Thursday, January 20, 2011

TAWASUL DAN WASILAH


Merupakan sunnatullah setiap tujuan akan terwujud dengan ijin Allah setelah ditunaikannya sebab atau perantara yang biasa disebut wasilah. Baik wasilah yang memang Allah ciptakan secara tabiat dan fitrah yang dinamakan wasilah kauniyah, maupun wasilah yang Allah syariatkan di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah yang disebut wasilah syar’iyah. Hanya saja wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir, seperti makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya. Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja. Macam kedua inilah yang menjadi topik bahasan kita kali ini.

Allah sendiri telah menetapkan adanya wasilah bagi seorang mukmin untuk mendekatkan diri kepada-Nya:

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya”. (Al Maidah : 35) 

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan tafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Wa’il dan selain mereka dari kalangan ulama tafsir bahwa yang dimaksud wasilah di dalam ayat tersebut adalah suatu perkara yang bisa mendekatkan diri kepada Allah .

Lebih daripada itu Allah juga menetapkan perkara-perkara yang bisa dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah tidak menyerahkan begitu saja kepada hamba-hamba-Nya untuk menentukan perkara tersebut.
Satu-satunya kaidah untuk mengetahui bahwa suatu perkara itu bisa mendekatkan diri kepada Allah hanyalah dengan melihat keterangan dari Allah dan Rasul-Nya di dalam Al Qur’an ataupun As Sunnah. Tidak diperkenankan bagi siapapun, setinggi apapun derajat dia untuk menentukannya dengan akal pikiran, semangat ibadah, perasaan ataupun pengalaman religius semata. Tidaklah apa yang datang selain dari Allah dan Rasul-Nya melainkan pasti akan timbul pertentangan dan ikhtilaf. Allah berfirman :

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَو كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا
“Apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan datang dari sisi Allah tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya”. (An Nisaa’ : 82)

Tentang Rasul-Nya pun Allah beritakan:

وَ مَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحيٌ يُوْحَى
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An Najm: 3)

Kaidah yang sangat penting ini hendaklah selalu dipegang oleh setiap muslim, yang bila dia menjalankan wasilah tersebut maka dia telah menunaikan sebuah amalan yang disebut tawasul. Kaidah ini semakin tampak jelas pentingnya tatkala tujuan tawasul itu sendiri adalah mendekatkan diri kepada Allah , berharap untuk mendapatkan balasan kebaikan, keridhoan, jannah-Nya dan dikabulkan do’a oleh-Nya . Nah, mustahil sekali seseorang dapat mengetahui perkara tertentu sebagai wasilah untuk mendapatkan kemulian yang agung disisi-Nya melainkan hanya dari Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala apa yang ada di sisi-Nya.

Asy Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah di dalam “At Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu” hal. 30 telah memberikan peringatan penting kepada kita berkaitan tentang kaidah ini. Beliau berkata: “Dan diantara hal yang perlu diperhatikan: Bahwa apa yang telah ditentukan untuk dapat menjadi wasilah kauniyah cukuplah dengan tidak adanya larangan dari syari’at. Adapun wasilah syar’iyah tidaklah cukup untuk ditentukan dengan tidak adanya larangan dari syariat sebagaimana yang dipahami banyak manusia. Akan tetapi wasilah syar’iyah harus ditentukan dengan keterangan syar’i tentang masyru’ dan sunnahnya wasilah tersebut.

Kemudian beliau membawakan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang merupakan kaidah fiqhiyah terkenal:

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ المَنْعُ إِلاَّ لِنَصٍّ وَفي الْعَادَاتِِ الإِبَاحَةُ إِلاَّ لِنَصٍّ
“Hukum asal ibadah itu dilarang kecuali kalau ada nash (dalil) yang membolehkannya. Adapun hukum asal adat kebiasaan itu adalah diperbolehkan kecuali kalau ada nash yang melarangnya”.

Maka ingatlah peringatan ini karena sangat penting untuk membantumu dalam mencari kebenaran yang diperselisihkan manusia”.

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah di dalam “Al Qoulul Mufid” 1/162-163 memberikan kelengkapan kaidah tadi yang tidak kalah pentingnya bahwa penentuan sesuatu sebagai sebab (wasilah) yang sebenarnya bukan sebab yang Allah tentukan baik secara kauniyah maupun syar’iyah merupakan syirik kecil yang tidak menutup kemungkinan untuk kemudian terjerembab kedalam syirik besar. Wal ‘Iyadzu billah.

Perkara-perkara yang Allah dan Rasul-Nya telah tentukan sebagai wasilah yang seseorang diijinkan untuk bertawasul dengannya adalah sebagai berikut:

1. Tawasul kepada Allah dengan nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Hal ini Allah tegaskan dalam firman-Nya:

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا
“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdo’alah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”. (Al A’raaf : 180)

Asy Syaikh Abdurrahaman As Sa’di rahimahullah menafsirklan ayat ini dengan ucapan beliau: “Dan diantara kesempurnaan nama-nama Allah yang baik tersebut adalah tidaklah Dia diseru melainkan dengan (wasilah) nama-nama-Nya dan seruan (do’a) tersebut mencakup do’a ibadah dan do’a permintaan. Dia diseru di dalam setiap permintaan dengan nama yang sesuai dengan permintaan tersebut. Contohnya seseorang berdo’a: “Ya Allah ampunilah aku dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Terimalah taubatku wahai Dzat yang Maha Memberi taubat. Berilah aku rizki wahai Dzat yang Maha Memberi rizki. Berilah kelembutan padaku wahai Dzat yang Maha Lembut dan lain-lain”.

Tidaklah diragukan bahwa sifat-sifat Allah yang tinggi juga termasuk di dalam wasilah tersebut karena nama-nama-Nya yang baik sekaligus mengandung sifat-sifat bagi-Nya. Terlebih lagi Rasululullah amalkan di dalam do’anya yang shohih:

اللهُمَّ بِعِلمِكَ الْغَيْبَ وَ قُدْرَتِكَ على الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الحَيَاةَ خَيْرًا لي وَتَوَفَّنِي إَذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لي
“Ya Allah dengan ilmu-Mu tentang yang ghaib dan kekuasaan-Mu terhadap makhluk-Mu, hidupkanlah aku yang Engkau telah ketahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku”. ( H.R An Nasa’i dan Al Hakim serta dishohihkan Asy Syaikh Al Albani di dalam “Shohih An Nasa’i no. 1304).

Disini beliau bertawasul kepada Allah dengan wasilah dua sifat-Nya yaitu “Al Ilmu” dan “Al Qudrah” (kekuasaan).
2. Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.

Jenis tawasul ini didasarkan sebuah hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar ? tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar. Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya. Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya. Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka. Rasulullah mengkisahkan cerita panjang tentang ketiga orang tersebut diantaranya dalam rangka menetapkan dan memuji tawasul yang mereka lakukan walaupun hal itu terjadi pada masa sebelum diturunkannya syariat beliau .

3. Tawasul dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah tetapkan perkara ini di dalam firman-Nya:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادَيًا يُنَادِي لِلإِيْمَانِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ
“Wahai Rabb kami sesungguhnya kami telah mendengar seruan orang yang menyeru (Muhammad ) kepada keimanan yaitu: “Berimanlah kalian kepada Rabb kalian”. Maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang baik”. (Ali Imran : 193)

Maka lihatlah mereka menyebutkan keimanan terlebih dahulu sebelum berdo’a ! Bahkan iman dan amalan sholih sendiri merupakan sebab dikabulkannya sebuah do’a sebagaimana firman Allah :

وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وِيَزِدْهُمْ من فَضْلِهِ
“Dan Dia memperkenankan do’a orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta menambah balasan kebaikan kepada mereka dari keutamaan-Nya”. (Asy Syura :26). Demikian keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam “Al Qo’idah Al Jalilah” hal. 97 dan 241.

4. Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah .

Do’a Nabi Zakariya ? yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini. Dia berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”. (Maryam : 4)

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

5. Tawasul dengan do’a orang yang sholih kepada Allah .

Tawasul jenis ini pernah dipraktekkan baik di jaman Nabi masih hidup maupun setelah sepeninggal beliau . Di dalam riwayat Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Anas bin Malik ? menceritakan tentang tawasul orang Arab Badui dengan do’a Nabi agar Allah menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan dan menahan hujan ketika terjadi banjir. Maka Allah mengabulkan do’a beliau .

Demikian juga apa yang diriwayatkan Al Bukhori di dalam “Shohih”-nya dari Umar bin Al Khoththob ? bahwa beliau pernah bertawasul dengan do’a Abbas bin Abdul Muththolib ? agar Allah menurunkan hujan.
Di dalam tawasul jenis kelima ini terdapat satu kaidah yang sangat penting bahwa yang dijadikan sebagai wasilah adalah do’a seorang yang sholih. Sehingga kalaupun orang sholih tersebut tidak memanjatkan do’anya atau mendo’akan sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan maka tentunya tidaklah mungkin untuk ditunaikan tawasul jenis ini. Walillahil Hamdu.

Penyebutan macam-macam tawasul yang diperbolehkan secara syariat ini apabila dipadukan dengan kaidah bahwa penentuan tawasul syar’iyah itu hanya dengan keterangan Al Qur’an dan As Sunnah maka mengeluarkan segala bentuk tawasul yang tidak termasuk di dalamnya, walaupun dengan berbagai dalih dan alasan.

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam “At Tawasul” hal. 50 memberi nasehat mulia kepada kita dengan ucapannya: “Dan diantara perkara yang sangat aneh, engkau melihat mereka (orang-orang yang bertawasul dengan wasilah yang tidak disyari’atkan) itu berpaling dari macam-macam tawasul yang disyariatkan. Hampir-hampir mereka tidak lagi melakukan satupun darinya di dalam do’a ataupun tatkala membimbing manusia untuk melakukan tawasul. Padahal itu telah ditetapkan di dalam Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan umat ini. Engkau melihat mereka menggantinya untuk kemudian sengaja membuat do’a-do’a dan tawasul-tawasul sendiri yang tidak pernah disyariatkan Allah . Tidak pula pernah dipraktekkan Rasulullah dan ternukilkan dari pendahulu umat ini dari kalangan tiga generasi terbaik. Minimal yang mereka katakan bahwa tawasul yang diluar tawasul syar’i itu diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Maka betapa pantas keadaan mereka dengan firman-Nya :

أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?”.(Al Baqarah : 61)

Dan nampaknya pemandangan amaliah mereka memperkuat kebenaran ucapan seorang tabi’in yang mulia Hassan bin Athiyyah Al Muhasibi rahimahullah tatkala berkata: “Tidaklah suatu kaum membuat kebid’ahan di dalam agama mereka kecuali Allah cabut sunnah setimpal dengan perbuatan bid’ah itu. Kemudian Allah tidak mengembalikannya kepada mereka sampai hari kiamat”. (Diriwayatkan Ad Darimi 1/45 dengan sanad shohih)”.

Beliau pun juga mengajak kita untuk berpikir jernih tentang permasalahan besar itu di dalam “Silsilah Adh Dha’ifah” 1/94. Beliau berkata: “Kalaulah tawasul bid’ah itu dianggap tidak keluar dari lingkup khilafiyah, maka jika manusia mau bersikap adil pastilah mereka akan berpaling darinya dalam rangka hati-hati dan mengamalkan ucapan beliau :

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إلَي مَالاَ يَرِيْبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu”.

Untuk kemudian engkau beramal dengan apa yang kami isyaratkan dari bentuk-bentuk tawasul yang disyariatkan. Namun ternyata mereka – ironis sekali – berpaling dari perkara ini. Lalu berpegang teguh dengan tawasul yang diperselisihkan tadi seakan-akan tawasul bid’ah tersebut sebagai suatu keharusan yang mereka tekuni sebagaimana halnya perkara yang wajib !”.

Setelah itu kita pun harus mengerti bagaimana bentuk tawasul bid’ah yang sebenarnya telah diperingatkan para ulama sebelum munculnya nama besar Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sekalipun !.

Bentuk tawasul bid’ah yang sering diterangkan para ulama di dalam banyak karya mereka adalah seperti apa yang Allah tegaskan di dalam firman-Nya:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلي اللهِ زُلْفَى
“Tidaklah kami (orang-orang musyrik) beribadah kepada mereka (orang-orang sholih) melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.(Az Zumar: 3)

Hakekat bentuk tawasul mereka ini adalah menjadikan dzat dan kedudukan orang-orang sholih sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah ataupun wasilah untuk dikabulkannya suatu do’a. Hanya saja Asy Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhohullah di dalam “Al Muntaqo” dari fatwa beliau 1/89 memberikan rincian yang bagus tentang bentuk tawasul bid’ah ini yang masing-masingnya memiliki hukum yang berbeda. Beliau berkata: “Kemudian bila dia (orang yang bertawasul bid’ah yang masih beriman kepada rububiyah Allah ) ini bertaqarrub kepada orang-orang sholih dengan sesuatu dari bentuk-bentuk ibadah seperti menyembelih untuk wali-wali atau orang sholih, nadzar untuk mereka, meminta hajat dari orang-orang mati dan beristighotsah kepada mereka maka ini adalah syirik besar yang mengeluarkan dia dari agama.

Namun apabila dia bertawasul dengan orang-orang sholih karena kedudukan mereka yang tinggi di sisi Allah tanpa memberikan satupun bentuk ibadah kepada mereka maka ini termasuk bid’ah yang diharamkan dan perantara untuk sampai kepada syirik”.

Alasan mereka (orang-orang musyrik) berbuat demikian karena memandang orang-orang sholih memiliki ilmu dan ibadah sehingga berkedudukan tinggi di sisi Allah . Kemudian mereka mengkiaskan keadaan Allah dengan seorang raja di dunia. Seorang raja tidak mungkin ditemui rakyatnya melainkan melalui para pembantunya. Demikian juga tidak mungkin mereka mendekatkan diri kepada-Nya dan dikabulkannya sebuah do’a melainkan harus melalui orang-orang sholih tadi. Subhanallah ! Tidaklah mereka sadar bahwa alasan dan dalil yang mereka bawakan itu sebenarnya sebuah celaan kepada Allah . Kias yang mereka kemukakan merupakan sejahat-jahat kias yang mengandung unsur penyamaan Allah yang Maha Kuasa dengan makhluk yang sarat dengan berbagai kelemahan. Padahal seorang yang memilki mata hati yang paling lemah pun masih mengerti adanya perbedaan yang sangat terang antara keadaan Rabbul ‘Alamin dengan segenap alam semesta ini.

Diantara perbedaan yang mencolok sekali antara seorang raja di dunia dengan Allah bahwasanya seorang raja memang tidak mungkin memenuhi segala keinginan rakyatnya karena kemampuannya yang sangat terbatas. Sedangkan Allah Maha Kuasa untuk memenuhi kebutuhan setiap makhluk yang ada di alam semesta ini dan Dia pun Maha Tidak Butuh kepada segenap makhluk-Nya. Walillahil Hamdu.

Ironis memang tatkala kita melihat dan menengok kenyataan bahwa bentuk dan alasan mereka bertawasul ternyata diwarisi para generasi yang mengaku paling mengerti tentang agama ini di jaman sekarang. Bahkan mereka telah melengkapi alasan dan dalih rusak nenek moyang mereka terdahulu dengan dalih dan alasan terbaru ataupun sekedar “menghias” keyakinan dan aqidah jahiliyyah masa silam.

Mereka menjadikan tawasul bid’ah ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari do’a dan dzikir mereka setiap hari. Kita pun sering mendengar dan melihat mereka berkata: ( بِجَاهِ مُحَمَّدٍ … ) atau (بِبَرَكَةِ الشيخ عَبْدِ الْقَادِرِ الجَيْلاني …) sebelum berdo’a kepada Allah dan seterusnya di masjid-masjid Allah.

Mereka pun tidak sekedar mengamalkan tawasul bid’ah namun lebih daripada itu mendidik, mendakwahkan dan menulis karya-karya yang tidak mustahil akan dibaca di setiap tempat dan jaman. Wallahul Musta’an.

Seandainya mereka mendatangkan sejuta alasan dengan sejuta pula tingkat “keilmiahan” dari alasan-alasan sebelumnya, atau sekokoh dan setinggi apapun bangunan syubuhat yang mereka tegakkan maka terpatahkanlah alasan dan hancur pula bangunan tersebut secara serempak tatkala menghadapi tegaknya kaidah yang telah kita miliki, sebelum kita datangkan jawaban dari tiap-tiap alasan tersebut secara terperinci. Allah berfirman:

وَلاَ يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ إلاَّ جِئْنَاكَ بِالْحّقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيْرًا
“Dan tidaklah mereka mendatangkan sesuatu yang janggal melainkan Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”. (Al Furqan : 33)

Tanya-Jawab
Soal: Kalau memang tawasul dengan dzat dan kedudukan Nabi tidak diperbolehkan maka bagaimana dengan hadits:

تَوَسَّلُوا بِجَاهِي فَإِنَّ جَاهي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ
“Bertawasullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukanku sangat agung di sisi Allah”.?
Jawab: Asy Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam “Silsilah Adh Dho’ifah” 1/76-99 telah menjelaskan secara terperinci bahwa seluruh hadits yang menganjurkan untuk bertawasul dengan dzat Nabi dan orang-orang sholih adalah lemah bahkan sampai derajat tidak asalnya sama sekali.

Kita pun tetap meyakini tentang kedudukan Nabi yang sangat tinggi di sisi Allah namun hal itu tidak sampai kepada sikap berlebih-lebihan kepada beliau dalam bentuk bertawasul dengan dzatnya yang mulia.

Wallahu “A’lam bish Showab

Monday, January 17, 2011

Peran Dan Fungsi Imam Masjid

mjd emas
Dalam dunia apapun, ketika yang terlibat lebih dari satu apalagi banyak orang, diperlukan adanya pemimpin yang memberikan arahan dan bimbingan. Masjid yang berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan umat tentu saja amat memerlukan adanya pemimpin atau imam. Pada masa Rasulullah Saw, beliau berfungsi sebagai imam, baik dalam memfungsikan masjid secara utuh maupun imam dalam shalat berjamaah.

Dalam perkembangan masyarakat kita sekarang, terdapat dua imam, yakni imam dalam kepengurusan masjid dan imam dalam shalat berjamaah. Idealnya memang menyatu, tapi keterbatasan yang sedemikian besar membuat diperlukannya kepemimpinan kolektif, termasuk di dalam masjid. Dalam konteks inilah, kita hendak mengulas peran dan fungsi imam masjid.


Salah satu fungsi utama masjid adalah sebagai tempat melaksanakan peribadatan, khususnya shalat berjamaah yang lima waktu. Secara harfiyah, imam artinya pemimpin atau orang yang diikuti. Dalam konteks shalat, imam adalah orang yang dipercaya untuk memimpin shalat bersama dan berdiri pada posisi terdepan serta gerak gerik dan bacaannya diikuti oleh orang-orang atau jamaah di belakangnya yang menjadi ma’mum (Ensiklopedi Islam, 2:205). Dalam konteks kemasjidan imam masjid adalah guru atau pembimbing spiritual bagi perkembangan masjid dan jamaahnya. Imam masjid bertanggung jawab terhadap upaya menghidupkan ruh Islam pada masjid dan jamaahnya. Karena itu, kedudukan imam dalam struktur masjid semestinya sejajar dengan ketua umum pengurus masjid, sehingga hubungan ketua masjid dengan imam masjid setidak-tidaknya hubungan kordinatif yang saling bekerjasama dalam memberi arah terhadap perkembangan masjid.

PERAN DAN FUNGSI IMAM

Peran dan fungsi yang bisa dan harus dijalankan imam masjid sangat penting dan strategis. Karena itu, imam masjid bukanlah sekedar berfungsi sebagai pemimpin dalam shalat berjamaah, sebagai imam shalat merupakan salah satu fungsinya. Ada beberapa peran dan fungsi imam masjid yang harus diwujudkan, yaitu :

1. PEMERSATU UMAT ISLAM

Sebagai imam masjid, Rasulullah Saw amat memperhatikan persatuan dan kesatuan dikalangan para sahabatnya. Bila sahabat berbeda pendapat, Rasulullah menengahi perbedaan itu dan kalau sahabat memiliki gagasan dan pendapat yang baru selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, maka Rasulullah Saw amat senang dengan pendapat dan gagasan itu, kesemua itu adalah dengan maksud terwujudnya persatuan dikalangan para sahabat yang sebaik mungkin.

Karena itu imam pada masa sekarangpun harus berperan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan umat Islam, baik dikalangan intern jamaah yang dipimpinnya di masjid tersebut maupun dalam hubungannya dengan pengurus dan jamaah masjid lain. Ini berarti imam masjid harus mampu bersikap netral dalam menyikapi pertententangan atau perbedaan pendapat dikalangan jamaah atau antara suatu masjid dengan masjid lainnya. Meskipun demikian, netral bukan berarti tidak punya sikap dan pendirian, sikap dan pendiriannya adalah pada kebenaran itu sendiri, namun meskipun suatu kelompok di dalam masjid memiliki pendapat yang benar, imam masjid bukan harus bersikap mempertentangkan yang tidak benar, apalagi membelanya, tapi berusaha secara baik-baik mengajak mereka pada kebenaran, hal ini karena da’wah pada hakikatnya adalah mengajak, bukan menghakimi.

2. MENGHIDUPKAN SEMANGAT MUSYAWARAH

Masjid adalah tempat untuk bermusyawarah, musyawarah antar pengurus dengan pengurus dan pengurus dengan jamaahnya, bahkan antar sesama jamaah. Imam masjid selalu berusaha mendudukkan persoalan melalui musyawarah sehingga dengan musyawarah itu, hal-hal yang belum jelas menjadi jelas dan hal-hal yang dipertentangkan bisa dicarikan titik temunya. Rasulullah Saw biasa menggunakan masjid untuk bermusyawarah, bahkan strategi perang dimusyawarahkan di masjid. Ketika sahabat baru saja pulang dari daerah Bani Quraidah, mereka melaporkan tentang perbedaan pendapat tentang shalat ashar, satu kelompok melakukan di tengah perjalanan, sedang satu kelompok lagi melakukan sesampainya di daerah itu sesuai dengan pesan Rasul, maka Rasulullah membenarkan keduanya.

3. MEMBENTENGI AQIDAH UMAT

Dalam kehidupan sekarang yang begitu rendah nilai moralitas masyarakat kita, amat diperlukan benteng aqidah yang kuat, sebab kerusakan moral pada hakikatnya karena kerusakan aqidah. Benteng aqidah ini menjadi lebih penting lagi karena sekarang ini berkembang pula pemahaman aqidah yang menyesatkan. Imam masjid semestinya berperan membentengi aqidah yang kuat bagi jamaahnya. Untuk itu, diperlukan pembinaan yang intensif dari imam masjid kepada jamaahnya.

Rasulullah Saw memberikan perhatian yang begitu besar dalam masalah ini, sehingga di masjid Nabawi, disediakan juga shuffah atau semacam asrama, para sahabat tinggal di situ dan mendapatkan pembinaan aqidah Islamiyah sehingga mereka menjadi profil generasi yang shaleh. Aqidah umat yang kokoh akan membuat mereka tidak didominasi oleh rasa takut dalam membuktikan kekuatan aqidah, bahkan mereka tidak akan berduka cita atau tidak menyesal sebagai mu’min yang sejati bila resiko yang tidak menyenangkan harus dialami dan dirasakannya, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya, orang yang mengatakan: “Tuhanku Allah” kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut dan tidak pula mereka berduka cita (QS 46:13).

4. MENJADI USWAH BAGI JAMAAH.

Dalam pelaksanaan ajaran Islam sehari-hari, umat Islam amat menuntut adanya figur-figur teladan sehingga kaum muslimin memahami bagaimana pelaksanaan ajaran Islam yang baik. Bagaimana shalat yang baik, berinfaq, bermasyarakat, dan sebagainya, idealnya ada yang mencontohkan sehingga umat Islam mudah menirunya. Imam masjid sangat penting untuk bisa menjadi teladan dalam pelaksanaan ajaran Islam. Rasulullah Saw menyatakan bahwa mu’min itu adalah cermin bagi mu’min yang lainnya. Itu berarti seorang mu’min harus bisa menjadi teladan bagi orang lain, apalagi bagi imam masjid yang memang harus bisa diteladani oleh jamaah dalam berbagai sisi kehidupan pribadi, keluarga dan kemasyarakatan. Sebagai imam masjid, Rasulullah Saw menjadi teladan bagi jamaahnya, Allah berfirman: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS 33:21).

5. MENJADI RUJUKAN DALAM MASALAH KEISLAMAN

Sebagaimana kita ketahui, masih amat banyak umat Islam yang begitu awam terhadap ajaran Islam. Keawaman umat terhadap Islam diperparah lagi dengan adanya perbedaan cara pandang dalam memahami ajaran Islam sehingga sebagian umat Islam masih bingung terhadap ketentuan-ketentuan Islam. Kebingungan umat itu sebenarnya bisa diatasi manakala imam masjid bisa menjadi rujukan atau tempat bertanya yang mampu memberikan.jawaban yang luas tapi mudah dipahami, termasuk dalam bersikap dan bertindak dalam masalah-masalah yang sifatnya pribadi agar tidak menyimpang atau bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagai imam masjid, Rasulullah Saw sering mendapat pertanyaan dari para sahabat dan beliau memberikan jawaban sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Ini berarti, imam masjid pada masa sekarang harus dapat menjadi rujukan dalam masalah-masalah kehidupan jamaah yang ditinjau dari sisi keislaman.

6. MEMBANGUN SOLIDITAS JAMAAH

Mewujudkan masjid yang ma’mur, mencapai umat yang maju dan menggapai kejayaan Islam dan umatnya merupakan sesuatu yang tidak bisa dicapai secara individual, begitu juga dalam upaya menghadapi tantangan umat yang terasa kian besar, diperlukan kerjasama yang solid antar sesama jamaah masjid. Oleh karena itu, sebagai imam masjid, Rasulullah Saw membangun soliditas para sahabat yang merupakan jamaah masjid untuk bahu membahu dalam perjuangan menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam dengan segala hambatan dan tantangan yang dihadapinya.

Dalam rangka membangun kesolidan jamaah itu, imam masjid bersama para pengurus masjid sebagaimana Rasulullah Saw, menyatukan seluruh potensi jamaah dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk mensyiarkan dan menegakkan agama Allah sehingga menjadi suatu kekuatan yang berarti, ini akan membuat Allah cinta kepada mereka, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berjuang di jalan-Nya dalam suatu barisan yang teratur, sekan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS 61:4).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa, imam masjid mempunyai kedudukan, peran dan fungsi yang sangat penting, tidak hanya bagi upaya pemakmuran masjid itu sendiri, tapi juga bagi upaya memajukan, membina dan mengembangkan masyarakat muslim yang merupakan jamaah masjid. Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa, imam pada masjid-masjid kita belum berfungsi dan berperan secara ideal sebagaimana Rasulullah Saw telah mencontohkannya kepada kita.

Drs. H. Ahmad Yani

Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi'i

Assalammualaikum Wr.Wb

Pak ustad ada yang ingin saya tanyakan mengenai sesuatu yang marak terjadi di kalangan umat Islam di indonesia.Salah satu contoh yaitu;

Mana yang harus di dahulukan antara persatuan sesama muslim dengan tatacara beribadah.ada satu kasus di daerah saya, mengenai shalat jum''at.ada yang meyakini adzan jum''at satu kali dan ada yang meyakini dua kali, kemudian mereka berselisih paham dan akhirnya yang meyakini adzan jum''at satu kali memisahkan diri dan melaksanakan shalat jum''at di tempat lain.

Yang ingin saya tanyakan adalah;apakah benar harus memisahkan diri hanya karena perbedaan jumlah adzan, yang akhirnya merusak persatuan dan menimbulkan permusuhan

jawaban

Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Apa yang anda ceritakan ini merupakan salah satu contoh dari keawaman dan kurang luasnya cara pandang sebagian dari saudara-saudara kita sesama umat Islam. Patut disayangkan memang, tapi ternyata itulah realitanya.

Entah apa yang salah, tapi yang jelas kalau sampai jamaah shalat Jumat terbelah dua, masing-masing mengadakan sendiri-sendiri, hanya lantaran perbedaan jumlah adzan, jelas-jelas telah menyalahi aturan shalat Jumat yang baku.

Sebab dalam aturan shalat Jumat yang baku, tidak boleh ada dua jamaah shalat Jumat yang berdekatan. Kecuali karena alasan tidak muatnya daya tampung jamaah di dalam sebuah masjid.
Sedangkan kalau hal itu hanya disebabkan oleh karena perbedaan jumlah adzan, tentu saja tidak boleh dijadikan alasan. Bahkan kalau pemisahan jamaah itu dilakukan juga, banyak fatwa para ulama yang menyebutkan bahwa kedua shalat Jumat itu tidak sah.

Sikap Ulama Dalam Perbedaan Pendapat

Seharusnya para takmir masjid dan tokoh agama bisa mencontoh keulamaan seorang Buya Hamka. Tokoh yang baru saja diperingati 100 tahunnya kemarin, boleh jadi sosok yang paling ideal untuk dijadikan panutan dalam urusan toleransi antara pendapat fiqih.

Di antaranya sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka, meski beliau boleh dibilang tokoh Muhammadiyah yang anti qunut. Namun beliau bershahabat baik dengan tokoh ulama betawi, KH. Abdullah Syafi''i, tokoh ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah.

Ada sebuah kisah yang menarik, khususnya masalah adzan dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi''i mengunjungi Buya masjid Al-Azhar Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itumenurut jadwalseharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena menghormati shahabatnya, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi''i yang naik menjadi khatib Jumat.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya hanya satu kali. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat shahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambah jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Ini luar biasa dan kisah ini perlu kita hidupkan lagi. Begitulah sikap kedua tokoh ulama besar negeri ini. Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal.Dan siapa tidak kenal KH Abdullah Syafi''i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafi''iyah, yang umumnya kiyai betawi hari ini adalah murid-murid beliau.

Bahkan menurut Rusydi Hamka, ayahnya itu ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar kala itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.

Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan wawasannya luas. Tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan khilafiyah lahir karena memang proses yang alami, di mana dalil dan nash yang ada menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari perhatian orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes.

Sebaliknya, mereka yang suka meributkan masalah khilafiyah, biasanya merupakan sosok yang kerjanya memang sekedar cari-cari perbedaan, dan umumnya mereka memang suka sensasi. Mungkin kalau dilihat dari bakatnya, lebih tepat jadi artis. Setidaknya jadi wartawan infotainment.

Intinya buat mereka, bagaimana caranya bisa dapat decak kagum dari orang-orang atau tepuk tangan dari para pendukungnya. Kadang perbuatannya nekad, sampai-sampai kalau perlu sumur zamzam pun dikencingi. Asalkan bisa menghasilkan sensasi.

Prinsip mereka, apapun yang sekiranya bisa menarik perhatian orang, akan dilakukan. Walau punterkadang kepala mereka tidak ada isi apa-apa, alias jahil bin blo''on. Apa yang keluar dari mulutnya hanya foto copy dan taqlid dari orang lain, bukan lahir dari keluasan ilmu, kefaqihan dan kealiman, apalagi dari kerendahan hatinya. Tapi sayangnya, sikap dan perilaku mereka, seolah mufti tertinggi.

Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc
http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1203107924&date=9-2009

Monday, January 10, 2011

KH Abdoelhalim: Penentang Penjajah yang Mandiri

KH Abdoelhalim (1887-1962)
Tidak mudah jadi pegawai pemerintah, termasuk menjadi Penghulu Landraad (semacam Kementrian Agama). Meskipun memiliki kecakapan yang diperlukan namun bila tidak memiliki koneksi dari dalam, tipis peluangnya untuk diterima. KH Abdoelhalim, kelak menjadi pendiri dan Ketua Persatuan Umat Islam (PUI), memiliki keduanya: ilmu-ilmu Islam dan koneksi dari dalam.

Bagaimana tidak, selama lima belas tahun ia belajar agama Islam, bahasa Arab, Belanda dan Cina. Sedangkan mertuanya adalah seorang Hoofd Penghulu Landraad (semacam Kepala Kantor Kementrian Agama) Majalengka. Namun ia segera menolak mentah-mentah ketika mertuanya itu menawarinya untuk menjadi pegawai pemerintah. Ia lebih memilih berdiri berseberangan dengan pemerintah kolonial Belanda yang dianggapnya sebagai penjajah itu.

Berjuang Lewat Organisasi

Abdoelhalim terlahir dengan nama Otong Sjatori pada tahun 1887 di Majalengka, Jawa Barat. Sekembalinya dari ibadah haji namanya berganti menjadi Abdoelhalim. Ayahnya bernama KH Moehammad Iskandar, penghulu Kewedanan Jatiwangi, dan ibunya Hajjah Siti Moetmainah binti Imam Safari. Ia menikah dengan Siti Moerbijah, putri KH Mohammad Ilyas, Hoofd Penghulu Landraad Majalengka.

Pada usia 10 tahun ia sudah belajar membaca Alquran dan menjadi santri pada beberapa kyai di berbagai daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah sampai mencapai usia 22 tahun. Kemudian ia berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mendalami ilmu agama selama tiga tahun. Tak tanggung-tanggung, yang menjadi gurunya pun adalah imam dan khatib Masjidil Haram yakni Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Ahmad Khayyat. Di sana pula ia bertemu dengan KH Mas Mansjoer dari Surabaya (tokoh Moehammadijah) dan KH Abdoel Wahab Hasboellah (tokoh Nahdatoel Oelama).

Pada tahun 1911 ia kembali ke Indonesia dan mendirikan Majlis Ilmoe. Di atas tanah wakaf mertuanya, ia membangun tempat pendidikan yang dilengkapi dengan asrama sebagai tempat tinggal para santri. Untuk memantapkan langkah-langkahnya pada tahun 1912 ia mendirikan suatu perkumpulan atau organisasi bernama Hajatoel Qoeloeb yang beranggotakan para tokoh masyarakat, santri, pedagang, dan petani. Adapun tujuan organisasi adalah membantu anggota dalam persaingan dengan pedagang Cina, sekaligus menghambat arus kapitalisme kolonial.

Secara bertahap, organisasi yang dipimpinnya dapat memperbaiki keadaan masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Pada tahun 1915 organisasi yang dipimpinnya ini dibubarkan sebab dinilai pemerintah sebagai penyebab terjadinya beberapa kerusuhan (terutama antara pribumi dan Cina).

Pada 16 Mei 1916 Abdoelhalim mendirikan Jam'iyah I'anah al Muta'alimin sebagai upaya untuk terus mengembangkan bidang pendidikan. Jam'iyah ini pun bekerja sama dengan Jamiat Khair dan Al-Irsyad di Jakarta. Melihat sambutan yang cukup tinggi dari masyarakat, yang dinilai oleh pihak kolonial dapat merongrong pemerintahan, maka pada tahun 1917 organisasi ini pun dibubarkan.

Ia pun tak patah arang dengan dorongan dari sahabatnya, Ketua Sjarikat Islam saat itu HOS Tjokroaminoto, pada tahun itu juga ia mendirikan Persjarikatan Oelama (PO). Organisasi ini diakui oleh pemerintahan kolonial Belanda pada 21 Desember 1917.

Abdoelhalim juga memandang perlu memberikan bekal keterampilan kepada anak didik agar kelak hidup mandiri tanpa harus tergantung pada orang lain atau menjadi pegawai pemerintah. Ide ini direalisasikannya dengan mendirikan Pesantren Santi Asromo pada April 1942, yang bertempat di Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka.

Santi Asromo (bahasa Kawi, Jawa kuno: tempat pendidikan yang sunyi dan damai), pelopor pesantren modern yang mencetak santri plus, yang saat itu belum terpikirkan orang. Pesantren ini merupakan tindak lanjut dari Hasil Kongres PO di Majalengka yang dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan Abdoelhalim terhadap hasil pendidikan pesantren pada masa itu.

Di samping itu, pendirian pesantren ini pun didorong oleh kenyataan banyaknya orang pribumi yang sulit mengecap pendidikan di sekolah-sekolah. Pesantren Santi Asromo termasuk pembaru kurikulum pesantren, karena sejak didirikan, telah meninggalkan sistem pendidikan tradisional yang khusus memberikan pelajaran agama.

Pesantren Santi Asromo dibangun di tempat yang jauh dari keramaian Kota Majalengka. Para santri selain diberi pelajaran agama juga diberi pelajaran umum dan dibekali pendidikan keterampilan seperti bercocok tanam, bertukang kayu, kerajinan tangan, dan lain-lain. Siswa juga wajib tinggal di asrama selama 5 sampai 10 tahun.

Pada tahun 1942 ia mengubah PO menjadi Perikatan Umat Islam yang (kemudian) pada tahun 1952 melakukan fusi dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), menjadi Persatuan Umat Islam (PUI), yang berpusat di Bandung.

Berjuang dengan Senjata

Ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1947, ia bersama rakyat dan tentara mundur ke pedalaman untuk menyusun strategi melawan Belanda. Ia juga menentang keras berdirinya Negara Pasoendan yang didirikan pada tahun 1948 oleh Belanda.

Pada masa perang kemerdekaan, KH Abdoelhalim bergerilya bersama pejuang lainnya mempertahankan kemerdekaan dengan basis di sekitar Gunung Ciremai. Ia langsung memimpin anak buahnya menghadang gerakan militer Belanda (NICA). Pada waktu itulah ia diangkat menjadi "Bupati Masyarakat" Majalengka dan memimpin rakyat melawan NICA.

Lokasi Santi Asromo, dianggap NICA sebagai pusat pertahanan TNI dan lasykar sehingga sebagian hancur karena dibom NICA. Abdoelhalim, anak dan menantunya ditangkap Belanda. Namun ia tetap tidak mau menyerah atau bekerja sama dengan NICA dan ia pun berhasil kabur. Ia menentang gerakan Haji Syarip yang mendukung Belanda. Ia pun diangkat menjadi panitia penggempuran Negara Pasoendan hasil rakayasa Van Mook.

Setelah perang kemerdekaan usai, dan negara aman, perjuangan melalui organisasi PUI dilanjutkan kembali. Pada tahun 1952, dilakukan fusi antara Persatuan Umat Islam (PUI) dan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), meskipun KH Ahmad Sanoesi, sahabatnya, sudah wafat waktu itu. Fusi dilakukan tepatnya pada 5 April 1952, di Bogor. Hasil fusi lahirlah Persatuan Ummat Islam (PUI) dan KH Abdoelhalim terpilih sebagai Ketua.

Pada tahun-tahun berikutnya kegiatan PUI banyak mendapat hambatan. Kondisi kesehatan KH Abdoelhalim semakin menurun, dan pada 17 Mei 1962, ia meninggal dunia di Santi Asromo.

Berjuang dengan Tulisan

Abdoelhalim adalah ulama yang dapat dikatakan sebagai seorang penulis yang produktif. Banyak tulisan-tulisannya yang sempat diterbitkan. Tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan di kalangan anggota PO dalam bentuk brosur dan buku kecil. Tetapi, sebagian besar tulisannya sudah terbakar sewaktu agresi Belanda kedua.

Ia pun pernah menjadi pemimpin redaksi dan penanggung jawab majalah Soeara PO, majalah As Sjoero, majalah Pelita. Tulisannya pun seringkali dimuat di Soeara Moeslimin Indonesia, Al Kasjaaf, Pengetahoen Islam.

Di dalam tulisa-tulisan tersebut, dapat dilihat pemikiran Abdoelhalim tentang gagasan dan cita-citanya. Pada garis besarnya, pokok-pokok pikiran Abdoelhalim bersumber dari penafsirannya tentang konsep As Salam. Karena menurut pemahamannya, agama Islam memuat ajaran-ajaran yang bertujuan untuk membimbing manusia agar mereka dapat hidup selamat di dunia, dan memperoleh kesejahteraan hidup di akhirat. Kedua macam keselamatan hidup ini disebut As Salam.

Berdasarkan pengertian ini, Abdoelhalim melihat, bahwa kesejahteraan hidup di akhirat erat kaitannya dengan keselamatan hidup di dunia, karena untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera di akhirat, terlebih dahulu manusia mesti hidup selamat di dunia, yaitu hidup yang sejalan dengan tuntutan agama (Abdoelhalim: 1938). Makanya, menurut Abdoelhalim antara kedua macam kehidupan tersebut, terdapat hubungan kausalitas (timbal-balik).[] joy/ sumber utama: Pemikiran dan Kiprah Pendidikan KH Abdul Halim (1887-1962) karya wildan hasan 

http://mediaumat.com/sosok/2127-43-kh-abdoelhalim-penentang-penjajah-yang-mandiri.html

Thursday, January 6, 2011

Tujuh Golongan Yang Mendapat Kado Istimewa Dari Allah

Saudara pembaca yang dirahmati Allah swt. Sudah kita ketahui bahwa usia pemuda adalah usia yang cukup menarik. Yang masih terkandung energi atau tenaga yang lebih banyak dibanding yang lebih senior. Dan Allah pun memberikan keistimewaan kepada pemuda. Karena PEMUDA HARI INI ADALAH PEMIMPIN MASA DEPAN yang harus dipersiapkan untuk menjadi teladan yang baik di kemudian hari. Allah pun memberikan ujian yang lebih “keren” kepada pemuda dibanding kepada orang tua. Hal kecil saja, misalnya seorang pemuda laki-laki yang sedang tertarik kepada seorang pemuda perempuan yang cantik. Hal ini ujian, yang jika tidak terjaga maka pemuda tersebut akan terjerumus kepada kemaksiatan. Lalu, ujian kemalasan beribadah kepada Allah. Jika ia lalai, maka Allah pun akan menyesatkannya.

Subhanallah Saudara pembaca, Allah Maha Adil, Dia memberikan ujian yang sebanding dengan pahala yang akan didapatkannya. Memang ini adalah sunnatullah, ini cara Allah untuk memberikan rasa pengharapan dan takut hanya kepada-Nya.

Berbicara mengenai kata perbuatan, Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi orang yang beramal shalih, sebaiknya Dia akan memberikan hukuman bagi yang berbuat kemunkaran. Sebagaimana orang tua yang memberikan hadiah bagi anak-anaknya yang baik dan berprestasi dan memberikan hukuman bagi yang nakal.

Hadiah ini memang akan Allah berikan saat hari terakhir kita (kiamat), namun jika kita tidak mengetahuinya, mungkin kita akan diam dan berpangku tangan karena tidak mengetahui
Hadiahnya itu.

Naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada naungan lagi selain dari Allah Yang Maha Rahmaan-Rahiim. Itulah kado istimewa yang Allah sediakan untuk kita, pemuda. Siapa saja tujuh golongan itu??

1. Hakim yang Adil

Nah lho…, katanya pemuda, tapi yang disebut malah hakim?? Saudara pembaca yang budiman, di antara kita mungkin sudah sering mendengarkan kalimat ini. Setiap orang adalah pemimpin atas dirinya, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi, jangan dulu memikirkan bahwa pemimpin itu membawa banyak orang di bawahnya, seperti presiden, gubernur, dan lainnya. Namun ternyata setiap kita adalah pemimpin bagi diri kita masing-masing. Jadilah pemimpin yang adil, yang selalu membawa diri ini kepada kebaikan. Itulah pemimpin yang adil, membawa yang dipimpinnya untuk selalu berbuat kebaikan, menghindarkan dari hal-hal yang membawa keburukan. Seperti beribadah yang taat, menghadiri majelis-majelis ilmu, berbuat baik kepada setiap orang terutama kepada orang-orang terdekat-orang tua, keluarga, sahabat-, dan lain sebagainya. Itulah pemimpin yang adil. Dan pemuda yang mengerti pasti bisa menjadi pemimpin yang adil.

2. Pemuda yang taat ibadah hanya kepada Allah swt.

Saudaraku yang diberkahi Allah, sungguh beruntung bagi orang-orang yang senantiasa untuk taat beribadah kepada Allah swt. Terutama kita, sebagai pemuda. Sungguh Allah akan memberikan banyak pahala kepada pemuda yang taat beribadah kepada-Nya, dibanding orang tua yang taat. Wajar saja, karena ujian (godaan)-nya lebih banyak dan dahsyat kepada pemuda. Seperti jaman sekarang, banyak sekali pemuda yang terlalaikan oleh teknologi, sinetron televisi, dan lainnya. Saat ini, pagelaran piala dunia di Afrika telah membuat pemuda lalai untuk shalat Maghrib dan ‘Isya, apalagi jadwalnya yang pukul 01.30 waktu Indonesia barat, sebagian telah alai untuk menunaikan qiyamul lail. Padahal waktu-waktu qiyamul lail adalah kesempatan kita untuk berkhalwat dengan Allah swt. Waktunya Allah mendengarkan doa-doa kita lebih dekat, karena waktu itu, Allah turun ke langit bumi-jarak terdekat antara langit dan bumi-.. semoga kita terus berusaha untuk meningkatkan ketaatan ibadah kita kepada Allah swt. Terlebih, sebentar lagi kita akan memasuki bulan penambangan pahala, bulan Ramadhan 1431 H. semoga Allah RIDHO menyampaikan kita kepadanya.

3. Pemuda yang terpaut hatinya kepada Masjid-masjid

Saudaraku yang mudah-mudahan selalu mendapat RIDHO Allah swt. Lagi-lagi Allah memberikan hadiah istimewanya itu untuk pemuda. Sungguh Allah memberikan nikmat yang banyak kepada para pemuda yang patut kita syukuri. Saudara pembaca, Allah akan memberikan Naungan-Nya di saat tidak ada lagi naungan kecuali dari-Nya kepada pemuda yang hatinya terpaut pada masjid. Dimana pun ia berada, sedang apapun ia beraktivitas, namun saat terdengar panggilan Allah swt.-adzan-, maka ia akan segera memenuhi panggilan tersebut. Tidak hanya untuk menunaikan shalat fardhu saja, namun juga untuk memakmurkan masjid-masjid Allah dengan mendawamkan tilawah Al-Qur’an, mengkaji hadits, kaji tafsir, mengajarkan pelajaran bermanfaat-terutama ilmu Islam- dan lain sebagainya. Dalam haditsnya, tertulis masaajida, yang artinya masjid-masjid (jamak), jadi kita tidak hanya saja memakmurkan masjid yang ada di sekitar rumah kita, namun terlebih kita harus berusaha memakmurkan masjid dimana pun kita berada. Baik sedang di perjalanan, atau sedang ada di luar kota tempat kita tinggal. Saudara pembaca, selamat memakmurkan masjid. Selamat menikmati jamuan Allah swt.

4. Pemuda yang bersedekah secara bersembunyi-sembunyi

Saudara pembaca, Rasulullah saw. adalah teladan kita semua, beliau juga adalah orang yang paling dermawan. Terlebih di bulan Ramadhan, kebaikan sedekahnya lebih cepat dibanding angina yang berhembus. Kita juga sepatutnya dapat mendermakan sedekah kepada yang membutuhkannya. Dan sedekah yang utama adalah sedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga (ibaratnya) tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Ini menggambarkan tentang makna keikhlasan hati orang yang bersedekah. Sesungguhnya tidak ramai orang yang dapat menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya melainkan akan terdapat juga perasaan riya’ dan ingin menunjuk-nunjuk supaya mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang ramai atau sekurang-kurangnya ada orang yang mengetahui kebaikan yang dilakukannya itu. Sesungguhnya, sikap tersembunyi-sembunyi akan menimbulkan keikhlasan dan menjauhkan sifat riya’, insya Allah..

5. Dua pemuda yang bertemu dan berpisah karena Allah

Weish, tunggu dulu…ini buka antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, namun saudara se-iman. Sesame ikhwan, atau sesama akhwat. Inilah yang menjadi usaha bagi yang sudah mempunyai kelompok rutin pekanan. Ia bertemu untuk merekatkan ukhuwah, bersama-sama berniat karena Allah untuk mencari ilmu, saling mengingatkan dalam kebaikan, ketaatan dan lainnya. Ia berpisah karena Allah untuk menyebar kebaikan kepada orang lain yang lebih banyak. Bersyukurlah, wahai saudara pembaca yang sudah mempunyai kelompok pertemuan. Allah akan memberikan pahala yang besar bagi orang-orang yang berkasih saying dan saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran. Betapa Allah memberikan pahala kepada dua orang yang bertemu dan berpisah karena-Nya, apalagi lebih dari dua orang. Perbanyaklah saudara kita.

6. Pemuda yang menolak rayuan wanita untuk berzina

Saudaraku, sungguh Allah Maha Tahu, ujian demi ujian yang kita lalui pastilah Allah akan memberikan imbalan yang setimpal jika kita dapat melalui ujian tersebut dengan baik dan benar menurut Allah swt. Dikisahkan seorang pedagang karpet pada jaman Rasulullah, yang juga sahabat beliau. Ia menjual karpetnya secara keliling. Karena saking ramah dan baik dan tampannya pedagang tersebut, maka hampir setiap hari ia dapat menjual karpet-karpetnya. Suatu hari di suatu daerah, karpet dagangannya belum ada yang membeli. Beberapa saat kemudian ada seorang gadis cantik yang menghampirinya. Ia berpura-pura akan membeli karpetnya jika pedagang ini ikut ke rumahnya. Maka, ia pun mengikuti karena tidak tahu niat jahat perempuan ini. Setelah mereka tiba di rumah, sang perempuan tersebut berbicara kepada pemuda tampan itu untuk berzina dengannya. Secara spontan, lelaki itu kaget dan menolak ajakannya. Beberapa saat kemudian ia mempunyai ide. Ia meminta izin ke kamar mandi. Secara tiba-tiba, si perempuan itu kaget melihat sang pemuda pedagang karpet itu sudah terlumuri kotorannya sendiri. Ya, sang pemuda melumuri badannya dengan kotorannya sendiri dengan tujuan supaya wanita tidak ingin berzina dengannya. Karena baunya, maka wanita itu pun mengusir pemuda penjual karpet itu. Sepanjang perjalanan pulang banyak yang mengganggapnya orang gila dan bau terhadapnya. Sang Pemuda bergegas mandi dan membersihkan dirinya dengan bersih. Saat sudah mandi dan berkemas untuk melanjutkan dagangnya, banyak sahabat lain dan orang-orang di sekitarnya mencium bau harum seperti parfum kasturi. Bahkan dari jarak yang jauh. Setelah Rasulullah mengetahuinya, beliau dan para sahabat menjulukinya sebagai Sang “Al-Misk”, yang harum seperti parfum surga. Dari peristiwa itu, sampai meninggalnya-bahkan sampai di surga, sahabat itu akan tetap harum kasturi.. (al-hadits). Itulah balasan dari Allah swt. Kepada orang-orang yang mampu menjaga diri dan kehormatan hidupnya.

7. Pemuda yang mencucurkan air mata saat shalat malam.

Saudara pembaca, ada lagi satu peristiwa yang cukup menggugah kita, yang patut ditafakuri oleh semua. Cerita ini pula yang menjadi sebab turunnya (asbabul nuzul) Qur’an Surat Ali Imran ayat 190-191. Pada suatu subuh, Bilal bin Ra’bah memanggil Rasulullah saw. Karena pada Subuh tersebut tidak seperti biasanya, Rasulullah belum dating-datang untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Setelah Bilal menghampiri, ia mendapati Rasulullah sedang menangis tersedu-sedu. Rasulullah saw. Bercerita kepada Bilal bahwa ia baru menerima wahyu dari Allah swt. Melalui Malaikat Jibril. “Inna Fii Kholqissamaawaatii wal ardh, wakhtilaa fillaili wan nahaari la aayatilliuulil albaab”; Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam pada malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Saat itu Bilal bertanya, bukankah engkau sudah berakal Yaa Rasulullah?? Lalu Rasulullah saw menjawab: “memang Allah memberiku kelebihan dan akal yang dapat menerjemahkan ayat ini, tapi bagaimana dengan umatku??” lalu Bilal pun hanya terdiam dan ikut menitikkan air matanya.

Saudara pembaca yang mulia dan saya banggakan, Allah menyediakan waktu-waktu yang mustajabnya do’a, saat itulah semestinya kita dapat berkomunikasi langsung denganNya melalui dzikir-dzikir dan do’a-do’a kita. Sungguh Allah akan mengabulkan doa-doa itu. Saudara pembaca, berdo’alah kepadaNya, memohon apa yang kita minta. Salah satu waktu mustajab itu adalah dengan qiyamullail, karena waktu itu Allah akan turun ke bumi, menjadi saksi bahwa hambaNya mendekatkan diri kepadaNya di saat yang lain sedang terlelap tidur.

Ingatlah, ada dua tetesan yang haram tersentuh neraka. Tetesan air mata karena tangisan kepada Allah saat shalat malam dan tetesan darah syuhada yang berjihad di jalan Allah…

Itulah saudara pembaca, tujuh hal yang menjadikan kita mendapatkan hadiah, kado special dari Allah swt. Semoga kita dapat menjadi salah satu golongan di atas, menjadi hamba Allah yang mendapat naunganNya di saat tidak ada lagi naungan Allah kepada siapa pun. Perbanyaklah ketaatan (ibadah) kita kepada Allah.

Saudara pembaca, berbaiksangkalah kepada Allah swt.

http://www.dakwatuna.com/2011/tujuh-golongan-yang-mendapat-kado-istimewa-dari-allah/

Tuesday, January 4, 2011

Hikmah Kajian Bulanan - Ahad 02 January 2011


Tak ada yang tidak akan meninggalkan dunia yang fana ini.
Ketika datang ajal.
Semuanya kita tinggalkan.
Tak ada yang dapat kita bawa ke alam kubur.

Kita yang telah menghabiskan seluruh umur kita,
sepanjang tahun untuk bekerja,
mengumpulkan materi itu,
akhirnya akan kita tinggalkan.
Kita akan berpisah dengan semua itu.
Isteri, anak-anak,rumah, kendaraan, dan bentuk-bentuk harta-benda lainnya, pasti akan kita tinggalkan.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Dalam surat Al Qashash (QS. 28 :77) tersebut Allah menganugrahkan kebahagiaan negeri akhirat  yang kekal abadi  dengan tidak melupakahan kebahagiaan dan kenikmatan dunia akan tetapi manusia malah cenderung mengejar dan mementingkan serta terlena dan terpedaya dengan kemaslahatan (urusan dunia) dan melupakan kebahagian akhirat yang kekal.
 

Dalam setiap episode kehidupan yang kita lalui saat ini, terasa begitu berat dengan derasnya Dunia Informasi
Yang mempengaruhi keseharian atau kerutinitasan kita dalam beramaliah sehari-harinya.

Karena begitu mudahnya kehidupan hedonisme, lifestyle dst menghampiri dan mempengaruhi dalam Pribadi/Individu, Keluarga, Lingkungan dst.

Hal ini yang terus membuat aqidah umat Islam meleleh. Seperti es yang meleleh terkena udara panas. Perlahan aqidah umat terkikis. Aqidah menjadi hilang dari dada umat. Tidak ada lagi furqon (pembeda), antara mukmin dan musyrik

Sehingga banyak kita temukan potret-potret kehidupan yang terselimuti dengan kegelapan dan kegersangan.

Kegersangan Hati itu yang kini sangat banyak ditemukan, dirasakan dan tercermin dalam diri kita.
Untuk itu ada 4 hal yang mari kita sama-sama renungkan, dengan apa dan bagaimana kita bermuamalah dengan Allah SWT

1.Sisa Waktu
                Semua Ibadah kita dilakukan sebagai sampingan dikala ada waktu luang.
                Bagimana digambarkanya bayak shalat dikala injure time……

2.Sisa Tenaga
                Ibadah yang kita lakukan hanyalah kala kita sempat, terlihat dari sepinya Ta’lim yang diadakan di Al Furqon
                Dari total jumlah muslim dikomplek Tridaya Indah 2, yang hadir tidak lebih dari 40 Orang

3.Sisa Harta
Zakat, Infaq & Shadaqoh kita tempatkan dalam no urut kesekian, sesuatu yg menjadi kebiasaan (Rekreasi, Hobist dst ) lebih diutamakan dan berlebih-lebihan.Bagaimana diilustrasikan seseorang yang kala muda & berjayanya, untuk yang berhubungan dengan sumbangan masjid dan kegiatan social lainnya.Tidak mendapatkan tempat sebagaimana semestinya. ( hanya SISA )

4.Sisa Umur
                Giat beribadah dikala waktu senja, sehingga kontribusi ke Umat pun dapat sisanya, tidak dikala
muda & jayanya. Ini sangatlah disayangkan dimana banyak amalan-amalan sosial yang tidak dapat
diraih &  Umat mengalami kemunduran
Karena yang aktif jadinya hanya orang-orang Tua saja, yang muda sedang asyik masyuk dengan
dunia nan gemerlap ( sihirnya dunia ).

Hikmah dalam surat Al-Baqarah

1.       Untuk mendapat Ilmu terkalahkan dengan mendapatkan dunia (harta)
Bagaimana digambarkan umat sudah banyak melupakan Hakekatnya dalam menentukan Tujuan Hidup ( yang sesungguhnya Kampung Akhirat )

2.       Banyak bertanya tanpa adanya amalan
Digambarkan bagaimana umat Yahudi dengan detailnya menanyakan bentuk rupa Sapi yang bisa menghidupkan orang mati.
Sehingga terasa menyulitkan dan ujung-ujung tidak juga melakukan amalannya

3.       Allah beserta orang-orang yang sabar
Bagaimana digambarkan Allah SWT menginginkan Hambanya lulus dalam Ujian, sehingga akan didapatkan buah Manisnya Iman
Karenanya Orang yang beriman akan selalu dalam koridor Ujian dalam semua aktivitas (bernilai Ibadah) ini yang terasa oleh kita seakan-akan tiada berujungnya.
                
Tatkala Thalut keluar membawa tentaranya:
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir."

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata:
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

Kajian : Ustadz Zaenal Mutaqin Lc

1.Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan ?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil". (2:67)  

2.Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". (2:68)  

3.Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." (2:69) 

 4.Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." (2:70)  

5.Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (2:71)  

6.Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti. (2:73)  

7.Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mu'jizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. (2:92)  

8.Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengar tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat). (2:93)

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (2:247)

Sunday, January 2, 2011

Sikapi Tahun Baru Islam, 'Abaikan' Tahun Baru Masehi!

Mari kita sikapi momentum pergantian tahun baru Islam 1 Muharam 1432 Hijriyah (7 Desember 2010) dengan muhasabah dan mengambil hikmah Hijrah. Untuk perayaan tahun baru Masehi 1 Januari 2011, umat Islam tidak perlu melakukan apa pun selain menghormati ritual keagamaan kaum Kristen itu.

Sebentar lagi kita memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam 1432 H, Selasa 7 Desember 2010. Mari sikapi momentum tersebut dengan muhasabah (introspeksi diri), misalnya apakah ibadah atau amal saleh kita selama ini sudah memenuhi syarat untuk diterima oleh Allah SWT? Yaitu, dilandasi keimanan, ilmu, ikhlas, dan sesuai dengan sunah Rasul? Bekal amal saleh apa yang sudah kita miliki untuk kehidupan di akhirat kelak?

Benar, muhasabah harus kita lakukan sepanjang waktu, hari demi hari, bahkan detik demi detik. Tapi setidaknya, pergantian tahun baru Islam menjadi “momentum tahunan” muhasabah.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18).

Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani: “Setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”.

Umar bin Khottob mengatakan: Hasibu anfusakum qobla antuhasabu. “Evaluasilah (hisablah) dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)”.

Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 Hijriya, kita juga harus memaknai peristiwa hijrah Rasulullah Saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah yang menjadi awal perhitungan kalender Islam (makanya disebut Kalender Hijriyah, dari kata hijrah).

Di Madinah, Rasul membangun tiga fondasi masyarakat Islami menuju daulah Islamiyah: masjid, ukhuwah Islamiyah, dan perjanjian damai dengan semua warga Madinah (Piagam Madinah). Maka, mari makmurkan masjid, semarakkan aktivitas ibadah dan dakwah di dalamnya, eratkan ukhuwah sesama Muslim, dan kembangkan toleransi beragama tanpa merusak akidah.

Sabda Nabi Saw, Muhajir (orang yang berhijrah) dalam makna luas, adalah dia yang meninggalkan larangan Allah SWT. Al-Muhajiru man hajara ma nahallahu ‘anhu.

Pada 1 Januari 2011 kita juga memasuki tahu baru Masehi. Tapi itu “bukan urusan kita” karena kalender Masehi “milik” umat Kristen.

Perayaan Tahun Baru Masehi merupakan bagian dari rangkaian hari Natal atau satu paket dengan hari Natal. Makanya, umat Kristen menyatukan selamat Natal dengan Tahun Baru: Merry Christmas and Happy News Year.

Karena perayaan Tahun Baru Masehi merupakan ritual umat Kristen, kaum Muslim wajib menghormatinya saja, tanpa harus ikut serta atau turut merayakan Tahun Baru Masehi.  

Wallahu a’lam.*
www.warnaislam.com