Sunday, October 16, 2011

Lezatnya Buah Dzikir

Pernah merasakan buah mangga, buah apel, buah nanas, atau buah semangka? Wah… tentu nikmat dan lezat ya… Usut punya usut, ternyata ada buah lain yang lebih manis, lebih lezat dan lebih menyenangkan daripada itu semua. Masa? Iya, itulah buah dzikir kepada Allah ta’ala…

Eit, tunggu dulu… jangan dikira dzikir itu terbatas kepada tasbih (ucapan Subhanallah), tahlil (ucapan la ilaha illallah), tahmid (ucapan alhamdulillah) dan takbir (ucapan Allahu akbar) saja..

Sebagaimana dipaparkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah di kitabnya al-Adzkar, bahwa pengertian dzikir itu luas, mencakup berbagai bentuk ketaatan kepada Allah. Bukan hanya bacaan dzikir atau wirid yang biasa kita kenal… Membaca al-Qur’an, menunaikan sholat, menunaikan perintah dan menjauhi larangan Allah, itu semua tercakup dalam pengertian dzikir…

Di dalam Syarah Riyadhus Shalihin Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, dzikir itu terbagi menjadi 3; dzikir dengan hati, dzikir dengan lisan, dan dzikir dengan anggota badan. Yang termasuk dalam dzikir dengan hati seperti dengan merenungkan keagungan nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyelami kesempurnaan hukum-hukum dan kebesaran ayat-ayat-Nya. Adapun dzikir dengan lisan sudah sangat kita kenal; semisal membaca tasbih, tahlil, takbir, adzan, membaca al-Qur’an, amar ma’ruf nahi mungkar, membaca hadits, membaca kitab para ulama dan lain-lain.

Lalu, apa yang dimaksud dengan dzikir menggunakan anggota badan? Syaikh Utsaimin menerangkan, maksudnya adalah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah; seperti mendirikan sholat, ruku’, sujud, dan lain sebagainya. Walaupun, memang kebiasaan orang kalau mendengar istilah dzikir maka yang tergambar di benak mereka adalah ucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan yang semacamnya (silahkan buka Syarh Riyadhus Shalihin [3/444]).

Ingatlah Allah, niscaya Dia Mengingatmu


Di antara buah dzikir yang sangat menyenangkan adalah tatkala seorang hamba senantiasa mengingat Allah, maka Allah pun memberikan balasan serupa. Yaitu Allah akan senantiasa mengingat dirinya, membantunya di kala dia membutuhkan bantuan. Allah akan mengampuni dan merahmatinya.

Adakah sesuatu yang lebih menyenangkan dan membahagiakan seorang hamba melebihi curahan ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah ta’ala kepada dirinya? Bukankah setiap kali sholat kita terus mengikrarkan, “Hanya kepada-Mu -ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan…”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingatmu.” (QS. al-Baqarah: 152)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, dari Said bin Jubair, beliau menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah, “Ingatlah kepada-Ku dengan taat kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan ampunan-Ku.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Dengan rahmat-Ku.” (lihat: islamweb.net)

Di dalam Tafsir al-Qurthubi, Said bin Jubair juga menjelaskan bahwa hakikat mengingat Allah adalah dengan taat kepada-Nya. Sehingga barangsiapa yang tidak taat kepada-Nya itu artinya dia tidak sedang mengingat-Nya, meskipun dia banyak mengucapkan tasbih dan tahlil serta rajin membaca al-Qur’an. Muadz bin Jabal pun menandaskan, “Tidaklah anak Adam mengerjakan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari siksa Allah daripada dzikir kepada Allah.” (lihat: islamweb.net).

Oleh sebab itu dzikir kepada Allah dan menjalani ketaatan merupakan sumber kebahagiaan hakiki. Sebagaimana perkataan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr yang masih terngiang-ngiang di telinga kita, bahwa as-sa’aadah bi yadillaah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah“Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tak akan bisa diraih kecuali dengan taat kepada Allah.” Betapa indahnya hidup seorang hamba jika hati, lisan dan anggota badannya senantiasa dihiasi dengan dzikir kepada Allah ta’ala
Bahagia tidaklah diukur dengan luasnya pekarangan, rumah megah, mobil mewah, harta melimpah, atau perabotan yang serba wah… Betapa banyak, orang yang bermandikan uang, berselimutkan emas dan terlelap di dalam istana… akan tetapi hatinya hancur oleh dosa, hatinya gelap oleh maksiat, hatinya  sempit oleh sifat hasad, dan matanya dibutakan oleh hawa nafsu….

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dia kelak di hari kiamat dalam kondisi buta. Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat.’ Allah menjawab, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka pada hari ini kamu pula dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)

Balasan serupa dengan amalan‘, itu kata para ulama… Kalau kita ingat Allah, Allah pun akan mengingat kita. Akan tetapi kalau kita justru melupakan-Nya, jangan kaget kalau ternyata di saat-saat kita membutuhkan-Nya –padahal setiap detik kita sangat membutuhkan-Nya– maka Allah pun melupakan kita… Inilah bencana dan musibah terbesar yang akan menghancurkan dunia dan akhirat kita.. Na’udzu billaahi min dzaalik!

Betapa bijak ungkapan Ibnu Taimiyah, tatkala beliau berkata, “Dzikir bagi hati, laksana air bagi ikan. Lantas, bagaimana yang terjadi seandainya ikan dikeluarkan dari air?”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan telah bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak pernah mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Pada hari kiamat nanti, tatkala matahari didekatkan sejarak 1 mil, dan manusia bersimbah peluh, ada di antara mereka yang ditenggelamkan oleh keringatnya sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya, ada yang sampai lehernya, bahkan ada pula yang seluruh tubuhnya ditenggelamkan oleh keringat… karena saking panasnya hari itu… kira-kira siapakah yang bisa memayungi anda selain Allah ta’ala?

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya…” Di antaranya, “Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lantas berlinanglah kedua matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dzikir merupakan bagian pokok dari syukur. Dzikir yang paling utama adalah yang bersesuaian antara yang diucapkan oleh lisan dengan apa yang ada di dalam hati. Itulah jenis dzikir yang menumbuhkan ma’rifatullah, mahabbah/cinta kepada-Nya dan curahan pahala yang melimpah ruah dari-Nya (lihat Tafsir as-Sa’di, hal. 74)

Ya Allah, bantulah kami dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah untuk-Mulaa haula wa laa quwwata illa billaah
http://abumushlih.com/lezatnya-buah-dzikir.html/

Mengenal Jenis Dzikir

Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab beliau Al Wabilush Shoyyib, juga kitab beliau lainnya yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul Afham dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat bahwa dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu akbar) saja. Ternyata dzikir itu lebih luas dari itu. Mengingat-ingat nikmat Allah juga termasuk dzikir. Begitu pula mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankan perintah tersebut, itu juga termasuk dzikir. Selengkapnya silakan simak ulasan berikut yang kami sarikan dari penjelasan beliau rahimahullah.
Dzikir itu ada tiga jenis:

Jenis Pertama:

Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Dzikir jenis ini ada dua macam:

Macam pertama: Sekedar menyanjung Allah seperti mengucapkan “subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar”, “subhanallah wa bihamdih”, “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir”.

Dzikir dari macam pertama ini yang utama adalah apabila dzikir tersebut lebih mencakup banyak sanjungan dan lebih umum seperti ucapan “subhanallah ‘adada kholqih” (Maha suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya). Ucapan dzikir ini lebih afdhol dari ucapan “subhanallah” saja.

Macam kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contohnya adalah seperti mengatakan, “Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya”, “Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya, “tidak mungkin perbuatan hamba yang samar dari  penglihatan Allah”, “Allah Maha menyayangi hamba-Nya”, “Allah kuasa atas segala sesuatu”, “Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya.”

Dan sebaik-baik dzikir jenis ini adalah dengan memuji Allah sesuai dengan yang Allah puji pada diri-Nya dan memuji Allah sesuai dengan yang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji-Nya, yang di mana ini dilakukan tanpa menyelewengkan, tanpa menolak makna, tanpa menyerupakan atau tanpa memisalkan-Nya dengan makhluk.

Jenis Kedua:

Dzikir dengan mengingat perintah, larangan dan hukum Allah.

Dzikir jenis ini ada dua macam:
 
Macam pertama: Mengingat perintah dan larangan Allah, apa yang Allah cintai dan apa yang Allah murkai.

Macam kedua: Mengingat perintah Allah lantas segera menjalankannya dan mengingat larangan-Nya lantas segera menjauh darinya.

Jika kedua macam dzikir (pada jenis kedua ini) tergabung, maka itulah sebaik-baik dan semulia-mulianya dzikir. Dzikir seperti ini tentu lebih mendatangkan banyak faedah. Dzikir macam kedua (pada jenis kedua ini), itulah yang disebut fiqih akbar. Sedangkan dzikir macam pertama masih termasuk dzikir yang utama jika benar niatnya.

Jenis ketiga:

Dzikir dengan mengingat berbagai nikmat dan kebaikan yang Allah beri.


Dzikir dengan Hati dan Lisan

Dzikir bisa jadi dengan hati dan lisan. Dzikir semacam inilah yang merupakan seutama-utamanya dzikir.

Dzikir kadang pula dengan hati saja. Ini termasuk tingkatan dzikir yang kedua.

Dzikir kadang pula dengan lisan saja. Ini termasuk tingkatan dzikir yang ketiga.

Sebaik-baik dzikir adalah dengan hati dan lisan. Jika dzikir dengan hati saja, maka itu lebih baik dari dzikir yang hanya sekedar di lisan. Karena dzikir hati membuahkan ma’rifah, mahabbah (cinta), menimbulkan rasa malu, takut, dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan dzikir yang hanya sekedar di lisan tidak membuahkan hal-hal tadi.

Pelajaran

Jika kita perhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim di atas, dapat kita simpulkan bahwa duduk di majelis ilmu yang membahas bagaimana mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, bagaimana mengetahui secara detail hukum-hukum Allah berupa perintah dan larangan-Nya, itu semua termasuk dzikir. Bahkan jika sampai ilmu itu membuahkan seseorang bersegera taat pada Allah dan menjauhi larangan-Nya, itu bisa menjadi dzikir yang utama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim sebagai fiqih akbar.

Namun jika sekedar mengilmuinya saja, itu pun sudah termasuk dzikir. Itu berarti bukan suatu hal yang sia-sia jika seseorang berlama-lama duduk di majelis ilmu untuk mendengarkan nasehat para ulama yang di mana di dalamnya dibahas hal yang lebih detail tentang Allah, dibahas pula berbagai perintah dan larangan-Nya. Ini sungguh merupakan dzikir yang amat utama.

Semoga Allah menganugerahkan pada kita semangat dan keistiqomahan untuk terus belajar dan tidak lalai dari dzikir pada-Nya.

Panggang-Gunung Kidul, 20 Jumadal Ula 1432 H (23/04/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Bacaan Dzikir Setelah Shalat

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan terasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah. Dzikir setelah shalat adalah di antara dzikir yang mesti kita amalkan. Seusai shalat tidak langsung bubar, namun hendaknya kita merutinkan beristighfar dan bacaan dzikir lainnya.

[1]
أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”[1]

[2]
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a lima a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfau dzal jaddi minkal jaddu.

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” [2]

[3]
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah. Lahun ni’mah wa lahul fadhl wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”[3]

[4]
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.
Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar (33 x). Laa ilaha illallah wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”[4]

[5]
Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (fardhu).[5]

[6]
Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).[6]

[7]
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir .

“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 x setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh)[7]

[8]
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Dibaca setelah salam shalat Shubuh).[8]

Semoga dzikir yang sederhana ini bisa rutin kita amalkan setelah shalat sehingga Allah berkahi aktivitas harian kita.
Wallahu waliyyut taufiq. Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Referensi:
Hish-nul Muslim min Adzkar Al Kitab was Sunnah, Syaikh Sa’ad bin Wahf Al Qohthoni
Tash-hih Syarh Hish-nul Muslim min Adzkar Al Kitab was Sunnah, Majdi bin ‘Abdul Wahab Al Ahmad, terbitan Maktabah Al Malik Fahd Al Wathoniyah, cetakan keempat, 1430 H

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA
16 Dzulqo’dah 1432 H (14/10/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Tuesday, October 11, 2011

LAZ TRIMUDILAH, BAZ TRIMUDILAH or LAZ AL FURQON

Idealnya pengelolaan zakat langsung ditangani langsung oleh ulil amri melalui baitul maal. Namun realita di Indonesia pemerintah memberikan keleluasaan kepada Lembaga non Pemerintah untuk ikut andil dalam bidang ini. Dilema yang ada potensi pengelolaan zakat yang sedemikian besar belum dapat "diambil" secara optimal karena faktor ilmu dan pemahaman maupun faktor kepercayaan. Demikian pula zakat yang "disalurkan" tidak optimal karena berbagai faktor pula. Pernah ortu seorang teman mengajukan permohonan bantuan kepada sebuah lembaga zakat untuk modal dagang, dari sekian juta rupiah proposal yang diajukan untuk mengawali sebuah warung hanya disetujui 100 atau 200 ribu rupiah  saja.

Untuk lebih mengoptimalkan pengelolaan zakat ini, maka idenya adalah membentuk Lembaga Amil Zakat tingkat RT, yang fokusnya adalah memungut zakat dan menyalurkannya terutama untuk wilayah RT-nya saja. Selanjutnya jika di RT tersebut sudah kelebihan/kekurangan zakat maka dengan koordinasi antar RT dapat dilakukan transfer zakat antar RT.

Pengawasan pelaksanaan pengelolaan zakat ini dilakukan oleh seluruh warga, dan target utamanya adalah menjadikan mustahiq yang ada di dalam RT tersebut (apabila masuk kategori faqir, miskin, gharimin) sebagai muzakki di masa yang akan datang.

Pengembangan lebih lanjut adalah sebagai lembaga ta'awun dan takaful antar tetangga.

Salah satu masalah sosial yang mendasar di perkotaan, khususnya di daerah-daerah perumahan di sekitar Jakarta, adalah dalamnya jurang ketimpangan kekuatan (ekonomi, pendidikan, kesehatan) antara para penghuni perumahan (mayoritas pendatang di daerah itu) dan penghuni sekitar perumahan (mayoritas penduduk asli setempat). 

Derivasi dari ketimpangan tersebut sangat beragam: perasaan tersisih di kampung sendiri; kecemburuan sosial yang mungkin memicu rawannya keamanan di perumahan, fenomena kuli bongkar; pernikahan/seks dini tanpa rencana dari warga 'luar pagar', kebersihan lingkungan, sulitnya pemberantasan wabah, dll. 

Potensi pemberdayaan warga asli memerlukan sekurangnya dua komponen: campur tangan pihak yang kompeten untuk membina, dan pendanaan yang cukup untuk melakukan pembinaan. Saat ini potensi zakat yang besar (sumber DANA) dari warga perumahan lebih banyak tersalur ke amil zakat nasional. Sedangkan amil zakat tersebut (sumber KOMPETENSI) menyalurkan kepada mustahik di tempat lain. 

Sebagai usulan realisasi ide Pak Yudi, mungkinkah kita bisa bekerjasama dengan salah satu badan amil zakat yang terpercaya, untuk melatih/menerjunkan tim yang kompeten ke RT atau lingkungan kita, dan zakat dari lingkungan tersebut didedikasikan untuk projek pengentasan tersebut? Apabila bisa diterapkan, efek luar biasa InsyaAllah akan terjadi, berlandaskan pada ukhuwwah antara warga perumahan dan warga sekitarnya. Wallaahualam bissawab.

http://bursaide.com/ide/72/lembaga-amil-zakat-tingkat-rt



Wednesday, September 21, 2011

Peringatan tentang Hari Penyesalan

 Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (QS. Maryam: 39)

maryam-39 
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Wa Ba’du:


Kita akan merenungi sebuah ayat dari firman Allah di dalam kitab -Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬ وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)

Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan Nabi -Nya untuk memperingatkan manusia terhadap hari penyesalan dan kerugian, yaitu hari kiamat, di mana kerugian meningkat, penyesalan menjadi tinggi, adakah penyesalan yang lebih besar dari hilangnya keridhaan Allah pada hamba dan surga-Nya, lalu terjembab ke dalam kemurkaan -Nya serta kekal di dalam neraka -Nya pada saat seseorang sudah tidak bisa kembali lagi menuju dunia untuk memulai beramal. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

قُلۡ إِنَّ ٱلۡخَـٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ وَأَهۡلِيہِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۗ أَلَا ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ
Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Zumar: 15)

Ibnu Abbas berkata: Yaumul hasroh adalah salah satu nama dari nama hari kiamat, di mana Allah telah mengagungkannya dan memperingatkan para hamba dengannya.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firman Allah:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ
Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (QS. Maryam: 39)

Dia berkata: Dialah hari kiamat dan beliau membaca firman Allah Subhanahuwata’ala:

أَن تَقُولَ نَفۡسٌ۬ يَـٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّـٰخِرِينَ
Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang Aku Sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), (QS. Al-Zumar: 56)

Dan firman Allah yang mengatakan: (إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ) yaitu setelah selesai perhitungan  dan penghuni surga menuju ke surga sementara penghuni neraka telah dimasukkan ke neraka.

Dan firman Allah: (وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬) artinya dan mereka dalam kelalaian. Maksudnya adalah mereka lalai dengan kelezatan dan syahwat duniawi hingga meninggalkan beramal untuk hari penyesalan. Dan Firman Allah: (وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ) aratinya: dan mereka tidak (pula) beriman. Maksudnya mereka tidak membenarkan adanya hari kabangkitan setelah kematian dan kenikmatan abadi yang diberikan oleh Allah bagi mereka yang mentaati Allah, serta adzab yang pedih bagi orang yang bermaksiat kepada Allah.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra bahwa Nabi bersabda: Kematian di datangkan pada hari kiamat, seperti sebuah kambing kibas yang berwaran putih campur hitam (riwayat Abu Kuriab menambahkan: Lalu ditempatkan pada sebuah tempat di antara surga dan neraka) lalu dikatakan: Wahai penghuni surga apakah kalian mengetahui siapakah ini?. Maka merekapun saling berkerumuanan melihatnya dan mereka berkata:

Ya, ini adalah kematian. Allah berfirman: Dan dikatakan: Wahai penghuni neraka apakah kalian mengetahui siapakah ini. Maka penghuni nerakapun saling berkerumun melihat dan mereka mengatakan: Ya, ini adalah kematian. Allah berfirman: Maka diperintahkan lalu disemblih. Allah berfirman: Wahai penghuni surga kekelan bagi kalian maka tidak ada kematian bagi kalian dan wahai penghuni neraka kekekalan bagi kalian dan tidak ada kematian bagi kalian. Perawi berkata: Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam membaca firman Allah Subhanahuwata’ala:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬ وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara Telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)

Dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada dunia”.

Imam Muslim menambahkan dari riwayat Ibnu Umar: Maka penenduduk surgapun semakain bertambah gembira sementara penghuni neraka semakin bertambah sedih”.

Pelajaran yang bisa dipetik dari ayat di atas adalah:

Pertama: Pada hari kerugian dan penyesalan tersebut orang-orang kafir menyesal dengan kekafirannya, orang yang zalim atas kezaliamannya, dan orang yang melalaikan ketaatan kepada Tuhannya atas kelalaiannya, namun penyesalan pada hari tersebut tidak berguna apapun. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّـٰلِمِينَ مَعۡذِرَتُہُمۡۖ وَلَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ
(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la'nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.
(QS. Mu’min: 52)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلاً۬ (٢٧) يَـٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِى لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلاً۬ (٢٨) لَّقَدۡ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّڪۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِى‌ۗ وَڪَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِلۡإِنسَـٰنِ خَذُولاً۬ (٢٩
27. Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Seandainya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". 28.  Kecelakaan besarlah bagi -Ku; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). 29. Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.
(QS. Al-Furqon: 27-29)
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:


قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ‌ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡہُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً۬ قَالُواْ يَـٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِيہَا وَهُمۡ يَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡ‌ۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ

Sungguh Telah Rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.
(QS. Al-An’am: 31)

إِنَّآ أَنذَرۡنَـٰكُمۡ عَذَابً۬ا قَرِيبً۬ا يَوۡمَ يَنظُرُ ٱلۡمَرۡءُ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلۡكَافِرُ يَـٰلَيۡتَنِى كُنتُ تُرَٲبَۢا
Sesungguhnya kami Telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang Telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah". (QS. Al-Naba’: 40)

Kedua: Seharusnya bagi orang yang beriman untuk tidak tenggelam dalam kelalaian, akan tetapi hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Tuhannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

مَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَأَتٍ۬‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, Maka Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.
dan dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Ankabut: 5)
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS.Al-Hasyr: 18)

Ketiga: Pada hari  penyesalan ini orang-orang kafir melihat bahwa diri mereka tidak tinggal di dunia kecuali sedikit. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً۬ مِّنَ ٱلنَّہَارِ
Dan (Ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) Hanya sesaat di siang hari, (QS. Yunus: 45)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

كَأَنَّہُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَہَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَٮٰهَا
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (QS. Al-Nazi’at: 46)

Keempat: Sesungguhnya di antara bentuk kerugian besar yang dirasakan oleh para penghuni neraka adalah bahwa salah seorang di antara mereka berangan-angan untuk menebus diri mereka dari api neraka dengan diri mereka, anak mereka dan seluruh manusia bahkan seluruh perbendaharaan dunia, padahal pada saat di dunia, mereka diperintahkan untuk mengerjakan apa yang lebih  ringan darinya namun mereka tidak mampu mengerjakannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يُبَصَّرُونَہُمۡ‌ۚ يَوَدُّ ٱلۡمُجۡرِمُ لَوۡ يَفۡتَدِى مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِٮِٕذِۭ بِبَنِيهِ (١١) وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَأَخِيهِ (١٢) وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـٔۡوِيهِ (١٣) وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّ يُنجِيهِ (١٤) كَلَّآ‌ۖ إِنَّہَا لَظَىٰ (١٥)
Sedang mereka saling memandang. orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, 12. Dan isterinya dan saudaranya,13.  Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya Kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. 15.  Sekali-kali tidak dapat, …
(QS. Al-Ma’arij: 11-15.)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٌ۬ فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡ أَحَدِهِم مِّلۡءُ ٱلۡأَرۡضِ ذَهَبً۬ا وَلَوِ ٱفۡتَدَىٰ بِهِۦۤ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ وَمَا لَهُم مِّن نَّـٰصِرِينَ
Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari
seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.
bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.
(QS. Ali Imron: 91)

Dari Anas bin Mali ra bahwa Nabi bersabda: Allah Subhanahuwata’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya: Seandainya engkau memiliki dunia beserta isinya apakah engakau akan menebus dirimu dengannya?. Maka dia akan berkata: Ya. Lalu Allah berkata kepadanya: Aku telah menghendaki darimu menjalankan perbuatan yang lebih ringan dari hal tersebut padahal engkau masih berada di dalam sulbi Adam yaitu agar engkau tidak mempersekutukan Allah (aku mengira bahwa Nabi Muhammad sholallohu'alaihi wasallam berkata) dan aku tidak memasukkanmu ke dalam neraka, namun engkau enggan kecuali engkau mempersekutukan Allah”.

Kelima: Seyogyanya bagi orang yang beriman untuk menjaga keislaman dan keimanannya sampai kematiannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada -Nya;
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(QS. Ali Imron: 102)

Dan dari Aisyah Radhiyallohu'anha bahwa Nabi banyak berdo’a dengan mengatakan:

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك وطاعتك
“Wahai Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati, palingkanlah hatiku kepada agamamu dan ketaatan kepadamu”.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallohu'anhu berkata: Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam bersabda:

اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك
“Ya Allah, Tuhan yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatanmu”.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh para shahabatnya.

Judul : تدبر قول الله تعالى : وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ
Oleh: Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy
Terjemah : Muzaffar Sahid Mahsun
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad
http://assunnah-qatar.com/artikel/tazkiyatun-nufus/item/1397-peringatan-tentang-hari-penyesalan.html

Thursday, June 23, 2011

Suka Menunda-nunda, Satu Bagian Dari Tentara Iblis!

“Iya nanti sajalah”, demikian yang dikatakan dalam rangka menunda-nunda pekerjaaan atau amalan padahal masih bisa dilakukan saat itu. Kebiasaan kita adalah demikian, karena rasa malas, menunda-nunda untuk belajar, menunda-nunda untuk muroja’ah (mengulang) hafalan qur’an, atau melakukan hal yang manfaat lainnya, padahal itu semua masih amat mungkin dilakukan.

Perlu diketahui saudaraku, perkataan “sawfa ... sawfa”, “nanti sajalah” dalam rangka menunda-nunda kebaikan, ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis”. Demikian kata sebagian ulama salaf.

Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.

إن المنى رأس أموال المفاليس
“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.”[1]

Dalam sya’ir Arab juga disebutkan,

وَ لاَ تَرْجِ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِ          لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَ أَنْتَ فَقِيْدُ
Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok
Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan

Dari Abu Ishaq, ada yang berkata kepada seseorang dari ‘Abdul Qois, “Nasehatilah kami.” Ia berkata, “Hati-hatilah dengan sikap menunda-nunda (nanti dan nanti).”

Al Hasan Al Bashri berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”[2]

Itulah yang dilakukan oleh kita selaku penuntut ilmu. Besok sajalah baru hafal matan kitab tersebut. Besok sajalah baru mengulang hafalan qur’an. Besok sajalah baru menulis bahasan fiqih tersebut. Besok sajalah baru melaksanakan shalat sunnah itu, masih ada waktu. Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah.

Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-harinya sibuk dengan kebaikan. Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent. Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk menghadiri majelis ilmu, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya. Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut. Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian.

Lihatlah bagaimana kesibukan ulama silam akan waktu mereka. Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[3] Subhanallah

Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu.

Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i –di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi-[4], “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. (Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”[5]

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[6]

Semoga Allah memudahkan kita untuk memanfaatkan waktu kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda.

Wabillahit taufiq. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
http://suaramedia.com/artikel/kumpulan-artikel/41767-suka-menunda-nunda-satu-bagian-dari-tentara-iblis.html

[1] Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 1/456, Darul Kutub Al ‘Arobi. Lihat pula Ar Ruuh, Ibnul Qayyim, 247, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah; Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2/325, Muassasah Ar Risalah; ‘Iddatush Shobirin, Ibnul Qayyim, 46, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[2] Dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Tholabil ‘Ilmi, Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdillah As Sadhaan, 30, Darul Qobis
[3] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah
[4] Ini menunjukkan bahwa tidak masalah mendapat nasehat dari orang yang berpahaman menyimpang (semacam sufi) selama si penyimak tahu bahwa hal itu benar.
[5] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
[6] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi

Tuesday, June 7, 2011

Hukum Mendoakan Mayit

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Langsung saja, saya ingin bertanya apa benar kalau kita berdoa bersama dalam rangka tahlilan mendoakan orang yang meninggal, doa kita bersama tidak akan sampai kepada si mayit karena ada hadis yang berbunyi: ketika seseorang meninggal, maka terputus lah segala amalnya di dunia kecuali 3, yaitu sodakoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang soleh. Jadi doa kita bersama tidak sampai kepada si mayit karena kita bukan anaknya, lalu bagaimana kalau si mayit belum diberikan anak oleh Allah selama hidup di dunia, jadi siapa yang bisa mendoakannya kalau anak saja tidak punya? apapkah ini tidak adil jadinya? Mohon penjelasannya.

Terima Kasih

Wasslamu 'alaikum wr. wb.

Mendalami Islam

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Kebiasaan tahlilan yang dilakukan masyarakat pada hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal dunia merupakan perbuatan yang tidak ada dasarnya didalam islam. Dan tidak jarang hal itu memberatkan dan membebankan keluarga si mayit jika mereka termasuk golongan orang-orang yang tidak mampu.

Adapun tentang doa bersama bagi seorang yang sudah meninggal yaitu seseorang berdoa sedangkan yang lainnya mengaminkan maka tidaklah mengapa meskipun yang lebih utama adalah berdoa dengan sendiri-sendiri.

Imam Muslim meriwayatkan dari Utsman bin 'Affan, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: "Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya."

Firman Allah swt :

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Arti)nya : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr : 10)

Imam Nawawi mengatakan, ”Doa, pahalanya akan sampai kepada si mayit demikian pula sedekahnya dan keduanya sudah menjadi kesepakatan para ulama.”

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hirairoh bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” tidaklah menutupi diterimanya doa seseorang bagi seorang yang sudah meninggal dunia oleh Allah swt meskipun orang yang mendoakannya itu bukanlah anak kandungnya karena yang dimaksud dengan terputus amalnya adalah amal si mayit.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ad Darda' dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) yang tidak hadir dihadapannya, melainkan malaikat akan mendoakannya pula: 'Dan bagimu kebaikan yang sama.'

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang memohonkan ampunan bagi orang-orang beriman laki-laki maupun perempuan maka Allah menuliskan baginya dari setiap orang beriman laki dan perempuan (yang didoakannya) itu satu kebaikan.” (HR. ath Thabrani, al Haitsami mengatakan sanadnya baik. Syeikh al Albani menghasankan hadits ini)

Wallahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz