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng
kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela,
dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.
Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Ia adalah lelaki pertama
yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah.
Dari lembar sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al-Musthafa
menyemesta. Kisah tadi terjadi pada saat ia menemani Rasulullah
berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga
malam. Menemani Nabi untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia
sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun
karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu
Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.
Dia terkenal karena teguh pendirian, berhati lembut,
mempunyai iman yang kokoh dan bijaksana. Kekokohan imannya terlihat
ketika Madinah kelabu karena satu kabar, Nabi yang Ummi telah kembali
kepada Yang Maha Tinggi. Banyak manusia terlunta dan larut dalam lara
yang sempurna. Bahkan Umar murka dan tidak mempercayai kenyataan yang
ada. Saat itu Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dan
menggaungkan satu khutbah yang mahsyur “Ketahuilah, siapa yang menyembah
Muhammad, maka ia telah meninggal dunia. Dan sesiapa yang menyembah
Allah, maka sesungguhnya Allah tidak mati”.
Kepergian sang tercinta, tidak menyurutkan keimanan dalam
dadanya. Ketiadaan Rasulullah, jua tak memadamkan gebyar semangat untuk
terus menegakkan pilar-pilar Islam yang telah dipancangkan. Pada saat
menjabat khalifah pertama, ia dengan gigih memerangi mereka yang enggan
berzakat. Tidak sampai di situ munculnya beberapa orang yang mengaku
sebagi nabi, sang khalifah juga berlaku sama yaitu mengirimkan pasukan
untuk mengajak mereka kembali kepada kebenaran. Sesungguhnya pribadi Abu
Bakar adalah lemah lembut, namun ketika kemungkaran berada
dihadapannya, ia berlaku sangat tegas dalam memberantasnya.
Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat perang atas
bangsa Romawi di Yarmuk berkecamuk dengan kemenangan di tangan Muslim.
Sebelum wafat, ia menetapkan Umar sebagai penggantinya. Jenazahnya
dikebumikan di sebelah manusia yang paling dicintainya, yaitu makam
Rasulullah. Hidup Abu Bakar berhenti sampai di sana, namun selanjutnya
manusia yang menurut Rasulullah menjadi salah seorang yang dijamin masuk
surga, terus saja mengharumkan sejarah sampai detik sekarang. Ia
mencintai Nabinya melebihi dirinya sendiri. Tidakkah itu mempesona?
http://www.eramuslim.com/berita-cinta-abu-bakar-untuk-almusthafa-.html
Tuesday, September 11, 2012
Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika keluar rumah, dan bahwa ini merupakan sebab dia diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga oleh Allah Ta’ala[2].
Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:
- Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini akan diberikan kepada orang yang mengucapkan zikir ini dengan benar-benar merealisasikan konsekwensinya, yaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[3].
- Syaitan tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[4], sebagaimana firman-Nya:
- Bertawakal (berserah diri dan bersandar sepenuhnya) kepada Allah Ta’ala merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah dalam semua urusan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya: Barangsiapa yang berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam semua urusan agama dan dunianya, yaitu dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan menolak keburukan dari dirinya, serta yakin dengan kemudahan yang akan diberikan-Nya, maka Allah Ta’ala akan memudahkan semua urusannya tersebut[5].
Kota Kendari, 30 Rabi’ul awal 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426) dan Ibnu Hibban (no. 822), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani. [2] Lihat keterangan imam Ibnu Hibban dalam kitab “Shahih Ibnu Hibban” (3/104).
[3] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 157-158).
[4] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).
[5] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).
Dari artikel Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah — Muslim.Or.Id
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ
فَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ
قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ” قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ
وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ
آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ
“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan zikir ini ketika keluar rumah, dan bahwa ini merupakan sebab dia diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga oleh Allah Ta’ala[2].
Beberapa faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:
- Keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini akan diberikan kepada orang yang mengucapkan zikir ini dengan benar-benar merealisasikan konsekwensinya, yaitu berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[3].
- Syaitan tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan orang-orang yang benar-benar beriman dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala[4], sebagaimana firman-Nya:
{إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * إِنَّمَا
سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ
مُشْرِكُونَ}
“Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan (untuk
mencelakakan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal (berserah diri)
kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan syaitan hanyalah atas orang-orang
yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang
mempersekutukannya dengan Allah” (QS an-Nahl: 99-100).- Bertawakal (berserah diri dan bersandar sepenuhnya) kepada Allah Ta’ala merupakan sebab utama untuk mendapatkan petunjuk dan perlindungan Allah dalam semua urusan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ}
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (segala keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan (yang dikehendaki)-Nya” (QS ath-Thalaaq: 3).Artinya: Barangsiapa yang berserah diri dan bersandar sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam semua urusan agama dan dunianya, yaitu dengan bersandar kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan menolak keburukan dari dirinya, serta yakin dengan kemudahan yang akan diberikan-Nya, maka Allah Ta’ala akan memudahkan semua urusannya tersebut[5].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 30 Rabi’ul awal 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR Abu Dawud (no. 5095), at-Tirmidzi (no. 3426) dan Ibnu Hibban (no. 822), dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani. [2] Lihat keterangan imam Ibnu Hibban dalam kitab “Shahih Ibnu Hibban” (3/104).
[3] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 157-158).
[4] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).
[5] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 449).
Dari artikel Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah — Muslim.Or.Id
Monday, September 3, 2012
Tahukah Engkau Apa Itu Itsar…?
Akhir – akhir ini persaingan untuk
memperebutkan harta dan dunia begitu terasa menghinggapi bani adam.
Mereka berlomba – lomba untuk mengumpulkan dunia dan harta mereka. Tentu
untuk urusan ini, mereka akan teramat sibuk. Saking sibuknya aktifitas
mereka dalam memenuhi kepentingan mereka, maka akan jarang sekali kita
menemui orang – orang yang mendahulukan kepentingan saudaranya melebihi
kepentingan dirinya sendiri. Sungguh, hanya keegoisan yang tampak di
setiap sudut kehidupan manusia, kecuali orang – orang yang dirahmati
oleh Allahu ta’ala.
Secara tabiat, manusia tentu merasa berat untuk memberikan atau mencurahkan tenaganya, hartanya atau yang semisalnya, tanpa adanya imbal balik. Akan tetapi, masih ada segelintir orang yang bersedia merelakan semua itu untuk mendahulukan kepentingan saudaranya. Dan inilah manusia – manusia yang Allah cintai, serta disifati oleh Nabi ‘alaihi ash shalatu was salaam dengan orang yang paling baik. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik – baik manusia ialah yag paling bermanfaat untuk orang lain.” [HR. Ath Thabarani, hasan, dlm kitab Shahihul Jami’, no. 3289]
Dan sifat yang demikian inilah yang dinamakan dengan al itsar. Secara definitive al itsar adalah melebihkan orang lain atas dirinya sendiri atau mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Akan tetapi tidaklah semua urusan harus kita dahulukan orang lain… dalam urusan dien / agama, tentu diri sendiri harus lebih didahulukan untuk melaksanakannya. Sebagaimana yang Allah perintahkan untuk berfastabiqul khairat [QS. Al Baqarah: 148]
Untuk sifat itsar ini, telah ada contoh yang baik dari orang – orang Anshar yang Allah abadikan dalam alquran:
“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” [QS. Al Hasyr: 9]
Demikianlah sifat orang – orang Anshar yang begitu memprioritaskan kaum muhajirin dalam urusan dunia mereka. Mereka memberikan harta yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum muhajirin, bahkan tak jarang memberikan salah satu di antara istri – istri mereka agar dinikahi oleh kaum muhajirin. Sama sekali tiada Nampak sifat bakhil pada diri orang – orang Anshar.
Telah datang kepada kita sebuah berita yang disampaikan oleh Abu hurairah –radliyallahu’anhu-
Ada seorang laki – laki yang dating kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,” Sungguh Ya Rasul, saya sedang ditimpa kesulitan hidup.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju kepada istri – istri beliau, namun beliau tidak mendapatidari mereka sesuatu yang bias diberikan kepada orang tadi.
Maka Rasulullah berkata kepada para sahabatnya,” Siapa yang bisa menjamu orang ini, pada malam hari ini…?” Dan berkatalah salah seorang Anshar di antara mereka,” Saya, wahai Rasulullah.”
Kemudian orang Anshar tersebut dating kepada istrinya dan berkata,” Ini tamu Rasulullah. Janganlah kamu menyimpan sesuatu yang sekiranya itu bias disuguhkan kepadanya.” Kemudian istrinya mengatakan,” Demi Allah, tidak ada padaku kecuali makanan untuk anak – anak.” Lantas suaminya berkata,” Bila anak – anak ingin makan, maka tidurkanlah mereka dan kemarilah kamu membawa hidangan lalu matikanlah lampu ini.Tidak mengapa mala mini kita berlapar – lapar dahulu.” Istri orang Anshar ini menjalankan apa yang diperintah suaminya…
Pada keesokan harinya, orang Anshar itu pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda,” Sungguh Allah ta’ala kagum pada fulan ini dan istrinya. Dengannya, Allah berfirman:
“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” [QS. Al Hasyr: 9] [diambil dari Kitab Shahih Al Bukhari, no. 4889]
Dalam perkara itsar ini, Asy Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al ‘Utsaimin menjelaskan:
Berlomba – lomba dalam memprioritaskan orang lain daripada diri sendiri hanya mencakup pada semua urusan duniawi saja, sedangkan untuk urusan akhirat / ukhrawi ini tidaklah diperbolehkan. Karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berlomba – lomba dalam melakukan kebaikan. Pun juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang muttafaqun ‘alaihi juga menjelaskan,” Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada adzan dan shaf pertama (dari pahalanya) kemudian mereka tidak bias mendatanginya melainkan dengan berundi, maka tentu mereka akan berundi (untuk mendapatkannya).”
Oleh karena itu, melebihkan orang lain terhadap diri sendiri terbagi dalam tiga macam:
1. DILARANG. Hal ini misalnya anda mengutamakan orang lain pada urusan yang syari’at mewajibkan atas anda. Misalkan anda dan teman anda dalam keadaan batal wudhu’nya, sedangkan anda memiliki air yang hanya cukup untuk dibuat berwudhu’ satu orang. Bila anda berikan air itu kepada teman anda, maka anda tidak punya air untuk berwudhu dan terpaksa tayammum. Dalam perkara ini, maka hukumnya haram, karena akan berakibat gugurnya beban syariat yang diberikan kepada anda.
2. MAKRUH. Melebihkan orang lain dalam perkara sunnah. Misalnya anda mampu berdiri di shaf pertama dalam shalat, namun anda justru mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Hal ini makruh karena menandakan anda kurang bersemangat terhadap kebaikan.
3. BOLEH BAHKAN TERKADANG DIANJURKAN. Yaitu melebihkan orang lain dalam perkara yang bukan ibadah. Seperti anda memberikan makanan kepada orang lain yang sedang lapar, padahal anda sendiri lapar, maka perbuatan ini adalah terpuji.
[dikutip dari Makarim al Akhlaq hlm. 54 – 55 oleh Imam Ibnu ‘Utsaimin]
Semoga yang sedikit ini bias bermanfaat untuk kita. Amiiin, ya rabbal ‘alamiin…
…
Ditulis Didit Fitriawan di malam 2 Muharram 1432 H di Sidoarjo
http://fitrahfitri.wordpress.com/2010/12/08/tahukah-engkau-apa-itu-itsar%E2%80%A6/#more-1495
Secara tabiat, manusia tentu merasa berat untuk memberikan atau mencurahkan tenaganya, hartanya atau yang semisalnya, tanpa adanya imbal balik. Akan tetapi, masih ada segelintir orang yang bersedia merelakan semua itu untuk mendahulukan kepentingan saudaranya. Dan inilah manusia – manusia yang Allah cintai, serta disifati oleh Nabi ‘alaihi ash shalatu was salaam dengan orang yang paling baik. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik – baik manusia ialah yag paling bermanfaat untuk orang lain.” [HR. Ath Thabarani, hasan, dlm kitab Shahihul Jami’, no. 3289]
Dan sifat yang demikian inilah yang dinamakan dengan al itsar. Secara definitive al itsar adalah melebihkan orang lain atas dirinya sendiri atau mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Akan tetapi tidaklah semua urusan harus kita dahulukan orang lain… dalam urusan dien / agama, tentu diri sendiri harus lebih didahulukan untuk melaksanakannya. Sebagaimana yang Allah perintahkan untuk berfastabiqul khairat [QS. Al Baqarah: 148]
Untuk sifat itsar ini, telah ada contoh yang baik dari orang – orang Anshar yang Allah abadikan dalam alquran:
“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” [QS. Al Hasyr: 9]
Demikianlah sifat orang – orang Anshar yang begitu memprioritaskan kaum muhajirin dalam urusan dunia mereka. Mereka memberikan harta yang mereka miliki untuk diberikan kepada kaum muhajirin, bahkan tak jarang memberikan salah satu di antara istri – istri mereka agar dinikahi oleh kaum muhajirin. Sama sekali tiada Nampak sifat bakhil pada diri orang – orang Anshar.
Telah datang kepada kita sebuah berita yang disampaikan oleh Abu hurairah –radliyallahu’anhu-
Ada seorang laki – laki yang dating kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,” Sungguh Ya Rasul, saya sedang ditimpa kesulitan hidup.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju kepada istri – istri beliau, namun beliau tidak mendapatidari mereka sesuatu yang bias diberikan kepada orang tadi.
Maka Rasulullah berkata kepada para sahabatnya,” Siapa yang bisa menjamu orang ini, pada malam hari ini…?” Dan berkatalah salah seorang Anshar di antara mereka,” Saya, wahai Rasulullah.”
Kemudian orang Anshar tersebut dating kepada istrinya dan berkata,” Ini tamu Rasulullah. Janganlah kamu menyimpan sesuatu yang sekiranya itu bias disuguhkan kepadanya.” Kemudian istrinya mengatakan,” Demi Allah, tidak ada padaku kecuali makanan untuk anak – anak.” Lantas suaminya berkata,” Bila anak – anak ingin makan, maka tidurkanlah mereka dan kemarilah kamu membawa hidangan lalu matikanlah lampu ini.Tidak mengapa mala mini kita berlapar – lapar dahulu.” Istri orang Anshar ini menjalankan apa yang diperintah suaminya…
Pada keesokan harinya, orang Anshar itu pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda,” Sungguh Allah ta’ala kagum pada fulan ini dan istrinya. Dengannya, Allah berfirman:
“…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” [QS. Al Hasyr: 9] [diambil dari Kitab Shahih Al Bukhari, no. 4889]
Dalam perkara itsar ini, Asy Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al ‘Utsaimin menjelaskan:
Berlomba – lomba dalam memprioritaskan orang lain daripada diri sendiri hanya mencakup pada semua urusan duniawi saja, sedangkan untuk urusan akhirat / ukhrawi ini tidaklah diperbolehkan. Karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berlomba – lomba dalam melakukan kebaikan. Pun juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang muttafaqun ‘alaihi juga menjelaskan,” Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada adzan dan shaf pertama (dari pahalanya) kemudian mereka tidak bias mendatanginya melainkan dengan berundi, maka tentu mereka akan berundi (untuk mendapatkannya).”
Oleh karena itu, melebihkan orang lain terhadap diri sendiri terbagi dalam tiga macam:
1. DILARANG. Hal ini misalnya anda mengutamakan orang lain pada urusan yang syari’at mewajibkan atas anda. Misalkan anda dan teman anda dalam keadaan batal wudhu’nya, sedangkan anda memiliki air yang hanya cukup untuk dibuat berwudhu’ satu orang. Bila anda berikan air itu kepada teman anda, maka anda tidak punya air untuk berwudhu dan terpaksa tayammum. Dalam perkara ini, maka hukumnya haram, karena akan berakibat gugurnya beban syariat yang diberikan kepada anda.
2. MAKRUH. Melebihkan orang lain dalam perkara sunnah. Misalnya anda mampu berdiri di shaf pertama dalam shalat, namun anda justru mempersilahkan orang lain untuk menempatinya. Hal ini makruh karena menandakan anda kurang bersemangat terhadap kebaikan.
3. BOLEH BAHKAN TERKADANG DIANJURKAN. Yaitu melebihkan orang lain dalam perkara yang bukan ibadah. Seperti anda memberikan makanan kepada orang lain yang sedang lapar, padahal anda sendiri lapar, maka perbuatan ini adalah terpuji.
[dikutip dari Makarim al Akhlaq hlm. 54 – 55 oleh Imam Ibnu ‘Utsaimin]
Semoga yang sedikit ini bias bermanfaat untuk kita. Amiiin, ya rabbal ‘alamiin…
…
Ditulis Didit Fitriawan di malam 2 Muharram 1432 H di Sidoarjo
http://fitrahfitri.wordpress.com/2010/12/08/tahukah-engkau-apa-itu-itsar%E2%80%A6/#more-1495
Saturday, August 25, 2012
Asal Usul Yahudi: Nabi Musa dan Bani Isro'iil
ASAL USUL YAHUDI (BAGIAN-3) :
NABI MUSA DAN BANI ISRO’IIL
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd.
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,Bahasan kita kali ini adalah masih merupakan kelanjutan dari bahasan mengenai “Asal-Usul Yahudi”, dan tema bahasan kali ini adalah “Nabi Musa عليه السلام dan Bani Isro’iil”.
Kalau kita sedikit menengok ke belakang dan mencermati tentang apa yang disebut Yahudi dan kaitannya dengan Nabi Ibrohim عليه السلام, maka akan kita temukan bahwa Yahudi membuat suatu klaim yang baathil (tidak benar) terhadap Nabi Ibrohim عليه السلام; yang kemudian oleh Allooh سبحانه وتعالى klaim tersebut dinetralisir dan diklarifikasi serta ditetapkan berita yang sebenarnya.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Aali ‘Imroon (3) ayat 67 dimana Allooh سبحانه وتعالى menepis keyakinan baathil orang-orang Yahudi tersebut:
Artinya:مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيّاً وَلاَ نَصْرَانِيّاً وَلَكِن كَانَ حَنِيفاً مُّسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Ibrohim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus*] lagi berserah diri (kepada Allooh) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”
*] “Lurus” berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allooh سبحانه وتعالى) dan jauh dari kesesatan.
Allooh سبحانه وتعالى menegaskan bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام bukan seorang Yahudi, dan bukan pula seorang Nasrani, dan beliau عليه السلام bukanlah tergolong orang-orang Musyrik. Tetapi Nabi Ibrohim عليه السلام adalah Muslim dan beliau عليه السلام adalah seorang Muwahhid. Muwahhid artinya adalah orang Ahli Tauhiid, orang yang meng-Esakan Allooh سبحانه وتعالى, serta tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan sesuatu apa pun. Tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan berhala, tidak dengan patung, tidak dengan bulan-matahari-bintang dan sejenisnya. Nabi Ibrohim عليه السلام hanya beribadah kepada yang satu yakni Allooh سبحانه وتعالى.
Itulah ajaran dan keyakinan Nabi Ibrohim عليه السلام. Oleh karena itu, jangan ada sedikitpun keyakinan bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah Yahudi, ataupun Nasrani.
Karena didalam sejarah dapatlah kita ketahui bahwa antara Yahudi dan Nabi Ibrohim عليه السلام, maka zaman Nabi Ibrohim عليه السلام itu adalah lebih dahulu. Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki putera bernama Ismail dan Ishaq عليهم السلام. Dari Nabi Ishaq عليه السلام terlahir putera yang bernama Ya’qub عليه السلام; kemudian dari Nabi Ya’qub عليه السلام terlahirlah banyak anak keturunannya yang bernama Ruubiil, Syam’uun, Laawi, Yahuudzaa, Jaad, Asyiir, Daani, Niftalii, Iisakhir, Zaabiluun, Dun-ya, Yusuf dan Bunyamin; sebagaimana hal ini telah kita bahas dalam kajian kita yang lalu. Dan salah satu sumber menyatakan bahwa munculnya sebutan Yahudi itu adalah dari keturunan Yahuudzaa. Oleh karena itu jelaslah bahwa zaman Nabi Ibrohim عليه السلام itu adalah sangat jauh kurun waktunya dari sebelum munculnya sebutan Yahudi, sehingga sangatlah tidak mungkin bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah seorang Yahudi sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Yahudi, dan yang kemudian klaim itu dibantah oleh Alloohسبحانه وتعالى dalam QS Aali ‘Imroon (3) ayat 67 diatas.
Dan sangatlah tidak mungkin pula bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah Nasrani. Karena sebutan Nasrani baru munculnya di zaman Nabi ‘Isa عليه السلام yang bahkan lebih jauh lagi terpautnya dengan zaman Nabi Ibrohim عليه السلام, karena Nabi ‘Isa عليه السلام adalah nabi terakhir dari kalangan Bani Isro’iil. Oleh karena itu, sangatlah mustahil bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Yang benar adalah bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah Muslim sebagaimana yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan dalam Wahyu-Nya.
Hendaknya kita telusuri berdasarkan penelitian para ‘Ulama Ahlus Sunnah tentang asal-usul nama Yahudi kemudian menjadi terkenal. Dalam bahasa Arab, nama Yahudi atau Bani Isro’iil dikenal sebagai kaum Nabi Musa عليه السلام; atau disebut juga sebagai Muusawiyyuun.
Salah seorang ‘Ulama ‘Aqiidah bernama Syaikh Dr. Mahmud ‘Abdurrohmaan Kedah, seorang Guru Besar di Universitas Islam Madinah, yang mana beliau adalah orang Malaysia yang sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Beliau menulis Kitab berjudul “Muujaz Tarikh Al Yahuud War rod ‘ala Ba’di Mazaa’amihim Al Baathilah” (Ringkasan Sejarah Yahudi dan Bantahan terhadap Klaim Mereka yang Baathil); dimana didalam Kitab tersebut terdapat pembahasan mengenai adanya perselisihan tentang kronologis dan asal-usul sebutan “Yahudi”. Didalam Kitab tersebut dijelaskan tentang 4 kemungkinan asal-muasal dari nama “Yahudi”, sehingga dapatlah dikatakan bahwa sebutan “Yahudi” itu saja tidaklah jelas asal-usulnya.
Adapun kaum Muslimin mendapatkan secara jelas penyebutan “Muslim” itu langsung dari Allooh سبحانه وتعالى. Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Al Hajj (22) ayat 78 sebagai berikut:
Artinya:{س} وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allooh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam dien (agama) suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrohim. Dia (Allooh) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rosuul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allooh. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Bahkan didalam ayat lain yakni QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 102, Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam bentuk suatu perintah sebagai berikut :
Artinya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allooh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Jadi Allooh سبحانه وتعالى lah yang memberikan nama “Muslim” kepada kaum Muslimin dan memerintahkan kaum Muslimin agar janganlah mati kecuali dalam keadaan sebagai Muslim. Orang yang ber-Islam disebut sebagai Muslim. Orang yang menjadikan Islam sebagai dien dan sebagai ‘aqiidah bagi dirinya, serta sebagai pedoman didalam hidupnya maka ia adalah Muslim. (– Silakan baca kembali ceramah berjudul “Ma’na Al Islaam” dalam Blog ini –)
Sedangkan penyebutan “Yahudi” itu tidaklah jelas asal-usulnya, dan sebagaimana dibahas di dalam Kitab Syaikh Dr. Mahmud ‘Abdurrohmaan Kedah yang berjudul “Muujaz Tarikh Al Yahuud War rod ‘ala Ba’di Mazaa’amihim Al Baathilah” (Ringkasan Sejarah Yahudi dan Bantahan terhadap Klaim Mereka yang Baathil), maka dijelaskan bahwa terdapat 4 kemungkinan dari asal-muasal penyebutan “Yahudi”, yakni sebagaimana berikut ini:
1. Disebut “Yahuud”, karena berasal dari kata Al-Hawada, yang bermakna Mawaddah (cinta) karena diantara sesama mereka Yahudi satu sama lain saling mencintai.
2. “Yahudi” berasal dari kata At Tahawwud, yang maknanya adalah At Taubah (bertaubat), berasal dari firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat Al A’roof (7) ayat 156:
Artinya:وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allooh berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.
3. Menurut Abu ‘Aamr Ibnu Al ‘Ala, mereka disebut “Yahudi” karena bila mereka membaca Kitab mereka maka badannya bergoyang-goyang. (– Oleh karena itu, janganlah kaum Muslimin membaca Al Qur’an atau berdzikir sambil menggoyang-goyangkan kepala ataupun badan, karena yang demikian itu adalah merupakan Tasyabbuh (meniru / menyerupai) kaum Yahudi –)
4. “Yahudi” berasal dari kata “Yahuudzaa”, dimana Yahuudzaa adalah merupakan salah seorang putera Nabi Ya’qub عليه السلام; dimana anak keturunan Yahuudzaa kemudian mendirikan suatu “Kerajaan kecil” di wilayah selatan Palestina yang disebut sebagai Kerajaan Yahuudzaa. Disebut demikian sebagai pembeda terhadap kerajaan yang ada di wilayah utara Palestina. Kata “Yahuudzaa” kemudian lambat laun berubah menjadi “Yahuda”, dan pada akhirnya berubah menjadi “Yahudi”.
Demikianlah sekilas pembahasan mengenai asal-usul sebutan “Yahudi”, dan berikut ini akan kita kaji mengenai “Nabi Musa عليه السلام dan Bani Isro’iil”.
Sebagaimana telah kita bahas dalam kajian lalu mengenai “Nabi Yusuf عليه السلام dan Bani Isro’iil”; maka dapatlah diketahui bahwa pada zaman Nabi Yusuf عليه السلام, semua anak keturunan Nabi Ya’qub عليه السلام kemudian dibawa ke Mesir. Ketika itu Mesir adalah merupakan Kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Fir’aun.
Nabi Musa عليه السلام adalah putera dari ‘Imron, dan ‘Imron adalah putera dari Qoohits, dan Qoohits adalah putera dari ‘Aazir, dan ‘Aazir adalah putera dari Laawi; yang mana Laawi adalah salah seorang putera dari Nabi Ya’qub عليه السلام. Dengan demikian nasab Nabi Musa عليه السلام adalah Musa bin ‘Imron bin Fahis bin ‘Azir bin Laawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrohim عليهم السلام. Dan dapatlah dipastikan bahwa Nabi Musa عليه السلام terlahir di daerah Mesir.
Ibu Nabi Musa عليه السلام adalah bernama Ayaarikho. Di Mesir ini, Bani Isro’iil mengalami penindasan dimana mereka diperbudak oleh Raja Mesir atau Fir’aun (– Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Fir’aun pada zaman Nabi Musa عليه السلام adalah Raja Merenptah yang merupakan putra ke-13 dari Ramses II dan memerintah Dinasti ke-19 Mesir antara tahun1213-1203 SM karena mumi Raja Merenptah ini adalah satu-satunya mumi yang mengandung banyak garam – Walloohu a’lam).
Menurut riwayat Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud dari ayahnya رضي الله عنهما, bahwa Fir’aun bermimpi, yang mana didalam mimpinya tersebut ia melihat api yang datangnya dari arah Baitul Maqdis. Api itu membakar rumah-rumah penduduk Mesir dan seluruh kabilah Qibty. Namun didalam mimpinya terlihat bahwa rumah-rumah orang-orang Bani Isro’iil tidaklah terbakar. Ketika Fir’aun terbangun maka ia pun menjadi sangat ketakutan. Maka dikumpulkannyalah para penasehatnya yang terdiri dari para dukun dan tukang sihir. Lalu ditanyakanlah olehnya tentang arti mimpi tersebut. Para dukun dan tukang sihir Fir’aun mengatakan bahwa itulah pertanda akan terlahir seorang anak laki-laki dari Bani Isro’iil yang akan menjadikan penyebab binasanya dan runtuhnya kekuasaan Fir’aun (Lihat Tafsir Imaam Al Baghowy رحمه الله Jilid 1 halaman 91).
Fir’aun pun kemudian membuat keputusan agar semua bayi laki-laki yang terlahir dari kalangan Bani Isro’iil di Mesir harus dibunuh.
Didalam Kitab “Al Atsaar Al Waaridah Annis Salafi al Yahuud fi Tafsiir Ath Thobariy” Jilid I halaman 38 karya Yusuf bin Hamuud Al Husyaan, dijelaskan bahwa keputusan Fir’aun itu kemudian diubah setelah adanya usulan dari orang-orang Bani Isro’iil; karena apabila keputusan Fir’aun itu dilaksanakan maka orang-orang Bani Isro’iil akan semakin musnah, sementara orang-orang Mesir masih membutuhkan tenaga-tenaga mereka (Bani Isro’iil) sebagai budak. Oleh karena itu Bani Isro’iil meminta agar janganlah seluruh bayi laki-laki Bani Isro’iil dibunuh. Dengan demikian diubahlah keputusan Fir’aun tersebut menjadi selama setahun pertama bayi laki-laki Bani Isro’iil yang terlahir harus dibunuh dan pada tahun berikutnya adalah tidak dibunuh, kemudian pada tahun ketiganya harus dibunuh dan pada tahun keempatnya tidak dibunuh dan demikian seterusnya silih berganti setiap tahunnya.
Harun (saudara Musa) terlahir pada tahun dimana diperbolehkan bayi laki-laki Bani Isro’iil untuk tidak dibunuh; sementara Musa عليه السلام terlahir pada tahun dimana bayi laki-laki Bani Isro’iil harus dibunuh. Sehingga Musa عليه السلام adalah yang termasuk dicari-cari untuk dibunuh. Namun Allooh سبحانه وتعالى menyelamatkan Musa عليه السلام, sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Qoshosh (28) ayat 3-13, sebagai bagian dari rencana Allooh سبحانه وتعالى untuk memberikan karunia dan pertolongan kepada orang-orang yang dilemahkan, diperbudak dan ditindas oleh Fir’aun:
Artinya:نَتْلُوا عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٣﴾ إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعاً يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ ﴿٤﴾ وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ ﴿٥﴾ وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِي فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا يَحْذَرُونَ ﴿٦﴾ وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴿٧﴾ فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوّاً وَحَزَناً إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ ﴿٨﴾ وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَداً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾ وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغاً إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿١٠﴾ وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَن جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ﴿١١﴾ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ ﴿١٢﴾ فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾
(3) “Kami (Allooh) membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir`aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.
(4) Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
(5) Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),
(6) dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir`aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu
(7) Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rosuul.
(8) Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.
(9) Dan berkatalah isteri Fir`aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.
(10) Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allooh).
(11) Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,
(12) dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.
(13) Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allooh itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
Demikianlah, dari ayat diatas dapatlah diketahui bahwa Nabi Musa عليه السلام yang dikala itu dicari-cari sebagai bayi laki-laki yang harus dibunuh, kemudian dihanyutkanlah ke Sungai Nil oleh orangtuanya agar terlepas dari pembunuhan Fir’aun. Kemudian Musa عليه السلام pun ditemukan oleh ‘Asiyah, istri Fir’aun, yang membawanya ke istana untuk diasuhnya sebagai anak dikarenakan ia sendiri belumlah memiliki anak keturunan. Ketika istri Fir’aun mencari seorang pengasuh untuk menyusui Musa عليه السلام, maka Allooh سبحانه وتعالى mengatur agar ibu Musa lah yang menjadi pengasuh baginya di istana Fir’aun. Demikianlah bentuk kasih sayang Allooh سبحانه وتعالى terhadap Nabi Musa عليه السلام dan ibunya.
Sungai Nil
Apakah Peran Nabi Musa عليه السلام?Diantara tugas Nabi Musa عليه السلام adalah:
1. Mendakwahi Fir’aun agar ia masuk Islam.
2. Mendakwahi kaumnya (Bani Isro’iil) agar mereka beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى.
3. Menyelamatkan Bani Isro’iil dari perbudakan dan penindasan Fir’aun.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Asy-Syu’aroo’ (26) ayat 10-19 berikut ini:
Artinya:وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠﴾ قَوْمَ فِرْعَوْنَ أَلَا يَتَّقُونَ ﴿١١﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ ﴿١٢﴾ وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ ﴿١٣﴾ وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنبٌ فَأَخَافُ أَن يَقْتُلُونِ ﴿١٤﴾ قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُم مُّسْتَمِعُونَ ﴿١٥﴾ فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦﴾ أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿١٧﴾ قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيداً وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ ﴿١٨﴾ وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنتَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴿١٩﴾
(10) Dan (ingatlah) ketika Robb-mu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang dzolim itu,
(11) (yaitu) kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertaqwa?”
(12) Berkata Musa: “Ya Robb-ku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku.
(13) Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun.
(14) Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”.
(15) Allooh berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mu`jizat-mu`jizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan),
(16) Maka datanglah kamu berdua kepada Fir`aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya kami adalah rosuul Robb semesta alam,
(17) lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami”.
(18) Fir`aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.
(19) dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang kaafir (tidak membalas guna)“.
Perhatikanlah betapa didalam QS.Asy-Syu’aroo’ (26) ayat 19 diatas, Nabi Musa عليه السلام dikatakan kaafir oleh Fir’aun; dikarenakan Fir’aun menganggap dirinya sebagai Tuhan. Padahal Nabi Musa عليه السلام adalah rosuul utusan Allooh سبحانه وتعالى, tetapi Fir’aun menganggap bahwa Nabi Musa عليه السلام justru telah kaafir terhadap Fir’aun.
Hendaknya ayat ini menjadi pelajaran bagi kaum Muslimin. Di zaman sekarang pun juga terjadi anggapan sedemikian itu. Menurut versi orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang tidak suka kepada Islam; maka mereka menganggap bahwa orang-orang Islam itu adalah teroris, perampok dan pembunuh. Hal ini dikarenakan didalam setiap peperangan antara kaum Muslimin dengan mereka, dikala kaum Muslimin yang memperoleh kemenangan maka harta mereka pun menjadi “harta rampasan” (ghoniimah) bagi kaum Muslimin yang akan dibagikan kepada seluruh tentara Muslim yang ikut berperang. Jika yang demikian itu dikatakan “perampasan”, maka hal itu adalah wajar, karena ditinjau dari versi pandangan orang-orang kaafir terhadap kaum Muslimin. Kalau dikatakan bahwa kaum Muslimin didalam peperangan sebagai pembunuh, maka itu pun wajar karena itu ditinjau dari versi pandangan orang-orang kaafir terhadap kaum Muslimin. Sementara menurut versi pandangan kaum Muslimin, membunuh didalam suatu peperangan untuk menegakkan Laa Ilaaha Ilallooh adalah sebagai Jihad fisabiilillah.
Oleh karena itu, sebagaimana Nabi Musa عليه السلام dikatakan kaafir oleh Fir’aun; padahal justru Nabi Musa عليه السلام itu tidak hanya ia seorang Muslim, melainkan juga adalah seorang Rosuul utusan Allooh سبحانه وتعالى (dan yang kaafir sesungguhnya adalah Fir’aun, karena ia kaafir terhadap Allooh سبحانه وتعالى); maka sebagaimana itu pula kaum Muslimin di zaman sekarang dituduh dengan julukan yang seram-seram seperti “teroris” dan sebagainya. Padahal apabila diperhatikan didalam kenyataannya justru betapa banyak kaum Muslimin di berbagai belahan dunia seperti Palestina dan sebagainya yang diteror, diusir dari tempat-tempat tinggalnya dan dibunuh oleh orang-orang kaafir.
Hendaknya hal ini dicamkan oleh kaum Muslimin agar jangan mudah terprovokasi oleh berbagai berita yang beredar di media massa. Hendaklah dicermati dengan seksama, siapakah yang menjadi sumber berita tersebut.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Al Hujuroot (49) ayat 6 :
Artinya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Dari ayat diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa apabila yang membawa berita itu adalah orang fasiq maka harus diperiksa terlebih dahulu kebenaran beritanya. Apalagi kalau berita itu datang dari orang kaafir, tentulah lebih perlu untuk dicek kebenaran beritanya. Kaum Muslimin di tengah-tengah masyarakat, terkadang tidak bisa memilah-milah kabar (berita) itu datangnya dari pihak siapa. Semestinya, kalaulah berita itu datang dari Muslimun atau Mustaqiim (orang yang ber-‘aqidah Islam serta orang-orang yang berpihak pada Islam), maka barulah pemberitaan itu bisa diterima atau dibenarkan. Tetapi apabila berita itu datang dari orang Munaafiq, orang Fasiq (orang-orang yang menjadi mata-mata bagi orang-orang Kaafir dengan mencari-cari berita dari pihak kaum Muslimin untuk kemudian informasi itu diberikan kepada orang-orang kaafir agar mereka memerangi kaum Muslimin), apalagi apabila berita itu datang langsung dari orang kaafir maka hendaklah kaum Muslimin berhati-hati.
Berita dari orang fasiq saja tidak bisa dibenarkan, apalagi bila datangnya jelas-jelas langsung dari orang kaafir. Hanya ironisnya kaum Muslimin hampir tidaklah sebanding sumber pemberitaannya, karena kaum Muslimin hampir tidak (atau sangat sedikit) memiliki sumber pemberitaan yang “valid” dalam skala internasional. Selalu saja sumber berita itu adalah datangnya dari Yahudi maupun Nasrani, seperti CNN, BBC, UPI, Reuter, dan lain-lain; atau juga bila diperhatikan maka media-media massa lokal (baik televisi, radio, internet dan sebagainya) yang berskala jaringan yang luas maka kebanyakan pemegang saham mereka adalah bersumber dari pihak Yahudi maupun Nasrani. Oleh karena itu wajar saja apabila datangnya berita kepada kaum Muslimin itu adalah persis seperti julukan Fir’aun terhadap Nabi Musa عليه السلام, dimana kaum Muslimin lah yang dituduh sebagai “teroris” dan sebagainya.
Hendaknya kaum Muslimin harus bisa meng-counter dan mem-filter dirinya sendiri, sehingga janganlah menjadi korban dari pemberitaan yang merupakan suatu syubhat yang pada akhirnya adalah bertujuan agar kaum Muslimin itu menjauh dari dienul Islam dan terkena virus Islamophobia.
Kembali kepada bahasan kita mengenai Nabi Musa عليه السلام dan Fir’aun, maka dapatlah dipelajari bahwa dewan penasehat Fir’aun yang sangat besar pengaruhnya di Mesir saat itu adalah para ahli sihir Fir’aun. Oleh karena itu Allooh سبحانه وتعالى membekali Nabi Musa dengan mu’jizat-mu’jizat yang dapat mengalahkan para ahli sihir Fir’aun.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Qoshosh (28) ayat 30-35 berikut ini:
Artinya:فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِي مِن شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٣٠﴾ وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِراً وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ ﴿٣١﴾ اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاء مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْماً فَاسِقِينَ ﴿٣٢﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْساً فَأَخَافُ أَن يَقْتُلُونِ ﴿٣٣﴾ وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَاناً فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءاً يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَن يُكَذِّبُونِ ﴿٣٤﴾ قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَاناً فَلَا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِآيَاتِنَا أَنتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ ﴿٣٥﴾
(30) Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allooh, Robb semesta alam,
(31) dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.
(32) Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia ke luar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)-mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mu`jizat dari Robb-mu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir`aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasiq”.
(33) Musa berkata: “Ya Robbku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.
(34) Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)-ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.
(35) Allooh berfirman: “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu`jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang“.
Mesir Kuno dan para Fir’aunnya adalah salah satu peradaban tertua di dunia dan juga yang paling penindas. Betapa banyak nyawa ratusan ribu budak dikorbankan untuk membangun monumen-monumen mereka yang megah seperti piramid, sphinx dan obelisk. Hal itu dikarenakan Fir’aun ingin direpresentasikan sebagai dewa atau tuhan yang disembah oleh manusia.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Qoshosh (28) ayat 36-39 berikut ini:
Artinya:فَلَمَّا جَاءهُم مُّوسَى بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ ﴿٣٦﴾ وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَن جَاء بِالْهُدَى مِنْ عِندِهِ وَمَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴿٣٧﴾ وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحاً لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿٣٨﴾ وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ ﴿٣٩﴾
(36) Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mu`jizat-mu`jizat Kami yang nyata, mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu”.
(37) Musa menjawab: “Robb-ku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang dzolim”.
(38) Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.
(39) Dan berlaku angkuhlah Fir`aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.
Juga perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Asy-Syu’aroo’ (26) ayat 23-51 berikut ini:
Artinya:قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٢٣﴾ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ ﴿٢٤﴾ قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ ﴿٢٥﴾ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ ﴿٢٦﴾ قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ ﴿٢٧﴾ قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٢٨﴾ قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهاً غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ ﴿٢٩﴾ قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ ﴿٣٠﴾ قَالَ فَأْتِ بِهِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ ﴿٣١﴾ فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ ﴿٣٢﴾ وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاء لِلنَّاظِرِينَ ﴿٣٣﴾ قَالَ لِلْمَلَإِ حَوْلَهُ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ ﴿٣٤﴾ يُرِيدُ أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ ﴿٣٥﴾ قَالُوا أَرْجِهِ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ ﴿٣٦﴾ يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيمٍ ﴿٣٧﴾ فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ ﴿٣٨﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلْ أَنتُم مُّجْتَمِعُونَ ﴿٣٩﴾ لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ إِن كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ ﴿٤٠﴾ فَلَمَّا جَاء السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْراً إِن كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ ﴿٤١﴾ قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ إِذاً لَّمِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٤٢﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَى أَلْقُوا مَا أَنتُم مُّلْقُونَ ﴿٤٣﴾ فَأَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ ﴿٤٤﴾ فَأَلْقَى مُوسَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ ﴿٤٥﴾ فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ ﴿٤٦﴾ قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٤٧﴾ رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ ﴿٤٨﴾ قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٤٩﴾ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿٥٠﴾ إِنَّا نَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَن كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٥١﴾
(23) Fir`aun bertanya: “Siapa Robb semesta alam itu?”
(24) Musa menjawab: “Robb Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Robb-mu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”.
(25) Berkata Fir`aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”
(26) Musa berkata (pula): “Robb kamu dan Robb nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”.
(27) Fir`aun berkata: “Sesungguhnya Rosuulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”.
(28) Musa berkata: “Robb yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Robb-mu) jika kamu mempergunakan akal”.
(29) Fir`aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”.
(30) Musa berkata: “Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?”
(31) Fir`aun berkata: “Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar”.
(32) Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata.
(33) Dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya.
(34) Fir`aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya: Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai,
(35) ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?”
(36) Mereka menjawab: “Tundalah (urusan) dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir),
(37) niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu’.
(38) Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang ma`lum,
(39) dan dikatakan kepada orang banyak: “Berkumpullah kamu sekalian.
(40) semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang”
(41) Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, mereka bertanya kepada Fir`aun: “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?”
(42) Fir`aun menjawab: “Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)”.
(43) Berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu Lemparkan”.
(44) Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Fir`aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang”.
(45) Kemudian Musa melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.
(46) Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allooh).
(47) mereka berkata: “Kami beriman kepada Robb semesta alam,
(48) (yaitu) Robb Musa dan Harun”.
(49) Fir`aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya”.
(50) Mereka berkata: “Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Robb kami,
(51) sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Robb kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman”.
Namun karena kesombongannya, Fir’aun tetap menolak dakwah Nabi Musa عليه السلام; bahkan Fir’aun dengan murkanya menghukum dan membunuh diantara kalangan para ahli sihir bahkan istrinya sendiri (‘Asiyah) yang mereka itu menjadi beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى setelah menyaksikan mu’jizat yang Allooh سبحانه وتعالى berikan kepada Nabi Musa عليه السلام. Oleh karena itu, Allooh سبحانه وتعالى pun menurunkan hukuman-Nya terhadap Fir’aun dengan menenggelamkannya beserta bala tentaranya di Laut Merah dan mengabadikan jasad Fir’aun sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Thoohaa (20) ayat 77-79 berikut ini:
Artinya:وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقاً فِي الْبَحْرِ يَبَساً لَّا تَخَافُ دَرَكاً وَلَا تَخْشَى ﴿٧٧﴾ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُم مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ ﴿٧٨﴾ وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَى ﴿٧٩﴾
(77) “Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Isroil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.
(78) Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.
(79) Dan Fir`aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk.”
Juga firman-Nya dalam QS. Yunus (10) ayat 90-92 :
Artinya:وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٩٠﴾ آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ ﴿٩١﴾ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ ﴿٩٢﴾
(90) “Dan Kami memungkinkan Bani Isroil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allooh)”.
(91) Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
(92) Maka pada hari ini Kami selamatkan badan (jasad)-mu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
Saat ini mumi Fir’aun disimpan di Museum Nasional Tahrir di Kairo, Mesir. Bahkan seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar Laut Merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Fir’aun yang tenggelam dilautan tersebut saat digunakan untuk mengejar Nabi Musa عليه السلام bersama para pengikutnya.
Peta eksodus Nabi Musa عليه السلام di Laut Merah
Wadi Watir yang merupakan satu-satunya jalan masuk menuju ke pantai Laut Merah
Roda kereta tempur kuno ditemukan di dasar Laut Merah
(Sumber foto: http://wyattmuseum.com/red-sea-crossing.htm)
Sikap Bani Isro’iil Setelah Diselamatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dari Penindasan Fir’aun
Semestinya Bani Isro’iil bersyukur kepada Allooh سبحانه وتعالى, setelah diselamatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dari penindasan Fir’aun; namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka (Bani Isro’iil) bahkan menyelisihi ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Musa عليه السلام.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof (7) ayat 128-140 berikut ini:
Artinya:قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ إِنَّ الأَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٢٨﴾ قَالُواْ أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِينَا وَمِن بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ ﴿١٢٩﴾ وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَونَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّن الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ ﴿١٣٠﴾ فَإِذَا جَاءتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُواْ لَنَا هَـذِهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَى وَمَن مَّعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللّهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ ﴿١٣١﴾ وَقَالُواْ مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِن آيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٣٢﴾ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُّفَصَّلاَتٍ فَاسْتَكْبَرُواْ وَكَانُواْ قَوْماً مُّجْرِمِينَ ﴿١٣٣﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُواْ يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ لَئِن كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿١٣٤﴾ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُم بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ ﴿١٣٥﴾ فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ ﴿١٣٦﴾ وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُواْ يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ ﴿١٣٧﴾ وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْاْ عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُواْ يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ﴿١٣٨﴾ إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١٣٩﴾ قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿١٤٠﴾
(128) Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allooh dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allooh; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.
(129) Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir`aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang”. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allooh membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allooh akan melihat bagaimana perbuatanmu.
(130) Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir`aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.
(131) Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allooh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(132) Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.
(133) Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
(134) Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Robb-mu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allooh ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan adzab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Isroil pergi bersamamu”.
(135) Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.
(136) Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.
(137) Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Robb-mu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Isroil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.
(138) Dan Kami seberangkan Bani Isroil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Isroil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh (tidak mengetahui sifat-sifat Allooh)”.
(139) Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.
(140) Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allooh, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.
Sesungguhnya apabila Bani Isro’iil mengikuti ajaran Tauhid yang diwariskan oleh Nabi Ibrohim, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan Nabi Musa عليهم السلام, tentunya mereka hanya akan beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى semata. Namun sayangnya, ketika mereka berpindah ke Mesir dan dikala itu orang-orang Mesir adalah penyembah berhala (Paganisme), maka paganisme itu pun mempengaruhi keyakinan mereka dan menyebabkan lunturnya keimanan mereka.
Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Bani Isro’iil terhadap Nabi Musa عليه السلام, sebagaimana hal ini diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam firman-Nya pada QS. Al Baqoroh (2) ayat 55 berikut ini:
Artinya:وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allooh dengan terang“, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.”
Jadi Bani Isro’iil dikala itu telah terpengaruh oleh kebudayaan Mesir sehingga memiliki kecenderungan untuk menyembah benda nyata yang dapat mereka lihat, sebagaimana yang terdapat pada penyembahan berhala (paganisme) bangsa Mesir.
Walau telah diperingatkan oleh Nabi Musa عليه السلام, Bani Isro’iil tetap berada dalam penentangan mereka terhadap ajaran Tauhid yang didakwahkan Nabi Musa عليه السلام. Dan ketika Nabi Musa عليه السلام meninggalkan mereka untuk mendaki Gunung Sinai seorang diri, maka dengan memanfaatkan ketiadaan Nabi Musa عليه السلام, muncullah seorang bernama Samiri yang semakin mempengaruhi Bani Isro’iil dengan kecenderungan mereka terhadap keberhalaan (paganisme), dan bahkan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi serta menyembahnya.
Gunung Sinai (Sumber Foto: http://wyattmuseum.com/mount-sinai.htm)
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Thoohaa (20) ayat 80-98 berikut ini:
Artinya:يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنجَيْنَاكُم مِّنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى ﴿٨٠﴾ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى ﴿٨١﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى ﴿٨٢﴾ وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَا مُوسَى ﴿٨٣﴾ قَالَ هُمْ أُولَاء عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴿٨٤﴾ قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ ﴿٨٥﴾ فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفاً قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْداً حَسَناً أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدتُّمْ أَن يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُم مَّوْعِدِي ﴿٨٦﴾ قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلَكِنَّا حُمِّلْنَا أَوْزَاراً مِّن زِينَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنَاهَا فَكَذَلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ ﴿٨٧﴾ فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلاً جَسَداً لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ ﴿٨٨﴾ أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلاً وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرّاً وَلَا نَفْعاً ﴿٨٩﴾ وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِن قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنتُم بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي ﴿٩٠﴾ قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى ﴿٩١﴾ قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا ﴿٩٢﴾ أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي ﴿٩٣﴾ قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي ﴿٩٤﴾ قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ ﴿٩٥﴾ قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي ﴿٩٦﴾ قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِداً لَّنْ تُخْلَفَهُ وَانظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفاً لَّنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفاً ﴿٩٧﴾ إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً ﴿٩٨﴾
(80) Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu (Gunung Sinai) dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa.
(81) Makanlah di antara rizqi yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.
(82) Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shoolih, kemudian tetap di jalan yang benar.
(83) Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?
(84) Berkata Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Robb-ku, agar supaya Engkau ridho (kepadaku)”.
(85) Allooh berfirman: “Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.
(86) Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Robb-mu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Robb-mu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”
(87) Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,
(88) kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.
(89) Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?
(90) Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Robb-mu ialah (Allooh) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan ta`atilah perintahku”.
(91) Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.
(92) Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,
(93) (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”
(94) Harun menjawab: “Hai putera ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Isroil dan kamu tidak memelihara amanatku”.
(95) Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”
(96) Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rosuul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.
(97) Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).
(98) Sesungguhnya Robb-mu hanyalah Allooh, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.
Patung anak sapi emas yang disembah Bani Isro’iil dikala Musa berada di Gunung Sinai, sebenarnya adalah tiruan dari berhala Mesir, yakni Hathor dan Apis.
Berhala Mesir Kuno: Hathor
Berhala Mesir Kuno : Apis
(Sumber Foto: http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala_(Islam))
Demikianlah, sesungguhnya apabila Bani Isro’iil beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka mereka berhak mendapatkan pahala dari-Nya serta tiadalah mereka akan ditimpa rasa takut dan rasa sedih, sebagaimana hal ini difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 62-66 berikut ini:
Artinya:إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُواْ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾ ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٤﴾ وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَواْ مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ ﴿٦٥﴾ فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٦٦﴾
(62) Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allooh, hari kemudian dan beramal shoolih, mereka akan menerima pahala dari Robb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(63) Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa”.
(64) Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allooh dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.
(65) Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.
(66) Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Namun sayangnya, ajaran Tauhid Nabi Musa عليه السلام dalam fase-fase berikutnya semakin banyak diselewengkan oleh Bani Isro’iil yang terpengaruh dengan ajaran Mesir Kuno, sehingga berakibat terbentuknya orang-orang Yahudi dengan karakter semakin menyimpang dari Tauhid; dan ini terus berkembang hingga terbentuknya Ordo-Ordo Templar, Freemasonry, Zionisme dan sebagainya di zaman kita sekarang ini. Bahkan Taurat yang diturunkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Musa عليه السلام pun telah banyak dicampur adukkan dengan kebaathilan, sehingga tidaklah sesuai lagi dengan yang aslinya. Muncullah ajaran Kaballa, Talmud dan sebagainya yang insya Allooh akan kita bahas satu per satu dalam kajian-kajian mendatang.
Mudah-mudahan kaum Muslimin dapat mengambil pelajaran agar senantiasa berpedoman pada Al Qur’an dan As Sunnah yang shohiihah, dan menjauhkan diri daripada Bid’ah yang merupakan bentuk penyelisihan terhadap tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; agar janganlah kaum Muslimin mengalami keadaan sebagaimana yang dialami oleh Bani Isro’iil yang mendapatkan petaka dan kemurkaan Allooh سبحانه وتعالى akibat meninggalkan tuntunan para nabinya serta menyelisihi ajaran-Nya. Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى adalah Maha Berkuasa.
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
1. Disebutkan didalam Hadits bahwa hancurnya suatu kaum adalah karena mereka banyak bertanya yang sifatnya “ngeyel” (untuk berbantah-bantahan semata). Bagaimanakah membedakan antara bertanya yang memang dalam rangka untuk mendapatkan penjelasan dengan bertanya yang bersifat “ngeyel” tersebut?
2. Saya pernah mendengar dalam suatu ceramah bahwa ada orang ‘alim yang bermimpi melihat Allooh سبحانه وتعالى. Dan mimpinya itu terjadi bahkan sampai dengan 99 (sembilan puluh sembilah) kali. Benarkah mimpi yang demikian itu?
Jawaban:
1. Pertanyaan itu ada 2 (dua) macam, yakni:
a) Pertanyaan yang bermakna mempersulit, menguji, membuat fitnah; maka pertanyaan yang demikian itu adalah dilarang oleh Allooh سبحانه وتعالى dan juga oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Maa-idah (5) ayat 101-102:
Artinya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَسْأَلُواْ عَنْ أَشْيَاء إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْأَلُواْ عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللّهُ عَنْهَا وَاللّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٠١﴾ قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِّن قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُواْ بِهَا كَافِرِينَ ﴿١٠٢﴾
(101) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema`afkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
(102) Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 10260, dishohiihkan oleh Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarangnya dengan sabdanya:
Artinya:ذروني ما تركتكم فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم
“Biarkanlah apa yang kutinggalkan pada kalian, sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan menyelisihi nabi mereka….”
b) Pertanyaan yang bermakna membuat paham, dimana seseorang yang bertanya itu dapat menjadi jelas dan paham; maka pertanyaan yang demikian itu justru dianjurkan bahkan diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nahl (16) ayat 43:
Artinya:وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Dalam Hadits banyak sekali kita temukan dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberikan transformasi ilmu dan pendidikan kepada para Shohabatnya melalui proses tanya jawab. Sebagaimana contohnya dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 39, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه bahwa:
Artinya:أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Salah Seorang Shohabat bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Islam manakah yang paling baik?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Engkau memberi makan pada orang, engkau memberi salam pada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.”
2. Yang benar adalah Allooh سبحانه وتعالى tidak bisa dilihat di dunia, tetapi akan bisa dilihat di Akhirat kelak bagi orang-orang yang beriman. Demikian yang menjadi ‘Aqiidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Bahkan merupakan kenikmatan paling tinggi bagi seorang mu’min adalah melihat Allooh سبحانه وتعالى kelak di Akhirat. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2235, dan Imaam At Turmudzy mengatakan bahwa Hadits ini Hasaanun Shohiih dan Hadits ini juga dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat ‘Amr bin Tsabit رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda berkenaan dengan Fitnah Dajjal yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memperingatkan ummatnya agar berlindung daripadanya:
Artinya:أنه لن يرى أحد منكم ربه حتى يموت …
“Sesungguhnya seorang dari kalian tidak akan melihat tuhannya (Allooh) sehingga dia mati…..”
Adapun orang yang menyatakan melihat Allooh سبحانه وتعالى sampai dengan 99 kali didalam mimpinya, maka hendaklah hal tersebut tidak perlu kita percayai.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Jakarta, Senin malam, 20 Dzulqo’dah 1432 H - 17 Oktober 2011
http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/12/23/nabi-musa-dan-bani-isroiil/
Subscribe to:
Posts (Atom)